
Banyak dari mereka yang masih diluar karena bel sekolah belum berbunyi. Apalah daya, kelas Willy di hebohkan dengan datangnya Seano yang ternyata tengah mengantar adik tercintanya itu hingga depan kelas.
"Makasih abang."
"Sama-sama, sayang. Yaudah kalau gitu abang ke kelas dulu ya." Pamit nya kemudian mengecup puncak kepala Willy.
"Okey, bye abang...."
Sepeninggalan Seano, Willy pun memasuki kelasnya di sambut tatapan kagum juga penasaran dari mereka. Qwezia dan Sasya langsung mendekat ke arah Willy yang kini tengah duduk di kursinya.
"Wah... Kamu di antar sama kak Sean?"
Willy menatap ke arah Sasya dengan cengiran khasnya. "Iya di antar, tapi sama abang Seano bukan kak Sean."
"Ohhh... Kok kamu bisa bedain mereka sih? aku aja susah bedainnya. Padahal kan sama-sama baru kenal."
"Ily udah kenal lama kok sama mereka."
"Oh iya?—" saat hendak bertanya lagi, bel berbunyi membuat Qwe dan Sasya mengurungkan niatnya.
Beberapa anak laki-laki bahkan menatap penasaran akan paras Willy yang semakin hari semakin cantik.
Pelajaran pun di mulai. Sangat guru menjelaskan pelajaran dan memberi tugas yang mengharuskan mereka berkelompok.
Pembagian kelompok yang beranggotakan lima orang untuk melaksanakan tugas observasi lapangan. Dan hal itu membuat mereka harus keluar sekolah untuk melaksanakan tugas tersebut.
Willy bersama dengan Qwe dan Sasya, ditambah dengan dua orang siswa bernama Dimas dan Ciko. Kedua siswa yang langsung bersorak kegirangan kala keduanya satu kelompok dengan bidadari pujaan mereka.
"Hai Willy, kenalin namaku Dimas."
"Aku Ciko."
"Hallo... aku Willy, kalian gak kenalan sama Qwe dan Sasya juga?"
"Kita udah kenal kok, soalnya kita berempat satu SMP."
"Wahhh... seneng banget bisa ketemu lagi di sekolah yang sama ya."
"Yang ada bosen Wil." Timpal Sasya yang menatap ke arah dua pria itu dengan tatapan bengisnya.
"Loh? kenapa?"
"Mereka kan–"
"Eetttt.... Mending kita bahas observasinya." Potong Dimas yang kini tengah memelototi Sasya dengan mata sipitnya. Kenapa? Karena ia sangat tak ingin keburukannya terbongkar begitu saja oleh mulut lemes Sasya dan Qwezia.
__ADS_1
Willy tak paham akan tingkah mereka dan tak terlalu kepo pun akhirnya hanya menganggukkan kepala setuju.
Beberapa rancangan acara yang mereka siapkan untuk observasi telah terbentuk. Akhirnya, mereka berlima maju ke depan untuk melaporkan rancangannya pada guru.
"Baik, lakukan tahap selanjutnya."
Kelimanya mengangguk tanda pamit meninggalkan kelas. Willy berjalan di antara Qwe dan Sasya. Ciko dan Dimas berada tepat di belakang mereka dan terus memperhatikan Willy.
Hingga akhirnya, Mereka telah sampai di depan gerbang dan memberikan tanda izin dari guru bahwa mereka akan melakukan observasi. Hal itu membuat satpam akhirnya membuka pintu gerbangnya.
"Hmm... jadi, kita harus kemana?" Tanya Willy yang kini menatap ke arah teman-temannya.
"Itu tuh, kita ke sana." Tunjuk nya pada persimpangan jalan.
Mereka bersamaan menyebrangi jalan. "Terus kemana lagi?" Tanya Qwezia.
"Ikutin gue." Akhirnya Ciko pun menjadi pemandu dalam perjalanan mereka menuju tempat yang akan di jadikan observasi oleh mereka.
Jarak yang mereka tempuh membutuhkan waktu sekitar lima belas menit karena berjalan kaki. Nafas terengah dari para perempuan pun membuat Dimas dan Ciko menggelengkan kepala.
"Bentar, gue cari makan sama minuman dulu." Ucap Dimas seraya pergi meninggalkan mereka.
