TWIN BROTHERS POSSESSIVE

TWIN BROTHERS POSSESSIVE
Satu Lawan Lima


__ADS_3

Willy menyebutkan pesanan nya pada Seano. Namun tiba-tiba, satu buah ice cream kini berada tepat di hadapannya. Willy mendongakkan kepalanya ke arah depan untuk melihat siapa yang memberinya ice cream ini.


"Kak Kean?"


"Hai Willy, nih buat kamu."


"Beneran buat Ily?" Tanya Willy dengan nada antusias nya.


"Iya, nih."


Saat tangan indah itu terulur untuk mengambilnya, seseorang tiba-tiba saja datang merampas barang yang kini berada di hadapannya.


"No!" Ucap nya dengan tegas serta memberikan tatapan tajam nya pada Willy.


Willy menatap sendu Ice cream yang kini tengah berada di genggaman Seano kemudian menatapnya tajam.


"Biar abang beliin yang lain. Lihat sayang, ini ada kacangnya."


Seano memperlihatkan kemasan ice cream itu pada Willy. Sungguh, ia sangat menyesal kala dirinya melihat Seano dengan pandangan tajam dan merajuk padanya. Padahal abangnya itu sungguh sangat perhatian.


"Emang ada apa dengan kacang?" Ucap Kean memecah keheningan dari dua orang di hadapannya.


"Kata Mommy, Willy alergi kacang, Kak."


"Ya ampun... Willy, maaf ya, kakak gak tau."


"Gak papa kok, untung ada abang, hehehe."


Tanpa di sadari keduanya, ternyata Seano tengah berjalan mendekati stand ice cream dan memesan satu cup berukuran sedang.


Setelah mendapatkan pesanannya, Seano pun duduk di samping Willy yang langsung di sambut antusias olehnya.


"Yeaayy... Ice cream!!! Makasih abang..." Willy pun mengecup pipi Seano yang langsung mendapatkan elusan di puncak kepalanya.


Kean yang melihat itu hanya bisa diam tanpa berkutik sedikit pun.


"Astaga! Apakah aku sudah kalah sebelum berperang?" Batinnya kala melihat Willy dan Seano kini tengah bercanda riang tanpa menghiraukan nya.


Seano mengalihkan pandangannya pada Kean yang kini tengah meminum minumannnya. Sungguh tak tahu malu. Memangnya sejak kapan orang ini di perbolehkan duduk disini.


"Lo,"


"Apa?" Ucap Kean dengan nada jutek nya membuat Seano menaikkan sebelah alisnya.


"Pergi!"


"Gak! Oh ya, Will—" Ucapannya terpotong kala Seano bersuara kembali.


"Kita pergi sayang." Seano pun meraih tangan Willy untuk ikut bangkit dari duduknya.


Hal itu semakin membuat Kean geram bukan main.


"Okey, gue yang pergi!" Putusnya dengan kesal namun membuat Seano kembali membawa Willy duduk di tempat sebelumnya.


"Ada apa sih, Bang?"


"Enggak, Sayang. Makan lagi ice cream nya ya...."


Kean merasa tak rela kala dirinya di usir oleh Seano. Ia terus menatap Willy yang ternyata tanpa di sadari Willy telah menatapnya balik.


"Ada apa kak Kean?"


"Ah– e... enggak, kakak mau pamit ya, soalnya di tunggu mama."


"Ohh? Okey Kak." Ucap Willy seraya menganggukkan kepalanya.


"Bye Willy...."


"Bye, Kak...." Willy melambaikan tangannya seraya tersenyum cerah membuat Kean semakin di mabuk asmara.


Namun, saat netra nya menatap ke arah Seano. Dengan cepat ia melengos tanpa basa-basi sedikit pun.


Seano kini tengah kembali berbincang dengan Willy dan sesekali menghapus jejak ice cream yang belepotan di sekitar bibir mungil adiknya itu.


"Bang, kakak udah pulang?"


"Gak tau nih, mending kita pulang dulu aja, siapa tau kakak sudah di rumah."


"Hm, yaudah, Ily habisin dulu ini ya?"


"Iya, Sayang..." Seano mengelus surai indah Willy. Namun salah satu lengannya kini tengah mengeluarkan ponsel yang sedari tadi ia simpan dalam saku celananya.


Tangan itu membentuk sebuah pola untuk membuka kunci pada layar ponselnya.


Dan, satu chat masuk dalam aplikasi whatsapp nya.

__ADS_1


Sean


Bang, kakak sudah di tempat.


Itulah pesan terakhir dari Sean yang ternyata sudah terkirim 10 menit sebelumnya. Seano bergegas mengajak Willy untuk pulang ke mansion mereka.


