TWIN BROTHERS POSSESSIVE

TWIN BROTHERS POSSESSIVE
Guardian Angel


__ADS_3

Mobil mewah memasuki parkiran khusus petinggi sekolah. Hal tersebut menjadi perhatian para siswa dan beberapa guru yang kini berada di luar ruangan. William turun dengan gagah nya, kaca mata hitam yang kini bertengger di hidungnya membuat beberapa siswi perempuan di sana memekik kegirangan. Ia berjalan ke Arah pintu penumpang dan membuka nya dengan perlahan sehingga memperlihatkan kaki jenjang yang begitu putih mulus keluar dari mobil tersebut. Angin yang sedikit berhembus membuat semua yang melihatnya menjadi adegan slow motion saat dimana angin itu menerbangkan anak rambut dari Kim Lily yang kini tengah mengurai rambut indahnya.


Kim Lily yang kini tengah memakai baju putih pun, sama dengan putri bungsunya. Willy keluar dari mobil dengan topi putih kesayangan nya. Gaun putih tanpa lengan namun tertutup cardigan berwarna putih menambah kesan anggun pada dirinya.


Topi itu sebelumnya milik Sean. Topi kesayangan Sean. Tapi, saat Sean tau saat adik manisnya menginginkan topi itu, akhirnya dengan senang hati ia pun memberikannya.


Willy mengedarkan pandangannya ke sekitar, sebelum keluar dari mobil, ia sempat menghubungi abang nya memberi tahu bahwa dirinya tengah berada di sekolah.


"Ayo, sayang" ajak Kim Lily yang hanya di angguki oleh Willy.


"Princess" teriak Sean dan Seano dari kejauhan saat melihat adik kesayangan mereka. "Jangan lari, twins" ucap Kim Lily yang langsung membuat keduanya berjalan cepat dan memeluk adiknya dengan erat secara bersamaan.


"Kok kesini?? kangen abang ya?" pertanyaan Seano yang di angguki dengan cepat oleh Willy membuat Seano bahagia. Sean yang tak mau kalah pun bertanya pada Willy. "Princess kangen kakak juga, kan?" Willy menggelengkan kepala membuat Sean tertunduk lemas.


"Tapi kangen bangeeeeet" Willy kembali memeluk Sean begitu eratnya dan dengan cepat di balas oleh Sean. Seano mendekat ke arah Kim dan juga William dengan pandangan bertanya.


"Mom, Dad, sebenarnya ada apa kalian datang ke sekolah?"


"Kami akan menindak lanjuti pembullyan di sekolah yang tadi abang laporkan pada mom."


"Sip, abang setuju, tapi Ily sama kita aja ya Dad."


"Kalian kan nanti harus belajar, tunggu, kenapa kalian masih bawa tas?" Tanya Kim Lily saat tersadar kedua anaknya masih memakai tas di punggung mereka.


"Ahh ... emmm, ini, ki-kita telat, Mom." Seano akhirnya jujur dengan kesalahannya. Willy yang mendengarnya pun langsung tersenyum dan mendongak ke atas melihat wajah tampan sang kakak.


"Kakak juga telat dong?"


"Hehehe ... i-iya, Princess, maaf" cicit nya begitu pelan.


"Makasih karena sudah jujur, karena Ily gak suka orang yang berbohong."


"Hmm, kakak tau itu. Oh iya, gimana kalau kita ke kantin? ada makanan kesukaan kamu lohhh."

__ADS_1


"Kakak serius?"


"Serius, ayo" Seano yang melihat Sean membawa Willy pun langsung pamit dan berlari mengikuti kemana perginya mereka. Sean dan Willy menjadi perhatian semua siswa yang kini tengah berada di koridor. Sean  menatap wajah Willy yang masih terlihat jelas walau telah menggunakan topi putih nya.


"Princess, maaf" Strreeet , topi itu semakin di turunkan hingga membuat topi itu menutup setengah wajahnya. "Ihhh ... Kakak, Ily gabisa liat, tau."


"Maaf, Princess. Tapi ini semua demi kebaikan kamu, sini kakak rangkul, biar gak jatuh." Willy pun akhirnya hanya bisa pasrah mengikuti kemauan Sean. Hal tersebut tentu saja menjadi konsumsi para siswi yang kini menatap gemas tingkah ajaib Sean. Mereka bahkan menjerit saat melihat betapa romantis nya Sean pada gadis di samping nya itu.


Segerombolan siswa kelas tiga bahkan memandang remeh ke arah keduanya. Memang se-cantik apa sampai dengan sok nya menyembunyikan wajah nya dari semua orang.


Mereka pun saling bertatapan memberikan kode yang hanya bisa di mengerti mereka. "Wow ... wow ... wow, siapa nih? bawa-bawa cewek dari luar sekolah nih, punya nyali juga lo di sekolah."


****! emang lo gak tau kalau dia anak yang punya sekolah?


Sean menghentikan langkah kakinya karena mereka kini tengah di hadang oleh beberapa kakak kelas yang menghalangi jalannya. "Bagi-bagi dong, ngapain di sembunyiin segala sih, paling gak jauh sama si cupu di kelas kita, ya gak, Bro?" ucapan yang langsung di sambut gelak tawa dari para teman-teman nya. Sean tak ingin adiknya mendengar kata-kata yang tak seharusnya ia dengar, maka dari itu, sebelum mereka bersuara, ia sudah menutup kedua telinga Willy dengan pandangan lurus ke depan.


