
Chapter 6
____________
"Kita teman dan ku putuskan tidak akan takut pada temanku," jawab Bella serius, tapi jawaban Bella berhasil membuat senyap terjadi dan saat Bella merasa sunyi menghampiri tiba-tiba angin berhembus dengan sangat kencang, gorden kamarnya sampai beterbangan dan berkobar-kobar ke atas.
Seketika itu juga Bella merasa ketakutan. Apa yang terjadi? Apa ada yang salah dengan ucapannya tadi? Bukankah ia sudah ingin menjalin hubungan yang baik dengan sosok itu?
"Ada apa? Apa kamu marah? Apa aku punya kesalahan?" Bella bertanya pada sosok itu yang tampak diam saja di langit-langit kamar.
"Maafkan aku jika aku salah. Tolong jangan begini, aku takut..." Bella memohon sampai matanya panas ingin mengeluarkan airmata sangking takutnya.
Tiba-tiba angin yang bertiup kencang disekitar ruangan kamarnya itu pun berhenti. Barang-barang, termasuk tugas kuliah yang tadi Bella kerjakan--berserak di lantai, setelah sebelumnya beterbangan karena diseret angin yang kencang tadi.
Fiuhh.. Bella bernafas lega setelah keadaan kembali kondusif, dipungutnya buku dan jurnal tugasnya, lalu ia menyusun kembali diatas meja belajar.
Bella menutup jendela kamar yang sampai terbuka karena angin aneh yang muncul tiba-tiba tadi. Bella semakin yakin jika itu tadi adalah ulah makhluk abstrak itu.
"Lain kali, berbicaralah dengan benar!" Tiba-tiba sosok itu berbicara setelah sempat diam sedari tadi. Nada suaranya mengisyaratkan ada aura ketidaksukaan yang kental.
"Apa ada yang salah dengan ucapanku tadi?" tanya Bella akhirnya, gadis itu mengernyit heran.
"Ara, sejak kapan kita berteman? Kita tidak menjalin hubungan pertemanan. Kamu adalah tunanganku! Tunanganku, Ara!!!"
Bella mendongak ke arah langit-langit, ia ingin protes tapi sebelum ia mengeluarkan protesnya, sosok itu kembali bicara.
"Aku berhak marah jika tuananganku hanya menganggapku teman dan aku berhak marah jika kamu dekat dengan lelaki manapun. Termasuk si Akra itu!" sambungnya.
"Arka..." ujar Bella membenarkan.
"Ya, mau Akra, Cakra atau Arka, terserahlah! Intinya aku tidak suka!! Siapapun lelakinya aku tidak suka."
Bella mendesah pasrah, jelas sudah sosok ini amat pencemburu. Sekarang dirinya bukan lagi miliknya sendiri melainkan sudah dimiliki makhluk bernama Felix ini. Dan Bella harus mencari kebenaran dulu agar terhindar dari sosok Felix. Jika Bella tak tahu kebenarannya, bagaimana bisa ia lepas dari Felix? Jadi untuk saat ini, Bella memilih sabar dan mengiyakan saja apapun ucapan Felix.
"Baiklah. Aku tidak akan membuatmu marah lagi. Maafkan aku," ucap Bella menyerah.
"Gadis bijak... Sekarang tidurlah! Aku akan menjagamu saat tidur dan membangunkanmu besok pagi," ucap Felix.
Bella bergerak menuju ran jang dan menarik selimutnya. Jauh didalam lubuk hatinya masih ada rasa takut, apalagi ia jelas-jelas tahu kalau sekarang, setiap malam, Felix selalu melihatnya ketika ia tidur.
Perlahan-lahan Bella pun mulai terlelap.
"Seandainya didalam hatimu itu tidak ada lagi rasa takut padaku, pasti saat ini kamu bisa melihat wujud asliku dan kita bisa berpelukan sampai pagi," gumam Felix, ia tahu Bella sudah lelap dan tak akan mendengar suaranya.
*
"Bel... Bella ...."
Bella melihat Sera yang baru datang dengan tergesa-gesa.
"Apa?" tanya Bella singkat.
"Arka, Bell.. Arka nge-chat aku di WA. Dia tahu nomorku, Bell. Kamu gak perlu lagi turutin kemauanku untuk cari nomor WA Arka, karena dia sendiri yang lebih dulu menghubungiku."