Di perjalanan, Seano terus berdo'a untuk Sean agar tak terjadi apa-apa. Ia semakin melakukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata membuat Willy mencengkram dengan erat safety belt saking takutnya.


"Abang... jangan terlalu ngebut... Ily takut." Suara yang langsung menyadarkan Seano dan mulai memelankan lajunya.


"Maaf, Sayang... maafin abang," salah satu tangannya mengelus puncak kepala Willy yang kini masih menunduk menyembunyikan wajah nya. Namun, Willy hanya mengangguk sebagai balasan.


Tak lama kemudian, mereka pun sampai di kediaman Azfary. Willy turun dari mobilnya dan Seano menatap khawatir akan kondisi Willy.


"Sayang..." cegah Seano yang langsung membuat langkah Willy terhenti.


"Maafin abang ya... Abang sebenarnya ada janji—"


Ucapannya terhenti kala Seano merasakan pelukan pada tubuhnya. "Gak marah lagi kan?" Tanya Seano dengan nada was-was.


"Enggak kok. Yaudah, abang hati-hati ya."


"Iya sayang. Abang mau masuk untuk pamit aja. Kamu jangan lupa makan dulu terus istirahat ya."


"Siap, Kapten!" Hormat Willy yang langsung di hadiahi cubitan gemas dari Seano.


Lain hal nya dengan Sean yang kini tengah menatap lawan nya dengan seringai tipis namun menakutkan. Lima lawan satu, perbandingan yang sangat tidak adil.


Andai Sean seorang remaja biasa yang hanya bisa belajar dan bermain, pasti ia akan kalah telak saat melawan lima orang itu. Namun, Sean dengan percaya mengangkat satu jari tengahnya tepat ke arah mereka. Sean bukanlah tandingan mereka. Kata itulah yang selalu Seano tanamkan padanya agar selalu termotivasi untuk menang.


Dia selalu menjuarai pertandingan bela diri tingkat Nasional. Bahkan tubuh yang atletis serta otot yang membingkai tubuh indahnya itu bukan hanya sekedar pajangan saja.


Kelima orang itu saling menatap untuk siap menyerang.


"Maju." Itulah satu-satunya kata yang keluar dari mulut Sean.


Perkelahian yang begitu tak sebanding pun di mulai. Sean berusaha menghindari pukulan-pukulan dari para lawannya. Dan itu ia lakukan secara terus-menerus.


Keringat mulai membasahi sebagian tubuh dan pelipisnya. Ia menatap jengah lawannya yang ternyata sudah mulai kelelahan.


"Segini aja nih?" Tanya Sean dengan penuh tatapan remeh nya. Dan hal itu kembali menjadi pemicu kekesalan mereka.


Namun ada yang berbeda, Sean bukan lagi sekedar menghindar. Ia dengan cepat melayangkan pukulannya pada sang lawan yang bisa di yakini membuat wajah nya lebam.


Pukulan serta tendangan yang terus tertuju padanya dari berbagai arah dengan mudah Sean tepis dan membalas mereka dengan mudah.


"Sialan!" Teriak salah satu dari mereka yang ternyata tengah membawa sebuah batu lumayan besar.


Sean sadar akan hal itu langsung menarik baju belakang salah satu musuhnya untuk di jadikan tameng.


Duaaghhh, suara yang begitu nyaring menandakan begitu kerasnya pukulan itu di barengi dengan jerit kesakitan.


"Aarrrgghhh, sialan Dion!!! Lo celakain gue, goblo*!!!" Darah mulai mengalir keluar membasahi pelipis nya.


"Aarrggghhh.... Sialan Dion!"


"So- sorry, gue gak sengaja. Gu- gue—"


Duaghhh, tendangan itu langsung mengenai perut Dion dari salah satu teman lainnya.


"Lo masih anak baru udah berani celakain si bos, hah!"


"Gue gak sengaja, tadi gue mau mukul target!" Ucap nya dengan gemetar, wajah pucat nya menggambarkan segala ketakutan yang ia rasakan saat ini.


Sean terpaku di tempat. "What? Jadi, gue ngapain nih?" Ucap nya dengan pelan seraya menatap kelima musuhnya tengah lepas tangan.


Sean menatap sekitar yang dengan jelas terasa sepi. Kemudian, matanya menatap satu bangku yang terlihat sedikit rapuh namun masih bisa di pakai.


Ia mendekat ke arah kursi itu dengan santai. Sesekali, siulan dari bibir merahnya mengeluarkan nada lagu yang ia suka.


Setelah sampai, ia pun terduduk dan melihat kembali adegan yang kini berada sedikit jauh dari tempatnya.


