TWIN BROTHERS POSSESSIVE

TWIN BROTHERS POSSESSIVE
Permohonan


__ADS_3

Tengah malam, di kediaman Azfary kini tengah di sibuk kan dengan rencana yang telah mereka persiapkan. Willy dengan cepat membawa jaket putih kesayangan nya dan segera turun ke bawah menemui kedua orang tuanya.


"Mom ..." Panggil Willy setelah sampai di lantai dasar.


"Ayo kita pergi, sayang" Ajak Kim Lily pada putri bungsu nya. Willy hanya menganggukkan kepala setuju dan merangkul lengan sang mommy dengan manja.


"Where's daddy?" Tanya Willy saat tak melihat sosok gagah dan tampan yaitu daddy nya.


"Di mobil, sayang" Willy tak menjawab ucapan sang mommy. Yang ia lakukan saat ini hanya berlari mendekati mobil dengan cepat dan membuka pintu penumpang.


"Miss you, Daddy" Pelukan yang penuh akan kerinduan pun Willy tumpahkan dalam dekapan William.


"Miss you too, princess." Cup cup cup, tiga kecupan mendarat pada kening Willy. William pun menggesekkan hidung mancung nya dengan Willy karena rasa rindunya pada putri bungsu kesayangan Azfary.


"Daddy tetap disini kan? Gak kembali lagi?" Ucap Willy seraya mendongakkan kepalanya menatap ke arah William yang kini tersenyum sendu ke arahnya.


"Maaf sayang, besok daddy masih harus kembali ke Batam. Pekerjaan daddy belum selesai, Nak."


Willy yang mendengar itu pun langsung menundukkan kepala nya untuk menutupi rasa kecewa yang ia rasakan.


"Maafkan daddy, Sayang." Cup, lagi kecupan itu di berikan oleh William pada putri nya.


Ceklek, pintu mobil terbuka dari arah belakang.


"Sudah, lepas rindunya?" Tanya Kim Lily seraya masuk kemudian duduk dengan tenang di kursi belakang.


Willy menengokkan kepalanya ke arah belakang untuk menatap sang mommy. "Mom tau kalau daddy besok pergi lagi?"


"Mom tau"


"Mommy, kenapa gak bilang sama Ily ... Ily kan kangen sama Daddy. Pokoknya malam ini, Ily tidur sama kalian." Rajuk Willy pada kedua orang tuanya.


"Hahahaha ... maafkan mommy, Sayang. Dan kamu boleh tidur dengan kami."


"Asiiiikkkk ... tapi Daddy, sampai kapan Daddy di Batam?"


William menengadah seolah berfikir keras. "Satu tahun lagi?"


"What??? Daddy ... Don't lie to me!" Rajut Willy semakin menjadi dengan muka imutnya membuat William dan Kim Lily tertawa di buatnya.


"Hahahaha ... Maaf sayang, Daddy akan pulang secepatnya."


"Gak satu tahun kan, Dad?"


"Enggak sayang, mungkin dia minggu lagi." Jawaban William kali ini membuat Willy bernafas lega. "Pokoknya setelah daddy pulang, kita harus piknik."


"Siap, tuan putri!!!" Ucap William dengan tegas seraya mengangkat tangannya memberi hormat.


"I love you, daddy" Willy pun kembali memeluk William yang tentu saja di balas dengan pelukan hangat seorang ayah.


"Okey, mari kita laksanakan rencana kita." Suara Kim Lily pun membuat keduanya langsung menoleh kebelakang.


"Siap my Queen!" Ucap keduanya begitu serempak dan membuat ketiganya terkekeh geli.


Akhirnya, mobil hitam metalic milik William pun melesat meninggalkan mansion dan juga satu orang keluarga mereka.


Di perjalanan mereka pun terus bersenda gurau tanpa henti hingga akhirnya mereka telah sampai pada tujuannya.


Rumah sakit


"Dad, bagaimana kalau kita mulai dari sekarang?" William menatap wajah putri nya dengan seringai tipis pertanda setuju.

__ADS_1


"Mom, siapkan air mata mommy, okey?"


"Mommy sudah siap, sayang"


"Kita mulai"


Kim Lily langsung mengeluarkan ponselnya dan mulai mengatur suaranya.


Drrtttt ... Ddrrrttt ...


Getaran ponsel yang kini berada di samping Seano membuat ia terbangun dari tidurnya.


Dengan perlahan, mata tajam itu terbuka. Ia pun baru sadar saat ternyata, Willy tak berada di sampingnya.


"Hallo, mom?"


"Abang! Cepat ke rumah sakit, Sean ... Sean ... Dia hikkss, tolong cepat kemari!!!" Ucap sang mommy dengan nada panik dan suara serak bercampur isak tangis. Hal itu membuat Seano menjadi kalut, ia bergegas keluar kamar dan turun menggunakan lift di mansion nya.


"Astaga, sebenarnya ada apa??"


Seano panik, ia takut terjadi sesuatu pada kembarannya. Akhirnya, ia pun dengan cepat memacu mobil nya menuju rumah sakit.


Mobil sport merah itu kini melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. Entah berapa kali ia mendapatkan umpatan kasar atau bunyi klakson yang mewakili kekesalan mereka akibat aksi kebut-kebutannya Seano.


Dalam otak nya kini, hanya ada nama Sean.


"Lo pasti bisa bertahan, gak akan terjadi apa-apa kan?" Batin Seano terus memberikan sugesti positif agar ia gilirannya tetap jernih hingga sampai di rumah sakit.


Sampai, dengan cepat ia memarkirkan mobilnya dan segera memasuki lift untuk menuju ke lantai dua tempat dimana Sean di rawat.


