TWIN BROTHERS POSSESSIVE

TWIN BROTHERS POSSESSIVE
Pembalasan Tak Langsung


__ADS_3

Di sebuah tempat yang pastinya terdapat beberapa orang tengah berkumpul dengan asap mengepul memenuhi ruangan hingga siapa pun yang menghirupnya akan merasa pengap. Namun, tetap tak ada yang dapat berkutik sedikit pun kala mata lelaki itu menatap ke arah empat orang yang berada di hadapannya saat ini.


"Bodoh!"


"Lo biarin temen pengecut lo itu di sana!? Dan ada Sean? Sialan!!!"


Hancur! hancur lah segala rencananya. Ia sangat yakin dengan pasti bocah itu akan membocorkan siapa yang menjadi dalang penyerangan Sean. Haiisshhh... Sialan! Dasar gak berguna!


Duaghhh, suara tendangan Yona yang kini membuat pintu ruangan terbuka dengan keras nya. Ia pun keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi membuat ke empat orang itu saling melirik dan berbisik.


"Bayaran kita gimana nih?" tanya nya yang kemudian membuat salah satu dari mereka berucap.


"Tahan dia!"


Titah salah satu dari mereka yang di yakini bahwa orang itu adalah ketua yang sebelumnya terkena batu oleh Dion. Mereka menganggukkan kepala dan berjalan keluar mengikuti langkah Yona.


"Woy!"


Mereka berjalan tepat di belakang Yona membuat lelaki itu menghentikan langkah kakinya dan berbalik.


"Apa?" tanya nya yang membuat ke empat lelaki itu sedikit tertawa namun di akhiri dengan tatapan meremehkan dari mereka.


"Apa? kok masih nanya? Lo gak bakalan bayar kita-kita?"


"Cih, misi aja gagal, masih mau minta bayaran? Ngaca woy! gue juga gak mau rugi."


Saat Yona hendak berbalik lagi, seseorang mencekal lengan nya dengan kuat.


"Mau kemana lo?"


"Balik lah." Ucap nya dengan seringai tipis yang pasti membuat mereka tersulut emosi. Bukan nya takut, mereka kini tengah saling menatap memberi kode untuk menyerang Yona.


Bughhh, "sialan lo, sehebat apa sih lo sampe berani permainan kita-kita, heh!"


"Yang pasti gue gak bodoh dan lemah macam kalian." Ucap Yona dengan nada meremehkan membuat ke empat orang itu semakin meluapkan amarahnya.


"Hajar!!!" Dengan serangan bertubi-tubi yang Yona terima membuat ia sedikit kewalahan, namun, sesekali ia membalas pukulan dari keempatnya yang entah itu kena atau tidak.



Sean kini berada di depan sebuah rumah sederhana dengan luas halaman yang lumayan besar dan lahan yang penuh dengan tanaman. Matanya kemudian menatap ke arah teras dimana seorang nenek tengah duduk di kursi goyang dengan kacamata yang bertengger di hidungnya.



"Siapa?"



"Nenek, lebih tepatnya nenek angkat gue." Sean tak menjawab, ia hanya menganggukkan kepala tanda mengerti. Kemudian, ia mengekor Dion yang mulai melangkah mendekati sang nenek.



Dengan riang, ia menyapa, "nenek, aku pulang...."



"Dion sudah pulang, nak. Masuk dulu, ganti baju dan jangan lupa makan ya..."



"Iya nenek, Terima kasih." Namun, saat kakinya hendak melangkah, ia seakan teringat oleh sesuuatu.



"Eh, sorry gue lupa." Ucap nya lirih pada Sean yang hanya di balas anggukan lagi.



"Nenek, kenalin, ini temannya Dion, namaya Sean."



Sang nenek membetulkan kacamata nya dan menatap ke arah Sean yang kini berada tepat di hadapannya dan menjulang tinggi membuat sang nenek mendongak ke atas untuk melihat sang empunya nama.

__ADS_1



Sean yang mengerti itu pun langsung menekuk kakinya dan berlutut tepat di hadapan sang nenek.



