Tunanganku .... HANTU?

Tunanganku .... HANTU?
28. Tatapan lain


__ADS_3

Sementara disisi lain. Bella sudah kembali masuk kuliah seperti biasanya. Di kampus, ia bertemu dengan Sera yang keheranan karena melihat Bella lebih pendiam daripada biasanya.


"Kamu kenapa, sih? Lagi ada masalah ya?"


Bella menggeleng, kemudian menyeruput es jeruk dihadapannya. Tatapannya tampak kosong.


Sera berdecak lidah. "Kalau ada masalah, cerita dong!" katanya.


"Aku cuma lagi mikirin Felix," kata Bella yang tanpa disadarinya berbicara begitu saja.


"Felix?" Sera mengingat nama itu adalah nama tunangan Bella yang dia katakan sedang kuliah di luar Negeri. "Kenapa? Apa Felix selingkuh?" tebaknya.


Seketika itu juga Bella tersadar dari lamunannya.


"Eh, aku ngomong apa tadi?" tanyanya pada Sera.


"Kamu bilang kamu lagi mikirin Felix."


Mendengar nama Felix disebut, lagi-lagi membuat Bella lesu. Sampai sekarang ia belum mendengar kabar apapun lagi dari Fredy. Kenapa Fredy tak mau membalas pesan yang ia kirimkan? Apa Fredy tidak mengerti bahwa ia sangat menghawatirkan keadaan Felix disana?


Andai saja Felix juga mempunyai ponsel, pasti Bella sudah menghubungi nomor Felix daripada mengharap balasan pesan atau telepon dari Fredy yang tidak kunjung memberinya kabar.


"Felix, apa kamu juga mikirin aku disini? Seperti aku yang khawatir dan mikirin kamu terus?" batin Bella.


Tiba-tiba saja, kehadiran Arka didekat Bella dan Sera membuat kedua gadis itu mengernyit keheranan.


"Kalian gak lihat pameran lukisan di aula kampus?"


"Pameran lukisan?" Bella dan Sera kompak bertanya.


"Iya, Pak Satrio sama rekannya ngadain pameran disana."


"Kok kita gak tau ya," timpal Sera keheranan. Begitupun Bella, biasanya mereka tidak pernah kelewatan momen semacam ini.


"Iya, baru dibuka. Belum juga satu jam. Dadakan sih kayaknya. Lukisannya juga baru disusun anak-anak lain disana."


Sera menatap Bella. Bella mengendikkan bahu kemudian berdiri dari duduknya yang semula berada di kursi kantin tersebut.


"Kalau mau kesana, aku juga ikut deh..." kata Arka yang melihat Bella dan Sera hendak beranjak.


"Boleh aja," kata Sera girang. Sementara Bella selalu bersikap acuh tak acuh apalagi sekarang mood nya sedang tidak baik.


Mereka tiba di Aula, melihat Pak Satrio--guru lukis mereka yang sedang asyik berbincang dengan seseorang yang membuat Bella termenung seketika.

__ADS_1


"Felix?" gumam Bella. Tidak, tidak mungkin itu Felix karena pak Satrio dapat melihatnya. Jika itu Fredy juga tak mungkin. Bukankah mereka pergi mencari keberadaan rumah Tante Neni?


"Ada apa, Bell?" tanya Sera yang melihat Bella terpaku.


Bella menggeleng pelan, matanya tetap fokus pada satu sosok yang berwajah sama dengan Fredy Dan Felix, keadaan ini membuatnya bingung dan pusing melandanya seketika.


Disaat yang sama, sosok berwajah serupa dengan sang tunangan pun-- melihat pada Bella. Sebuah senyum miring tersemat di bibirnya, seolah itu sebagai sapaan khas untuk Bella.


Seketika itu juga tubuh Bella meremang. Tatapan itu bukan milik Felix yang hangat. Bukan pula khas Fredy yang dingin. Tatapan itu berbeda, ada kilatan lain yang terasa lain, seperti menusuk langsung ke hati Bella, membuat matanya memanas ingin segera mengeluarkan airmata. Ada seringaian kecil yang seakan sengaja ditujukan untuk mengejek Bella.


"Se-Sera, a--aku harus pulang sekarang."


Bella berbalik arah, menuju pintu keluar Aula. Hal itu tentu saja membuat Sera keheranan.


"Lho Bell? Kenapa? Kita masih ada satu kelas lagi."


"Tolong izinin aku di mata kuliah Bu Asti. Aku pulang duluan."


"Kamu gak apa-apa?" Arka menanyai Bella yang tampak pucat.


"Ng--gak, aku tiba-tiba pusing."


"Aku anterin pulang, mau?" tanya Arka.


"Bell, mending dianterin Arka aja, kamu kan pusing, aku takut kamu kenapa-napa pas bawa mobil," saran Sera.


Bella akhirnya mengangguk, ia ingin segera pergi dari sana.


