TWIN BROTHERS POSSESSIVE

TWIN BROTHERS POSSESSIVE
Akselerasi


__ADS_3

Masa sekolah berjalan terasa begitu cepat. Hingga akhirnya, besok mereka akan melaksanakan Ujian kenaikan kelas. Willy sengaja mengambil jalur akselerasi agar bisa bersama kedua kakaknya. Dengan giat, ia belajar untuk mendapatkan target yang ia inginkan.


Seano melangkah memasuki kamar Willy yang ternyata lampunya masih menyala. Terlihat juga sang adik yang masih duduk di depan meja belajarnya dengan beberapa buku yang kini tengah berserakan dimana-mana.


"Sayang...." Seano mengelus surai panjang Willy kemudian tersenyum hangat.


"Loh? Abang?"


"Hm... udah dulu sayang, lihat sekarang jam berapa." Tunjuk nya pada jam yang tepat berada di atas Willy.


"Eh? Jam 12 malam? Kenapa udah semalam ini bang? Pantas aja dari tadi Ily nguap terus."


Seano terkekeh geli, ia mengacak rambut Willy membuat sang empunya memberenggut kesal. "Ihhh abang-"


"Sssstttt jangan teriak sayang, ini sudah malam." Willy yang masih merasa kesal pada Seano pun akhirnya langsung berjalan menuju tempat tidur. Tiba-tiba, langkahnya terhenti kala seseorang memeluknya dari belakang.


"Ihh lepas abang..." rengek Willy seraya berusaha melepas pelukan Seano.


"Sweetie, gosok gigi sebelum tidur, itu lebih baik."


"Oh iya, Ily lupa. Hehehe..."


Seano mengangkat Willy menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar adiknya itu. Willy menyiapkan pasta gigi kemudian mulai menggosok giginya.


Dengan telaten, tangan Seano merapikan rambut Willy untuk di genggamnya karena tak ingin adiknya merasa terganggu.


"Rambutnya wangi stroberi."


"Hm..."


"Lehernya wangi vanila."


"Hm..."


Satu tangannya yang masih bebas memeluk Willy dengan erat. "Cepet sayang, abang udah ngantuk."


"Done."


Willy pun membersihkan sabun yang tersisa di mulutnya. Mereka keluar dari kamar mandi, dan betapa terkejutnya mereka kala melihat Sean yang sudah terbaring lebih dahulu di kasur king size Willy.


"Yeay! Tidur bertiga!" Pekik Willy terlampau senang membuat Seano menggelengkan kepalanya tak habis pikir akan tingkah Willy.



Inilah saatnya Ily akan mengikuti ujian secara terpisah, tempat terpisah dan juga soal yang berbeda. Ada pula seorang siswa yang terlihat tampan dan tinggi yang kini berada di kelas yang sama. Jadi mereka berdua lah yang akan mengikuti ujian Akselerasi.



Dengan tugas tambahan serta materi yang disatukan, akhirnya mereka melakukan ujian dengan tenang, tanpa ada rasa tegang dari keduanya.



Ily yang melihat kertasnya sudah terisi penuh, akhirnya menyerahkannya pada sang guru, tak lama setelahnya siswa tersebut juga memberikan lembar jawabannya.



"Hai, Willy."



"Haii... maaf, nama kamu siapa ? Kok kenal Ily?"



"Siapa sih di sekolah ini yang gak tau sama kamu."



"Oh iya??"



"Iya, perkenalkan, namaku Sandy Ivander, kamu boleh memanggilku San atau andy seperti yang lainnya."



"Eumm ... kalo Ily panggil Ivan? Boleh?" Ily memperlihatkan puppy eyes nya.


__ADS_1


"Boleh dong."



"Yyeeaayy makasih, Ivan."



"Sama-sama, kalo gitu ayo kita ke kantin."



"Ayo!"



Saat di pertengahan jalan, ada seseorang yang memanggil Ivan.



"San, di panggil bu Rukyani, kamu di suruh ke perpustakaan."



"Oke makasih."



"Willy maaf ya, aku gak jadi ke kantin bareng kamu."



"iya Ivan, gapapa kok, bye Ivan."



"Bye, Willy."



Padahal itu adalah tugas dari seseorang agar Willy tak jalan bersamanya.




"Baby!!" Teriak seseorang dari arah pojokan kantin yang pastinya adalah Sean.



"Princeeee...." Teriak Ily sambil berlari namun tanpa di duga, Brugghh.



"Ahh..." mata Ily berkaca-kaca.



"Eh-eh.. so-sorry, gu, gu-gue gak sengaja."



"Hikss... hikss.. sakit." Ily menangis karena kakinya merasakan sakit dan susah di gerakkan.