Seano mendengar isak tangis dari dalam kamar Sean. Jantungnya semakin berdetak tak karuan dan saat   tangannya meraih handle pintu seseorang menepuk bahu nya dari belakang.


"Jawab abang, apa yang terjadi???? Sean? Kenapa sama kakak?" Raut khawatir Seano semakin kentara membuat Willy tak kuasa meneruskan semuanya. Namun, jika gagal, ini tak akan menjadi seru.


"Kaa hikkss... Kakak, Kak ... bruukkk" Willy pun pingsan dan terjatuh tepat di hadapan Seano.


"Princess, Ily, bangun dek"


Akhirnya Seano mengangkat Willy ala bride style dan membuka pintu ruangan Seano.


Gelap!


Seano melangkah dengan perlahan, satu langkah ... dua langkah ... hingga, matanya menatap sebuah cahaya di atas meja dengan sofa melingkari nya.


"Happy birthday too you ... Happy birthday too you ..." Lagu ulang tahun terdengar merdu di telinganya, disana terlihat kedua orang tuanya, grandma dan grandpa, juga kembarannya Sean yang kini tengah tersenyum ke arahnya.


Lalu, tatapannya beralih pada gadis kecil yang masih berada di gendongannya.


Mata cantik Willy dan senyuman manis terpatri dengan sangat indahnya membuat Seano membalas senyuman itu.


"Happy birthday my Prince ..." Cup, kecupan Ily tepat pada sudut bibir Seano membuat sang empunya tersenyum semakin lebar.


"Thank you my Princess" Setelah mengucapkan itu, Willy pun meminta untuk di turun kan dan mendekat ke arah Sean.


Sean menatap adiknya dengan penuh kasih sayang. "Kamu bikin Kakak khawatir princess, jangan lakukan ide semacam ini lagi. Ini membuat kakak takut"


"I'm sorry, Ily gak akan lakukan lagi, janji."


"Kakak pegang janji kamu yaaa ..." Willy pun mengaggukkan kepalanya dengan cepat. Cup, kecupan Willy daratkan pada sudut bibir Sean.


"Happy birthday Kakak"

__ADS_1


"Thank you ..." Sean membawa Willy dalam pelukannya dan di ikuti Seano yang tak ingin ketinggalan dalam pelukan kasih sayang mereka.


Hal itu membuat para orangtua tersenyum penuh haru.


"Okey, sekarang, waktunya make a wish dan tiup lilin ya ..."


"Sini, Ily juga harus ikut." Ajak Seano yang langsung di angguki semuanya.


Akhirnya mereka bertiga lah yang meminta permohonan dan meniup lilinnya secara bersamaan.


"Tuhan, Ily ingin keluarga Ily selalu dilimpahi kebahagiaan. Dengan kedua kakak yang selalu sehat dan tetap di samping Ily hingga akhir hayat nanti" - Willy


"Tuhan, Terima kasih karena telah memberikan aku waktu untuk tetap terus menambah kebahagiaan dan cerita dalam hidupku. Terima kasih karena telah memberikan keluarga yang sempurna untukku. Ku harap, ini untuk selamanya." - Seano


"Tuhan, berikan kesehatan dan kebahagiaan untuk keluargaku. Di usia ku saat ini, bukan mainan lagi yang ku minta. Tapi, yang aku inginkan hanya menjadikan setiap senyum keluargaku menjadi nomer satu yang terlihat ketika aku membuka dan menutup mata." - Sean


Fyuhhhh


Lilin pun mati karena tertiup oleh ketiganya.


Semuanya bertepuk tangan hingga akhirnya grandma dan grandpa menghampiri keduanya untuk mengucapkan selamat. Tak tertinggal juga dengan William dan Kim Lily yang kini memeluk ketiga anaknya dengan penuh kasih sayang.


Brraaakkkkk


"Selamat malam semuanyaaa ... Aku telat ya Om? Tante?" Tanya seseorang itu yang kini bertanya seraya mengucek kedua matanya.


"Iya, Sam. Tapi gapapa kok, sini masuk" Tak menunggu lama, Darrian pun memasuki ruangan dengan dua kunci di tangannya.


Darrian melempar dua kunci pada Sean dan Seano yang kini menangkap masing-masing kunci pemberian Darrian.


"Apaan nih?" Tanya Sean dengan nada bingungnya.


"Kunci" Jawab Darrian dengan santainya kemudian menatap Willy dengan gugup.


"Gue tau ini kunci, maksud lo apa ngasih kunci ke gue?"


"Hadiah dari gue buat kalian" Jawabnya dengan santai dan tatapan mata yang tak pernah lepas dari Willy.


"Serius, Lo?" Tanya Seano semakin penasaran.


"Hm ... Hai Willy" Sapa Darrian pada Willy yang langsung di balas dengan senyum manis milik gadis itu.


"Halo kak Sam, makasih ya karena udah sempetin waktu buat datang kesini."


"Iya, sama-sama. Lagian, si kembar sobat kakak."


"Iya ya, benar juga hehehe, hooaamm  ..."


"Sini tidur, kamu pasti ngantuk banget ya"


"Iya nih kak, Ily ngantuk banget" Tanpa kata lagi, Willy menidurkan kepalanya di atas paha Darrian dengan wajah yang kini menatap ke arah perut Darrian.


"Semoga suara jantung gue gak kedenger" Rapal nya dalam hati.


Akhirnya, mereka semua tertidur di ruang inap Sean. Seano yang kini tidur di sofa single nya dan Sean yang saat ini masih tertidur dengan pulsanya.


******


Up kali ini, semoga bisa menemani waktu sahur kalian... Maaf yaaa aku telat UP nyaa.


Happy Reading  😍

__ADS_1


__ADS_2