"Sok gentle banget tuh bocah, masih kelas satu aja udah belagu."


Salah satu di antara mereka dengan cepat membuka topi yang sedari tadi di gunakan oleh Willy. Topi yang kini terlepas memperlihatkan wajah cantik Willy yang selalu kembar Azfary sembunyikan.


"Hallo," sapa Willy dengan senyum yang masih terpatri di wajahnya. Hal itu membuat Sean mengambil topi yang tadi Willy pakai untuk di gunakan lagi. Namun terlambat, semua orang yang kini tengah menatap ke arah mereka terpaku akan kecantikan Willy.


Seano datang dari arah belakang dan langsung menarik Willy dalam pelukannya. Hal itu semakin membuat mereka menjadi pusat perhatian. "Ikut abang yuk" Willy menganggukkan kepalanya setuju dan meninggalkan Sean yang kini tengah menatap para kakak kelas nya dengan tajam.


"Wow, kembar bro, satu cewek buat berdua gitu? bagi-bagi dong" ucapan nya kembali mengundang tawa para teman-teman nya.


Sungguh, itu adalah hal yang paling tidak sopan menurutnya. Adik yang selalu ia jaga di lecehkan dengan perkataan orang jelek yang berada di hadapannya saat ini.


"Lo punya kaca?" Sean berkata dengan nada datar dan wajah yang kini tengah menahan amarahnya.


"Hahahah, maksud lo apa?" tawa yang di akhiri dengan kata penuh ancaman. Namun hal itu tak membuat Sean takut sama sekali. "Ngaca! Lo bahkan gak pantes buat tatap wajah dia"


"Wah ... adik kelas kurang ajar, gak punya sopan santun lo!" Pukulan tiba-tiba melayang ke arah Sean namun dengan gesit nya Sean menghindar dan membalas pukulan itu dengan sangat keras.

__ADS_1


Bughhh, lagi, pukulan di berikan Sean pada kakak kelasnya hingga membuatnya jatuh tersungkur.


Melihat temannya di pukul seperti itu, yang lainnya pun berinisiatif untuk melakukan pengeroyokan pada Sean. Dengan cepat, dua di antara mereka memegangi lengan Sean.


Bughhh, bugghhh suara pukulan yang membuat para siswi menjerit histeris kala idola mereka di pukuli seperti itu.


Namun, bukan Sean namanya jika tak bisa membalas apa yang mereka lakukan. Dengan cepat, Sean membalikkan keadaan dan melayangkan kembali pukulan pada mereka. Perkelahian terjadi begitu sengit tanpa ada yang berani memisahkan. Hingga, suara seseorang menghentikan semuanya.


"Cukup!!!!" Sean yang hendak memukul pun ikut menghentikan pukulannya dan membiarkan kepalan nya kini berada tepat di hadapan musuh nya. Mata yang memerah juga nafas memburu di rasa Sean saat ini.


"Ada apa ini?" tanya seseorang yang kini berada tepat di belakang mereka. "Kepala sekolah, woyy!!!" sang kakak kelas pun langsung mendorong Sean dan bangkit untuk berdiri di samping teman-teman nya.


"Ya ampun, Kakak ..." Kim Lily yang sedari tadi merasa kenal dengan punggung salah satu siswa itu pun langsung tak kuasa menahan tangis karena melihat anaknya tengah babak belur.


"Kenapa? kenapa bisa begini? pasti ada alasannya kan?" tanya Kim bertubi-tubi. Hal itu membuat Sean menghela nafas panjang untuk meredakan emosi yang sedari tadi di rasanya. "Ily"


Hanya mendengar nama putri nya pun, Kim dan William tau bahwa mereka berani macam-macam dengan keluarga Azfary. "Tolong selesaikan masalah ini, Pak." Titah Kim dengan suara tegasnya.


"Baik, Bu. Saya mohon maaf atas ketidak nyamanan nya."


Kim Lily langsung mengecek luka dan beberapa lebam yang di dapatkan Sean. Mata yang selalu lembut kini menatap tajam ke arah kakak kelas yang sedari tadi melihat ke arah mereka dengan tatapan bingung.


"Kali ini, saya maafkan." Kim Lily pun pergi seraya merangkul Sean meninggalkan semuanya.


Seorang teman dari kakak kelas itu pun datang dengan nafas yang terengah-engah. Sesampainya, ia langsung duduk sesekali mengatur nafas karena telah berlarian.


"Gila, gila, lo pada gila, Hahh???"


"Apasih lo? dateng-dateng langsung nyerocos aja."


"Kalian pada gila, heh, kalian gak tau siapa anak kelas satu yang kalian hajar tadi?"


"Siapa sih? Gak penting juga."

__ADS_1


"BODO! dia anak pemilik sekolah ini! dan dua orang yang tadi sama kepala sekolah itu pemilik sekolahnya." Ucapan dari temannya itu pun menjadi sebuah ledakan yang membuat mereka terdiam kaku. Mata mereka melirik satu sama lain sesekali meneguk saliva mereka dengan susah payah.


"Tamatlah riwayat kita"


__ADS_2