Mereka seperti terlibat sebuah pertengkaran yang membuat salah satunya gemetar ketakutan.


"Ck, tau gini gue beli pop corn dulu dah!"


Tangannya mengeluarkan ponsel. Jari-jarinya mulai mengetikkan sebuah pesan pada Seano.


"Hahahah... sebenarnya siapa yang nyuruh mereka. Astaga... Ini konyol!"


Kedua tangannya ia lipat di dada, mata nya mulai memicing kala dua orang dari mereka mulai melayangkan tinjunya pada si pelaku pemukul batu.


Duaghhh


Duaghhh

__ADS_1


Pukulan serta erangan membuat Sean menatap mereka dengan dingin namun ada senyum di bibirnya.


Sepuluh menit kemudian....


"Ssshhh..."


Desis seseorang yang kemudian terduduk di samping Sean seraya membawa beberapa camilan di kresek yang ia bawa.


"Hahah, masih belum selesai?" Tanya Seano seraya menyodorkan sebuah keripik kentang dengan taburan rumput laut pada Sean.


"Belum, minum nya dong, Bang."


Seano langsung memberikan satu kaleng coca-cola pada Sean. Keduanya masih menatap mereka dalam diam dan hanya terdengar suara kunyahan dan seruputan dari minuman yang sedari tadi mereka nikmati.


"Kayaknya udah selesai tuh!" Ucap Seano yang langsung di angguki Sean. Bagaimana bisa tau? Jelas karena mereka tengah meninggalkan teman yang baru saja mereka keroyok itu di tengah jalan.


"Intinya, misi mereka gagal, Bang."


"Hm, ayo samperin."


Keduanya bangkit dan mulai melangkah mendekati korban. Ia tertidur secara terlentang dengan satu tangan yang tengah menutupi matanya.


"Sini, gue bantu." Ucap Sean yang langsung membuat si pelaku batu menurunkan lengannya.


"Gak usah!" Balas nya yang dengan perlahan mencoba untuk bangkit. Namun itu hanya angan saja kala dirinya merasakan sakit pada perut dan beberapa bagian tubuh lainnya.


"Ck, ayo Bang, bantu."


Akhirnya, dengan pasrah si pelaku batu itu mendapatkan pertolongan dari Sean dan Seano. Kepalanya tertunduk merasa malu.


Akhirnya ia dibawa ke tempat dimana mereka berdua terduduk tadi.


Sean mulai membuka plastik yang di bawa oleh Seano dan mencari beberapa alat yang Sean pesankan tadi.


"Nih." Ucap Seano seraya memberikan satu botol aqua padanya. Orang itu menatap Seano dengan salah satu alis terangkat, pertanda tak mengerti.


Akhirnya, Seano pun membuka tutupnya dan mulai menumpahkan air itu tepat di hadapannya. "Basuh."


Okey, barulah ia mengerti. Orang itu langsung mengulurkan tangan dan membasuh wajahnya. Hufftt... bisa di bayangkan saat ini wajahnya menjadi buruk rupa karena mendapat luka dan lebam di mana-mana.


"Okey, nih, lap dulu." Lagi, ucap Seano yang kini tengah menyodorkan satu pack tisu.


Setelah selesai, kini giliran Sean yang bekerja. Tangannya dengan lihai memberikan obat merah pada beberapa bagian wajah yang mengalami luka.


Namun, bukan Sean namanya jika tidak bisa memanfaatkan setiap waktunya.


"Siapa yang nyuruh lo?"


Si pelaku menatap Sean dengan takut. Dalam hatinya ia terus berdo'a agar tak mendapatkan lagi pukulan itu.


"Tenang aja, gue gak seperti mereka kalo lo mau jujur."


"Yona." Jawabnya dengan cepat dan tepat.


"Oh... gue udah yakin akan hal itu."


Sean kembali memutar otak nya. "Lo sekolah dimana?"


"Angkasa."


"Dia?"


"Kakak kelas gue."


"Oke. Thanks udah kasih tau gue."


"Bang, pulang aja, biar dia kakak yang ater." Tambahnya pada Seano.


"Okey, Abang duluan, kamu hati-hati ya, Kak."


"Iya, Bang."


Melihat Seano pergi, Sean kembali memusatkan perhatiannya pada si pelaku.


"Nama lo siapa?"


"Dion."


"Hm, sekarang lo pulang bareng gue."


"Tapi—"


"Udah... cepet!"


Akhirnya, Dion pun mengekor pada Sean. Dalam hati, ia sungguh berucap syukur dan berterima kasih padanya.

__ADS_1


__ADS_2