Tunanganku .... HANTU?

Tunanganku .... HANTU?
25. Sebuah pintu


__ADS_3

Sore itu, akhirnya Fredy duduk di sebuah beranda yang ada disamping rumah besar kepunyaan Neni. Ia berharap ibunya itu tidak curiga dengan niat kedatangannya ke rumah ini.


"Kau sedang apa, Frey?" Neni duduk dihadapan Fredy dan menyajikan segelas jus jeruk untuknya.


"Aku sedang bersantai saja. Sekalian memantau pekerjaanku," jawab Fredy sembari menunjukkan sekilas tab yang ia geluti saat ini.


"Apa mendiang Papa mewarisimu bakat berbisnis?"


"Begitulah," kata Fredy datar. Ia tidak tertarik untuk mendekatkan diri dengan Neni, walau sebenarnya keinginan itu sempat muncul sebelum pertemuan mereka hari ini.


Neni diam, dia seakan larut dengan pemikirannya sendiri, entahlah wanita itu sedang memikirkan apa. Tapi dari penglihatan Fredy, setiap membahas tentang mendiang ayahnya, Neni berubah jadi pendiam dan seperti tengah memikirkan sesuatu.


"Kenapa dulu mama dan papa berpisah?" tanya Fredy berlagak tak tahu menahu.


"Kami sering berbeda komitmen dan pendapat. Pertengkaran sering terjadi dalam rumah tangga kami, tapi mama sangat mencintai Papa kalian, Frey..."


Fredy tersenyum miring. Dusta apa lagi yang tengah di karang oleh Neni? Pikirnya.


"Jika memang begitu, seharusnya tidak berpisah," sarkas pemuda itu.


"Kalian anak muda, tidak akan mengerti permasalahannya." Neni menjawab dingin dan Fredy mengendikkan bahu acuh.


"Apa Mama tinggal disini sendirian? Bukankah rumah ini terlalu besar untuk ditempati sendiri?"


"Mama disini tinggal bersama lima orang pelayan. Mama tidak sendirian."


"Apa Mama juga tidak kesepian? Kenapa memilih hidup bersama pelayan padahal seharusnya mama punya dua orang putra?" sindir Fredy kemudian.


Neni terhenyak, ia menatap Fredy lama tapi tak kuasa melontarkan kata-kata untuk menjawab pertanyaan sang putra. Pada akhirnya Neni hanya berdehem pelan dan menjawab singkat.


"Felix sudah tiada dan kamu sudah ikut Julian sejak dulu. Mungkin ini memang takdir buat mama," katanya seperti wanita yang sangat berlapang dada. Mendadak Fredy merasa mual dengan ibunya sendiri.


Bersamaan dengan itu, ponsel Fredy berdering. Itu adalah panggilan dari Bella. Fredy mendengkus pelan. Kenapa Bella harus meneleponnya disaat seperti ini, bagaimana jika Neni tahu kalau Fredy berhubungan dengan Bella yang dulu pernah bertunangan dengan Felix?


"Hallo, Bell?" Fredy tidak mau Neni curiga jika ia memanggil Bella dengan sebutan 'Ara'.


"Gimana? Kok gak ada ngabarin aku, sih?" tanya Bella dari sebrang panggilan.


"Belum, nanti aku akan mengabarimu."


"Aku tidak bisa hanya menunggu disini, aku ingin ikut membantu kalian," desak Bella.


"Sudah, tetaplah begini. Aku sibuk sekali. Nanti aku kabari."


Buru-buru Fredy memutus panggilan itu tanpa berniat mendengar jawaban lagi dari Bella.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Neni. "Pacar kamu, ya?" tebaknya.


Fredy menggeleng. "Bukan, orang bank nawarin kartu kredit," jawabnya asal.


Neni terkekeh pelan. "Kalau kamu punya pacar juga gak apa-apa, Frey. Pantas saja, bahkan kalau mau menikah juga sudah cocok," katanya.


Fredy tak menjawab, ia kembali menekuni tab yang sejak tadi ia pantau sebagai alasan kesibukannya didepan Neni. Padahal saat ini Fredy sedang memikirkan bagaimana cara agar Felix bisa ikut masuk ke rumah ini?


"Aku mau ke toilet. Selain di kamar yang ku tempati, dimana lagi toiletnya?" tanya Fredy pada Neni.


Neni menunjuk sebuah arah dan Fredy pun menganggukinya.


Fredy berjalan pelan sambil menatapi satu persatu ruangan yang ia lewati. Tentu ia bukan mau ke kamar mandi, melainkan mencari alasan agar bisa memasuki kawasan rumah lebih dalam lagi.


Sampai akhirnya, Fredy mengernyit heran saat melewati sebuah pintu yang tampak berbeda.


Disatu baris ruangan itu ada empat pintu dan kesemuanya berwarna putih, hanya satu pintu itu saja yang berwarna emas dan desain pintunya juga berbeda dari yang lain. Hal itu justru membuatnya terlihat lebih menon-jol ketimbang ruangan dengan pintu biasa.