Qwe dan Sasya mengipasi wajah mereka yang terasa panas. Sedangkan Willy, ia kini tengah menatap sekitarnya dengan pandangan sendu.
"Hei... kenapa nangis hmm?"
"Ily baru sadar, ternyata masih banyak orang yang membutuhkan bantuan kita." Ciko yang mengerti pun menganggukkan kepalanya. Tangannya merangkul pundak Willy mencoba memberikan kekuatan pada Willy.
Namun beda di mata Qwe dan Sasya membuat dua gadis itu langsung mencubit Ciko.
"Cari kesempatan lo ya...." Ciko pun hanya tersenyum memperlihatkan gigi putihnya kemudian melepas rangkulan nya pada Willy.
Mereka kembali serius kala Sasya bersuara.
"Hm... Kadang kita dengan mudah mengeluarkan uang dan menghamburkan nya tanpa asa. Coba lihat!" tunjuk nya pada anak kecil yang kini tengah menatap seorang pedagang makanan. Ia hanya bisa melihat dengan tangan yang berada di perutnya karena tak bisa membelinya.
Willy merogoh saku pada seragam nya dan menemukan beberapa lembar uang lima puluh ribu. Sayangnya ia tak membawa dompet.
Willy mendekat ke arah sang anak dengan mata dan hidung yang tengah memerah karena menangis.
Anak laki-laki itu menatap Willy dengan pandangan penuh tanya. Wajah kumal dan baju yang sobek membuat hati Willy semakin teriris.
"Kakak kenapa nangis?" Tanya bocah itu kala Willy kembali menitihkan air matanya.
"Ah... Hm... gapapa, rumah kamu dimana?"
__ADS_1
"Itu, di sana." Tunjuk nya pada sebuah rumah terbuat dari bambu dan seng sebagai penutupnya. Willy mengajak anak itu masuk ke dalam rumah. Hal itu pun membuat para teman-temannya beserta Dimas yang telah kembali mengikutinya.
"Mak, ada teteh cantik datang."
"Teteh siapa, jang?"
Seorang nenek yang kini tengah mencapai batas tua datang dengan mengesot untuk mendekati cucunya beserta Willy dan teman-temannya.
Willy semakin nangis sesegukan melihat keadaan rumah ini. Qwe dan Sasya pun menitihkan air matanya tak percaya akan apa yang mereka lihat.
"Halo nek, saya Dimas dan ini teman-teman saya Ciko, Willy, Qwezia dan Sasya. Maaf kami mengganggu waktu istirahat nenek."
"Iya, gapapa cu. Maaf nenek gak bisa lihat, udah tua jadi rabun." Ucapnya dengan tawa penuh kehampaan.
"Nenek sudah lama tinggal disini?"
"Iya, sudah lama den, sebelum ibunya si ujang ini pergi."
"Ujang sekarang umurnya berapa tahun?" Tanya Willy seraya mengelus kepala Ujang yang terlihat gimbal karena tak terurus.
"Berapa tahun mak? Enam tahun ya?" Tanya nya yang dibalas candaan hampa lagi.
"Duka atuh jang, emak tos pikun."
Mereka melanjutkan sesi tanya jawab nya. Willy yang tak henti menangis terus memeluk Ujang dan mengusap punggung ringkih Emak Sarwiah.
Waktu tak terasa berjalan begitu cepat, Dimas pun menyelesaikan pertanyaan nya.
"Emak, kami pamit dulu ya, makasih karena bersedia menjawab pertanyaan kami."
"Sami-sami den."
Dimas dan Ciko memberikan dua keresek makanan pada Emak Sarwiah dan juga Ujang. Binar kebahagiaan terbit dari wajah keduanya.
Willy tak segan mengeluarkan uang yang berada di sakunya dan memberikannya pada Ujang.
"Ujang, ini sedikit dari kakak. Kalau makanan ini habis, Ujang belikan makanan ya buat Ujang sama emak."
"Iya, makasih kak Willy, makasih kakak-kakak." Willy kembali memeluk Ujang, hatinya tersentuh.
Bagaimana pengorbanan seorang cucu berumur enam tahun mengurusi neneknya yang telah lansia.
Mereka akhirnya berpamitan untuk kembali ke sekolah. Begitu banyak pelajaran yang mereka dapat dari Emak dan Ujang. Kesabaran, keikhlasan, dan lainnya mereka lewati dengan senyuman.
__ADS_1