Tunanganku .... HANTU?

Tunanganku .... HANTU?
21. Menuju rumah masa lalu


__ADS_3

Chapter 21


___________


Dengan perasaan campur aduk, Bu Ika akhirnya menyerahkan secarik kertas pada Fredy, yang berisikan alamat tempat tinggal Tante Neni saat Bu Ika melihatnya melakukan Ritual itu.


"Frey, Tante sebenarnya takut untuk mencampuri masalah ini lagi. Kamu tahu kan, ini bukan masalah yang main-main! Ini berhubungan sama makhluk ghaib, loh!" ujar Bu Ika seraya bergidik ngeri.


Fredy diam sejenak, kemudian dia tersenyum kecil. "Saya harap Tante jangan terlalu khawatir, Saya minta bantu doanya saja ya, Tan. Semoga semuanya berjalan lancar."


Bu Ika tersenyum kecil. "Amin, tante doakan ya, Frey." katanya.


Bella, Bu Ika dan Pak Setyo menatap kepergian Fredy dari halaman Rumah mereka. Fredy benar-benar pergi sendirian menuju Alamat yang sudah diberitahukan Bu Ika tadi.


Pak Setyo sempat ingin ikut mengantar Fredy, tapi karena Bu Ika bersikap tak rela, sehingga Fredy merasa tak enak hati dan menolak bantuan Pak Setyo.


Bella menatap kepergian Fredy yang sejatinya pergi bersama Felix, tentunya hanya dialah yang bisa melihat jika sebenarnya Fredy pergi berdua bersama Felix.


Bella melepas kepergian mereka dengan berat hati, Felix tetap banyak diam sejak beberapa hari terakhir.


Bella merasa sesuatu yang aneh telah menimpa hatinya seiring berubahnya sikap Felix yang menjadi tidak sehangat dulu.


"Kenapa aku takut dia benar-benar gak akan kembali? Apa aku memang sudah jatuh cinta padanya?" batin Bella merasa tak rela. Dia melambaikan tangan pada mobil Fredy yang berangsur-angsur sudah menjauh dari pandangannya.


...👻👻👻👻👻👻👻...


Hampir 1 setengah jam Fredy mengendarai mobilnya, membelah jalanan dan mengikuti arah GPS sesuai rute yang sudah dia atur sebelumnya. Kini tibalah dia dan Felix pada sebuah rumah asri yang terletak tidak jauh dari pusat Kota.


Fredy menatap Felix yang duduk disebelahnya. Felix hanya menatapi rumah yang dulu pernah ditempatinya bersama sang Mama.


"Are you okay?" tanya Fredy pada saudara kembarnya itu.


Felix menggeleng. "I'm not okay, aku sudah ingat ini adalah rumah yang pernah ku tempati dulu bersama Mama," jawabnya murung.


Fredy menghela nafas panjang. "Kita masuk?" tanyanya ragu.


"Ya. Kita sudah sampai disini. Jangan ada yang terlewatkan," kata Felix yakin.


Mereka berdua pun turun dari mobil dan mendatangi seorang tukang kebun yang terlihat sedang memangkas beberapa tanaman yang sudah nampak meninggi dengan tunas-tunas baru yang berkeliaran kemana-mana, sudah terlihat tidak rapi.

__ADS_1


"Permisi, Pak." ujar Fredy. Karena hanya dialah yang bisa nampak dimata manusia biasa.


Tukang kebun setengah baya itu pun menoleh ke arah Fredy dengan tatapan datar. "Siapa, ya?" ujarnya.


"Saya Fredy, kebetulan saya ingin bertemu dengan pemilik rumah ini. Apa orangnya ada?" tanya Fredy memulai percakapan. Dia mengira mungkin rumah ini sudah dijual oleh Mama Neni dan ditempati oleh orang lain. Sehingga dia ingin bertanya pada pemilik rumah mengenai siapa dan dimana alamat Mama Neni sekarang, barangkali mereka mengenalnya dan mengetahui perihal itu.


"Pemilik rumah ini, jarang kesini, Den," ucap pria paruh baya itu.


"Kalau boleh tahu, alamatnya dimana, ya? Saya sangat ingin bertemu pemilik rumah ini. Ada sesuatu yang penting dan mendesak."


Tukang kebun itu memperhatikan Fredy dengan seksama, lalu mulai berujar dengan ekspresi yang tetap datar.


"Saya kurang tahu alamatnya, Den. Beliau sesekali saja kesini," jawabnya.


Fredy menghela nafas panjang.