"Selamat sore, Nek. Perkenalkan, nama saya Sean."



"Gantengnya... baik lagi, Dion pasti seneng punya teman seperti Sean. Terima kasih ya karena sudah mau main kesini."



"Iya, Nek. Nenek sudah makan?"



"Nenek sudah makan, cu. Sana masuk sama Dion, jangan berkelahi ya."



"Iya, Nek. Kalau begitu Sean tinggal dulu ya."



"Iya, Cu."



Setelah berpamitan, akhirnya Sean dan Dion pun memasuki rumah sederhana yang begitu indah itu. Ya, indah karena tempat ini terasa hangat dan juga sangat rapi.



Sama seperti rumahnya, ya, penuh akan rasa hangat karena kasih sayang dan kebahagiaan.



Ia jadi teringat Willy yang sedari tadi belum ia kabari. Dengan cepat, Sean mengeluarkan ponsel nya dan menekan tombol 1 pada panggilan cepatnya.




"Moshi\-moshi, Ily cantik adiknya si kembar."



Sean terkekeh kalau mendengarnya, bahkan ia tak sadar bahwa kini ia tengah menjadi perhatian Dion.



"Sayangnya kakak lagi apa?"



"Lagi nonton nih, masa Ily gak ada temen sih... padahal kan harusnya abang sama kakak udah sampai rumah."



"I'm sorry princess, kakak ada urusan mendadak. Tapi sepertinya abang sebentar lagi pulang deh."



"Hmm... bene– ehh!, itu abang udah pulang."



"Nahhh... kan, apa kakak bilang. Jadi sekarang kamu ada temen nya, kakak pulang setelah magrib ya sayang."



"Hmm... okey, pokoknya kakak harus hati\-hati di jalan kalau mau pulang, jangan lupa makan yaaa... dan satu lagi!"

__ADS_1



"Apa, Princess?" Tanya Sean dengan penuh tanda tanya.



"Jangan lupa beli pancake greentea di cafe sebelum komplek ya...."



Sean terkekeh kala mendengar permintaan adiknya. Satu, dan itu selalu pancake greentea yang dia mau.



"Oke, nanti kakak belikan."



"Wahhh... makasih ya kakakku sayanggg.... "



"Sama abang gak sayang nih???" tanya seseorang yang pastinya kini tengah berada di dekat Willy karena suaranya terdengar begitu jelas di telinga Sean.



"Ily juga sayang abanggg.... "



"Kak, gak dapet pelukan ya dari princess, abang dapet lohhhh.... "



Setelah memanasi Sean, dengan jahilnya Seano mematikan ponsel Willy tanpa rasa bersalah sedikitpun.



Sean menatap ponselnya dengan wajah shock karena kelakuan abangnya yang begitu kekanakan. Tapi, Sean pun pasti akan seperti itu kala ia mendapatkan lebih peluk cium dari sang adik dari pada abangnya.



Seakan tersadar akan sesuatu, Sean menatap ke arah samping dimana Dion tengah menatap ke arahnya dengan tatapan canggung.



"Sorry, gue nguping obrolan lo di telepon. Tapi sumpah! gue gak denger orang yang lo telepon ngomong apa."



Sean kembali menyelidik wajah dari Dion. Namun, ia hanya kembali acuh dan mulai memainkan ponselnya.



Hmmm... ada yang aneh kah?



Ternyata, Dion tengah mengetikkan suatu pesan pada seseorang, entah siapa itu.



Langit biru yang begitu luas membentang indah di atasnya. Nafasnya yang terengah karena kehabisan tenaga, juga ringisan kecil yang ia keluarkan kala rasa sakit yang ia rasa dari beberapa bagian tubuhnya.


Selain itu, tak ada lagi suara, karena keempat orang itu kini tengah terkapar pingsan akibat dari perbuatan Yona.


Ting!


Yona tersenyum kala melihat sebuah pesan singkat dari orang suruhannya.


Dion :


Dia punya seseorang yang spesial.

__ADS_1


Ya, inilah rencananya, dan target telah memakan umpan!


__ADS_2