"Oh..." jawab Bella pendek.
Bella lupa bahkan sangat lupa menceritakan pada Sera-- kebenaran perihal nomor ponsel Arka yang tiba-tiba mengirim pesan pada Sera.
Padahal saat kemarin Bella datang ke kos Sera, selain untuk menjenguk Sera, ia juga berniat untuk mengatakan perihal Arka, tapi Bella lupa dan akhirnya tak jadi bercerita. Mereka malah asyik membahas soal sosok abstrak itu kemarin.
"Kok 'Oh' sih?" Sera memanyunkan bibirnya.
"Arka tahu nomor kamu dari aku," jwab Bella jujur.
__ADS_1
"Dari kamu? Gimana ceritanya?"
"Intinya aku minta nomor WA nya sesuai permintaan kamu, eh malah dia nanyak nomor WA aku. Aku gak mau kasi dia nomorku dong. Aku kasi aja dia nomor kamu," jelas Bella ringkas.
"Jadi, dia chat aku...berpikir kalau itu kamu?" Tiba-tiba nada suara Sera berubah sendu.
"Ya mungkin aja. Memangnya dia bilang apa pas chat kamu?"
"Dia bilang, dia udah merhatiin dari dulu. Dia juga bilang suka." Sera menunduk lesu. "Itu artinya tertuju untuk kamu, dong!" lanjutnya semakin lesu.
"Ser..." Bella ingin menguatkan hati Sera, ia tahu Sera kecewa dan berkecil hati.
"Aku pikir kata-katanya itu untuk aku, nyatanya dia anggap itu nomor kamu, berarti dia kira yang baca pesannya juga kamu dan artinya kata-kata kalau dia suka itu artinya untuk kamu, Bell!" ucap Sera lagi, tangan Sera memainkan ujung kemeja yang ia kenakan, Bella tak enak hati melihatnya.
"Ser, maaf ya. Aku gak tahu dan gak bermaksud..."
Sera menatap Bella lalu mengangguk cepat. "Aku tahu, kok! Kamu gak salah disini, kamu udah usahain cari nomor WA dia buat aku. Terima kasih ya, Bell."
"Kamu gak apa-apa? Soal dia bilang suka yang ternyata untuk aku, juga gak apa-apa, Ser?" tanya Bella.
Sera menggeleng cepat, dalam hitungan menit wajahnya kembali ceria. "Gak apa-apa. Itu hak dia mau suka kamu! Lagian aku masih ada cadangan lain. Jodi... Awwww!" Sera meringis saat Bella menepuk pergelangan tangannya.
"Dasar kamu!" tukas Bella dan mereka tertawa bersama.
"Mana ponsel kamu?" tanya Sera tiba-tiba.
"Buat Apa?"
"Biar aku masukin kontak Arka ke ponsel kamu. Kalian pendekatan lah!" ujar Sera sambil menaik-naikkan alisnya.
"Big No!" jawab Bella secepat mungkin.
"Kenapa?"
"Kenapa?"
"Kamu ini kenapa-kenapa mulu!"
"Ya habisnya kamu gak jelas. Kenapa pula gak boleh dekat sama Arka? Dia suka kamu, dia ganteng, populer dan..
"Shhhh.... udahan muji-mujinya. Aku gak tertarik sama dia. Selain itu juga karena..." Bella tampak ragu-ragu.
"Kenapa? Tunggu... biar aku tebak, ya?" Sera tampak berpikir dengan mengetuk-ngetuk jarinya di dagunya sendiri. "Apa karena makhluk itu?" tanyanya lagi.
Bella menggeleng, walaupun sebenarnya jawabannya adalah iya. "Bukan... aku memang gak tertarik sama Arka," sanggah Bella jujur.
"Oke, tapi aku butuh alasan dong!"
"Bukan tipeku," jawab Bella singkat.
"Terus tipe kamu yang gimana? Yang dewasa gitu? Atau malah yang berondong?"
"Aku suka yang dewasa dan yang jelas tidak seperti Arka."
"Arka juga dewasa."
"Aku gak suka yang seumuran, Sera!"
"Terus maunya yang kayak Pak Satrio, gitu?"