"Tidak semudah itu, Bro..." celetuk Felix yang melihat raut wajah aneh Fredy.


Fredy menoleh ke Felix dan mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kalau nama pemilik rumah ini, Bapak tahu tidak, ya?" tanya Fredy beralih lagi ke pria paruh baya.


Seketika itu juga Fredy dan Felix saling memandang satu sama lain. Ternyata rumah ini belum dijual oleh Mama Neni dan ada kemungkinan Mama mereka akan bertandang ke Rumah ini suatu saat, entah kapan tapi mereka yakin pasti akan kesini.


"Coba tanya, kapan biasa mama datang berkunjung!" saran Felix cepat.


Fredy mengerti dan menanyakan hal itu pada Pria paruh baya.


"Kalau soal itu sih gak tentu, Den. Tapi..." Pria itu tampak berpikir sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. "Biasanya Ibu Neni sering datang di awal bulan untuk memberi kami gaji."


"Memangnya berapa orang yang kerja dirumah ini?" tanya Felix lagi.


"Cuma saya sama Istri saya, biasanya bersih-bersih Rumah doang, Den."


"Oke, Pak. Terima kasih infonya ya, Pak." Felix menyalami Pria itu sembari menyelipkan uang ditangannya.


"Eh, makasih, Den." ujar Pria itu semringah- saat sadar Fredy memberinya beberapa lembar uang merah.


"Iya, Pak. Tapi boleh saya tanya satu hal lagi gak, Pak?"

__ADS_1


"Apa itu?" Si Pria tua mulai berwajah ramah dan tak sedatar diawal tadi.


Felix sedikit tersenyum karena membaca pikiran Fredy yang mengatai si Bapak tua ternyata matre. Ya iya lah, siapa juga yang gak suka uang?


Jika bersama Fredy, Felix hanya bisa membaca pikiran saudara kembarnya itu, tidak bisa masuk ke pikiran orang lain.


Sementara jika dia disamping Bella, maka dia bisa leluasa membaca isi kepala orang lain yang tentunya berjarak dekat dengan Bella.


Maka saat ini, Felix tidak bisa membaca pikiran si Tukang kebun. Dia hanya bisa membaca pikiran orang lain jika ada Bella, dan dia mulai merasakan perbedaannya sekarang.


Kalau Bella ada disini, mungkin dia bisa membaca pikiran sang Tukang kebun.


Felix kembali memfokuskan pikiran pada kalimat pertanyaan pamungkas yang akan dilontarkan Fredy setelah memberi si Tukang Kebun uang.


"Apa bulan ini Bapak sudah gajian? Tanggal berapa pastinya, Pak? Karena saya ingin bertemu dengan Ibu Neni." kata Fredy mantap.


Pria setengah baya itu agak ragu, lalu dia mulai menjawab. "Mungkin lusa, tanggal 5. Biasanya kami gajian tanggal 5," katanya.


Fredy tersenyum miring. "Terima kasih, Pak," ujarnya lalu berjalan menuju mobil, diikuti oleh Felix.


"Siapin mental, lusa kita kembali kesini," kata Fredy yang tersenyum penuh arti pada Felix.


Felix mengangguk kemudian dia tersenyum kecil.


Fredy memilih tidak kembali ke Rumahnya ataupun ke Rumah orangtua Bella. Dia memilih check in di hotel terdekat, agar lusa bisa datang kembali dan bertemu dengan Mama Neni yang selama ini belum pernah dia temui secara langsung dalam jangka waktu yang sudah terlalu lama.


"Ma, aku pastikan akan bertemu dengan Mama kali ini," ujar Fredy yang dibalas Felix dengan senyuman kecut.


Felix tahu, Fredy menyimpan perasaan rindu pada sang Mama. Fredy pasti sudah lama merindukan sosok seorang Mama. Tapi, Fredy juga membenci sikap dan perbuatan yang dilakukan oleh Mama Neni.


Lain hal dengan Felix, dia tidak merindukan Mamanya. Perasaan kasih dan sayangnya pada Mama, sudah hilang dan lenyap, sejak dia mengetahui bahwa Mama me-numbal-kan-nya untuk sebuah ritual sesat.


Fredy dan Felix sama-sama tidak sabar menunggu lusa, hari dimana mereka bisa bertemu dengan Sang Mama setelah sekian lama.


Apa yang kira-kira akan Mama lakukan saat bertemu Fredy?


Dan apa Mama juga bisa melihat Felix?


...TBC......

__ADS_1


__ADS_2