Disaat yang sama, Sera juga baru melihat sosok yang mirip Fredy itu.


"Bell, bukannya dia cowok yang tempo hari, ya? Fre.... Fredy kan, namanya?" celetuk Sera, membuat Bella langsung paham jika disini Sera merasa jika pria itu adalah Fredy yang juga pernah mendatangi acara bazar amal di kampusnya.


"Iya, Bell. Itu cowok yang kemarin anterin kamu, kan?" tanya Arka kemudian. Sebab, Arka juga mengingat jelas jika--- pria dengan wajah yang sama--- pernah menghampiri Bella bahkan memasangkan jam ditangan Bella. Kejadian itupun jelas-jelas dihadapan Arka. Hingga waktu itu Arka sampai mengira cowok itu adalah tunangan yang Bella maksudkan selama ini.


Bella tak berani mengadahkan wajah, ia takut dengan seringaian sosok itu. Ia langsung membuat alasan lagi untuk menghindari keadaan dan membuatnya bisa cepat pergi dari ruangan ini.


"Arka, kamu jadi gak anterin aku? Aku bener-bener udah pusing banget."


Arka yang tak mau melewatkan kesempatan ini pun langsung mengiyakan ajakan Bella.


Sedangkan Sera yang tak tau menahu-- masih tertinggal disana demi melihat-lihat pameran yang diadakan secara dadakan itu.


Sesampai di mobil, Bella menyerahkan kuncinya pada Arka dan pria itu segera mengambil alih untuk duduk di kursi pengemudi. Akhirnya dia memiliki kesempatan untuk bersama Bella meski hanya mengantarkan gadis ini pulang.

__ADS_1


"Kamu pucat banget, tadi gak sempat sarapan apa gimana?" tanya Arka yang mulai menyalakan mesin mobil.


"Mungkin karena maag aku kambuh kali ya. Yaudah, langsung jalan aja."


"Pulang ke mana? Aku gak tau alamat kamu."


Bella langsung memberitahu Arka alamat kos-nya.


Sepanjang perjalanan, Bella hanya diam memikirkan sosok itu yang sekarang entah kenapa bisa berada di kampusnya.


Bella mengambil ponselnya dan beberapa kali menghubungi nomor Fredy, dia sangat berharap pria itu menerima panggilannya sebab ia ingin memberitahukan kemunculan sosok serupa di kampusnya.


Kali ini, Bella yakin seratus persen jika dia adalah makhluk jahat itu. Dan makhluk itu juga mengetahui siapa Bella?!


Apa selama ini sosok itu juga mengawasinya seperti yang dilakukan Felix? Tidak mungkin, jika iya maka Felix pasti akan menyadari keberadaannya disekitar mereka kan?


Telepon Bella ke Fredy tidak kunjung terjawab. Apa sih yang Fredy Dan Felix lakukan disana hingga tidak bisa menjawab teleponnya? Apa Bella hanya dianggap pengganggu padahal ia sangat ingin memberi kabar yang pasti ini sangat penting.


"Kamu nelepon siapa sih, Bell?"


Bella menoleh pada Arka. "Ng--ini, nelepon mama aku," kilahnya.


"Oh, mau ngabarin keadaan kamu ya?"


"Iya, sekalian mau nanya merk obat yang biasa dia kasi ke aku kalo pas kumat maag nya gini..."


Arka mengangguk-anggukkan kepalanya. Gadis cantik disebelahnya ini terkadang sangat sulit ditebak. Bella juga berbeda dari gadis lainnya yang sering mencari perhatiannya. Bella selalu cuek tapi itulah yang membuat Arka merasa tertarik hingga penasaran pada Bella.


"Ehm, Bell... kamu beneran udah bertunangan ya?"


Ternyata Arka masih saja tak percaya dengan hal yang pernah Bella sampaikan itu.


"Iya, emang kenapa sih?"


"Nggak, aku pikir itu cuma alasan kamu aja biar bisa menghindar dari aku."


"Maaf ya, Ka... aku gak bohong sama kamu. Bukan mau menghindari kamu juga, tapi emang kenyataannya aku udah bertunangan. Kalau kamu mau deketin cewek, deketin aja Sera, pasti dia seneng, deh."


Bella memberi Arka sebuah opsi selain dirinya, tentu saja ia mengajukan Sera sebagai pilihan untuk Arka, karena ia tahu jelas jika Sera pun tertarik pada Arka meski sahabatnya itu tidak marah karena Arka yang justru menyukai Bella. Akan tetapi, Bella yakin jika Arka masih dielu-elukan dalam hati Sera.


Arka hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Bella. Ia tidak tertarik pada Sera, entahlah jika nanti--sebab perasaan mungkin bisa saja berubah, kan? Tapi untuk saat ini, Arka masih ingin menyukai Bella meski gadis ini sudah mengakui bahwa dia telah bertunangan.


...TBC .......

__ADS_1


__ADS_2