"Ya gak gitu juga! Nanti kalau aku udah ketemu yang sesuai baru aku kasi tau kamu begini... 'Sera, tipeku yang kayak begitu.' Baru deh kamu tahu seperti apa, ya, gak?"
Sera pun manggut-manggut.
__ADS_1
Jam kuliah berlalu begitu saja tanpa sesuatu yang berarti.
Bella kembali dilanda kebingungan. Hari ini ia bertemu dengan Arka, tapi Arka tampak pias setelah melempar senyum ke arahnya. Seketika itu juga Arka yang tadinya mau menghampiri Bella menjadi urung dan pergi ke lain arah. Bella tak masalah jika Arka tak jadi menghampirinya, karena Bella memang tak berharap lebih pada lelaki itu.
Tapi, yang jadi pikiran Bella sekarang adalah kenapa Arka jadi begitu secara tiba-tiba? Bella merasa ini pasti ada kaitannya dengan Felix.
Bella memutuskan langsung pulang ke Kos nya, karena mobil Sera sudah keluar dari bengkel, Bella tak perlu mengantar Sera terlebih dahulu. Mobil Bella langsung terparkir rapi di halaman kos nya.
Bella segera menghempaskan badan ke atas ranjangnya. Ia benar-benar lelah hari ini. Terutama memikirkan wajah pias Arka tadi, ia menjadi merasa tak enak hati.
"Jangan memikirkan lelaki lain!" ucap Felix yang tiba-tiba sudah berada dikamar yang sama. Sosoknya melekat di dinding kamar, tak di langit-langit seperti biasanya.
"Sok tau!" ucap Bella membalikkan badan, ia memunggungi dimana posisi Felix berada.
"Ck! Jangan meragukanku... aku bisa membaca pikiranmu!" jawab Felix dengan nada pongah.
"Benarkah? Kamu tahu semua isi kepalaku?" Bella memutar arah kembali melihat sosok Felix yang abstrak.
"Iya. Aku juga tahu kalau kamu mulai tidak takut padaku. Saat nanti rasa takut itu benar-benar hilang, aku sudah jelas bisa mengetahuinya lebih dulu daripada kamu. Kamu tidak akan menyadarinya nanti."
"Kalau begitu, coba tebak apa yang belakangan ini sering ku pikirkan?"
"Rindu orangtuamu." tebak Felix tepat sasaran.
"Selain itu?" tanya Bella makin penasaran.
"Hmm, kamu serius ingin aku mengutarakan semua isi kepalamu?"
Bella mengangguk.
"Kamu sedang memikirkan tentang... besok mau makan apa di kantin, pakaian dalam yang belum sempat dicuci, uang saku yang hampir habis... Ehmm, lukisan yang aneh dan misterius, Sera yang selalu ganjen, mimpi buruk yang berulang-ulang, sosok misterius, janji dimasa lalu, kapan bertunangan, Felix, Felix, Felix, Felix..." ujar Felix.
Bella sampai menutup mulutnya yang ternganga akibat ucapan Felix yang semuanya benar adanya.
"Jangan terkejut begitu! Aku tahu isi kepalamu itu dan hampir semuanya tentang aku, lalu kamu merusak semua itu dengan tiba-tiba memikirkan si Cakra tadi!" ucap Felix.
"Arka, bukan Cakra!"
"Aku lebih suka memanggilnya Cakra!"
"Terserah kamu, lah!" Bella kembali membelakangi Felix. "Sejak kapan kamu bisa baca pikiranku?" tanya Bella.
"Sejak lama. Mungkin sejak kita bertunangan."
"Sebenarnya kapan kita bertunangan? Kenapa aku tidak ingat sama sekali?"
"Itu karena..." Ucapan Felix terhenti. "Aku tidak bisa memberitahumu. Kamu harus lebih tahu dengan sendirinya dulu, baru aku akan menjelaskannya nanti."
"Kalau kamu tau, kenapa gak katakan saja? Kenapa aku harus mencari tau sendiri?"
"Tidak bisa, Ara. Semua ada konsekuensinya dan aku tidak mau mengambil resiko yang akan membahayakan."
"Membahayakan?"
"Ya..."
"Kenapa?"
"Cari tahulah sendiri, Ara. Semuanya! Termasuk janji yang sudah kita buat."
.
...TBC......
__ADS_1