Dengan berjingkat pelan, Fredy mengendap-ngendap seperti pencuri. Ia mencoba menekan handle pintu emas untuk mengetahui apa isi didalam ruangannya, sayangnya pintu itu ternyata di kunci itu.


"Sial," desisnya kesal. Fredy yakin ada sesuatu yang tersembunyi di balik pintu berwarna emas ini.


Sepersekian detik berikutnya, Fredy merasa sesuatu yang sangat cepat melintas di belakang tubuhnya.


Srrrrtt ....


Plak!


Fredy terkesiap saat merasa punggungnya ditepuk disaat yang sama.


"Ngapain? Toiletnya disana, bukan disini, Frey...." Neni sudah ada dihadapan Fredy sekarang.


Fredy tidak bisa menutupi raut wajahnya yang mendadak te-gang. Sementara Neni yang melihat reaksi pemuda itu, justru langsung menipiskan bibir.


"Ah, aku pikir disini," kata Fredy beralasan.


"Mama bilang ke kanan, bukan ke kiri, Frey..."


"Iya, Maaf." Fredy langsung berlalu menuju arah toilet yang sesungguhnya.


Sesampainya didalam toilet, Fredy mencuci wajahnya di wastafel. Mungkin hal itu bisa mendinginkan pikirannya. Jujur saja, jauh dalam dirinya tetaplah merasa takut saat harus menghadapi hal mistis semacam ini.


Tindakan Fredy yang mendatangi kediaman Neni yang sudah jelas-jelas ia ketahui sebagai pemuja sesat, memanglah sebuah kesalahan. Tapi, mau tak mau ia tetap harus melakukannya. Dan hal semacam ini pasti akan ia rasakan cepat atau lambat.


"Aku gak akan bisa ngelihat makhluk itu saat dia tidak memakai raga Felix," batin Fredy mulai berpikir.

__ADS_1


Satu-satunya cara untuk melihat ada atau tidaknya makhluk itu dirumah ini adalah dengan cara menghadirkan roh Felix yang kini masih menungguinya di dalam mobil.


"Atau, aku harus menghadirkan anak indigo yang bisa melihat roh jahat itu," kata Fredy pada dirinya sendiri.


"Ara? Tidak mungkin, mata batinnya sudah ditutup...."


Fredy pun keluar dari area toilet dan kembali mendapati Neni yang menungguinya.


"Lama sekali?" tanya Neni sambil menyunggingkan senyum tipis yang baru Fredy sadari bahwa senyuman itu seperti memiliki misteri tersendiri.


Fredy bergidik sekilas. "Ya," sahutnya tanpa memberi alasan logis.


Fredy kembali ke beranda samping rumah. Melihat senyuman Neni tadi, kembali membuat Fredy merinding.


Apa ini semua sengaja dilakukan wanita itu agar Fredy mengurungkan niat untuk menginap dirumah ini?


Fredy tidak punya pilihan lain, tak mungkin dia membiarkan Felix terus menunggunya tanpa kepastian disana.


Dengan gerak sigap, Fredy pun keluar dari rumah itu.


"Mau kemana? Katanya mau nginap disini?" Neni mendapati Fredy yang hendak keluar rumah. Ia kira Fredy pasti sudah merasa tak betah disini.


"Aku mau ambil barang di mobil. Ketinggalan. Aku pasti nginap disini, kok. Mama tenang aja," kata Fredy berlagak menenangkan Neni, padahal ia semakin yakin jika wanita itu sedang berniat untuk membuatnya tak nyaman.


Sesampainya di mobil, Felix langsung menatapi Fredy. Tepatnya dia membaca apa yang tengah Fredy pikirkan sekarang-- mengenai rumah sang Mama.


"Ada apa?" tanya Felix berlagak tidak mengetahui apapun, padahal ia sudah tau kegusaran Fredy saat ini.


"Aku belum mendapat apapun. Kamu mau menunggu disini sampai berapa lama?" tanya Fredy.


"Kalau begitu, aku ikut kesana," putus Felix.


"Kalau ternyata roh jahat itu berada dirumah itu? Bagaimana?"


"Menurutmu? Apa dia ada disana?" Felix balik bertanya padahal ia tahu jawaban Fredy bahkan sebelum sang saudara menjawabnya.


"Mana ku tahu, aku tidak punya kemampuan untuk bisa melihatnya, jika dia tidak menggunakan ragamu, pasti aku tidak bisa mengidentifikasinya."


...TBC ......


Kirim dukungan untuk Novel ini ya. Dengan cara tap love dan jadikan favorit. Kirim Vote, hadiah, like, dan tinggalkan komentar 🙏


Aku kasi visual Felix dan Fredy ya... karena mereka identik, jadi dua-dua wajahnya serupa🌹🥰


__ADS_1




__ADS_2