"Hikss hiks hhuuaaahh Daddy, mommy , princeeee...." Ily merentangkan tangannya pada Sean yang kini ada di hadapannya, dengan segera Sean mengangkat Ily dan digendong seperti koala.



"Kakak, kaki Ily sakit, Ily takut, apa akan lumpuh?? Atau di amputasi kak?? Huaahhh ... Ily gak mau kakak." Tangis Willy makin menjadi, namun dengan sabar Sean mengelus kepala adiknya dengan sayang.



"Sudah sayang, kaki nya gak akan di amputasi atau lumpuh kok, kakak sihir mau??"



Willy menganggukkan kepalanya dengan cepat dengan air mata yang masih ada di pipinya yang mengembung dan bibir mengerucut lucu.

__ADS_1



Dengan segera Sean mengubah posisinya, Sean membelakangi Ily dan tangan Ily kini telah memeluk tubuh Sean. Ily menyembunyikan wajahnya di punggung Sean.



Sean memijat dengan perlahan kaki Ily yang sedikit memerah karena terkilir.



"Aaaahk kakak...." Jerit Willy di balik punggung Sean, Sean melepas pelukan Willy dan segera berdiri membantu adiknya .



"Coba Ily berdiri." Ily berdiri dengan bantuan Sean dengan sedikit ketakutan. Namun beberapa detik kemudian.



"Kakak, Ily sembuh, walau masih ada sakitnya sih, tapi ini lebih baik, thank you."



Cup, kecup Ily pada pipi Sean.



Para warga sekolah yang melihat pemandangan dari awal sampai akhir hanya bisa menjerit-jerit dan garukin meja.



Ada pula yang tanpa sadar menggigit sendok makannya karena ikut baper dan iri. Menjerit hanya bisa dilakukan dalam hati karena yang kini mereka lihat adalah raja bad boy nya AIS.



Tak terasa Bel pun berbunyi kembali, namun dengan perut yang sudah terisi. Akhirnya Willy kembali ke kelas ujiannya bersama Sandy Ivander.



Setelah ujian tulis dan praktek, akhirnya para siswa naik kelas dan juga kedatangannya siswa baru, Seano yang akan melepas jabatannya sebagai ketua OSIS begitu pula Kean sebagai Wakilnya.


Saatnya pembagian kelas baru bagi para siswa yang telah menjadi kakak kelas sekarang. Ternyata di XII IPA 1 Willy satu kelas dengan Sandy, Seano, dan Kean.


Kean satu kelas bersama sahabatnya yang bernama Fill, sedangkan kedua sahabatnya yang lain, mereka di kelas XII IPA 2.


Sean?? Dia menjadi siswa XII IPS 1.


Jangan ragukan lagi dengan angka 1. Itu adalah kelas unggulan, dan banyak yang menginginkannya. Namun itu terlalu sulit untuk siswa yang kurang pintar.


"Yeayy... kita sekelas!" Pekikan Willy begitu senang.


"Iya dong... harus." Seano mendekat ke arah Willy yang sedang berada di depan kelas dan langsung mendapat pelukan dari Seano.


"Abang mau keluar dulu ya, mau jadi pembimbing MOS dulu."


"Iyaa Abang, jangan terlalu capek ya."


"Iya sayangg... bye." Seano mengecup puncak kepala Ily dengan mesra. Untuk teman sekelasnya, mungkin mereka semua yang melihat ini tak ada yang terlalu kaget lagi. Namun tetap saja, perempuan mana yang tak akan meleleh jika di perlakukan seperti itu? Dan mereka menginginkannya!


Akhirnya Willy melihat tas Seano, Willy mendekat ke arah meja belajar kelasnya, ia akan duduk bersama abangnya.


Sesaat, saat Willy masuk selalu menjadi perhatian semua anak kelas XII IPA 1.


"Dek, bukannya kamu baru kelas 10 ya tahun kemarin??"


"Iya kak, aku aksel ... sama- sama," Ily melihat sekeliling kelasnya... dan yappp.


"Itu tuh... sama Ivan," tunjuk Ily pada Sandy yang sedang mendengarkan lagu menggunakan headphone. Para siswi di kelas pun baru menyadari akan sosok tampan yang bertambah di kelas mereka.


Mereka menjerit tertahan karena Sandy membuka mata dan memberikan senyum manisnya pada semua orang yang berada di kelas.


Kelas ini akan penuh warna untuk satu tahun ke depan. Pikir mereka penuh dengan bunga bermekaran di sekitarnya.




Mau lagi?


Vote dan Comment nya jangan lupa ya...

__ADS_1


__ADS_2