
Seano kini tengah diam mengawasi para temannya yang sedang memberikan beberapa materi terkait tata tertib.
Namun, ia melihat pergerakan aneh. Tatapan elangnya kini tengah menatap tajam ke arah siswa yang sedari tadi terus melirik ke arah adiknya.
"No, oy! Seano!" panggilnya berulang kali namun tak mendapat respon sama sekali dari sang pemilik nama.
Kean menatap Seano dengan sebelah alis yang terangkat. Kemudian, kakinya melangkah mendekati Seano. Namun, belum setengah jalan, ia kembali terdiam kala melihat Seano bangkit dari duduknya.
Mata tajam milik Seano terus tertuju pada siswa yang membuat dadanya bergemuruh menahan marah.
Semua bahkan terdiam kaku terkecuali Willy. Adiknya itu kini malah menatap ke arah Seano seraya tersenyum membuat Seano tak berdaya saat ini.
Langkahnya berhenti tepat dihadapan siswa bernama Gian. Style bad boy dengan baju keluar dan satu tindik di telinga kirinya.
"Ikut saya," ucap Seano dengan nada yang teramat datar.
Gian menyadari akan sesuatu yang teramat bahaya akan terjadi pada dirinya. Namun, ia tetap dengan percaya diri bangkit dari duduknya dengan gaya pongah dan menatap Seano dengan seringai di bibir.
"Apa?"
"Ikut saya!" Titahnya lagi yang kini semakin menekankan katanya.
Gian menatap ke arah sekitar, namun matanya masih sempat melirik ke arah Willy yang ternyata tengah memperhatikannya dengan mata yang mengerjap lucu.
Sebuah senyuman di berikan oleh Gian dan di balas oleh Willy dengan manisnya. Bahkan, senyuman yang selalu menjadi favorit si kembar pun kini menjadi favoritnya juga. Hatinya meleleh, sungguh!
Hingga, sebuah suara kembali menyadarkannya akan nikmat dari bayangan bidadari yang sedari tadi menari di atas kepalanya.
Seano melirik ke arah Kean seolah memberi perintah. Kean yang mengerti akan kebiasaan Seano hanya mengangguk pertanda setuju.
Keduanya kini berjalan dengan Seano yang memimpin di bagian depan. Gian dengan langkah santainya membuka sebungkus bubble gum dan mengunyah nya dengan penuh perasaan.
Perlahan, ia pun membuat gelembung dari permen tersebut hingga akhirnya langkah kaki mereka terhenti.
Gudang.
Itulah yang tertulis di sebuah papan yang terdapat diatas pintu dan kini mereka tepat berada di hadapannya.
"Masuk!" Titah Seano yang sudah memasuki ruangan itu lebih awal. Bisa di rasakan saat ini Seano semakin mengeluarkan aura permusuhan padanya.
Gian sedikit melangkah dengan ragu, hingga sebuah tarikan pada tangannya membuat Gian masuk dengan cepat dan suara dentuman pintu yang tertutup kasar menimbulkan suara yang sangat keras.
"Eh, apa-apaan nih?" ucap Gian tak terima kala melihat Seano yang kini tengah menatapnya dengan tatapan membunuh.
Wajahnya begitu menyeramkan diantara gelapnya ruangan yang bercampur dengan nafas memburu karena pengap nya udara. Gian mencoba mencari sesuatu yang bisa di pakai untuk membantunya untuk melawan Seano.
"Lo tau, apa kesalahan lo?"
"Maksud lo, gue dibawa kesini karena gue punya salah? Salah gue apa oy?"
"Ck, mata!"
"Mata? mata gue? emangnya apa salah mata gue?"
"Mata lo terlalu berani liat kesayangan gue. Bangsa*!" Okey, Seano semakin tak terkendali.
__ADS_1
Gian menatap Seano dengan tubuh bergetar hebat, tatapan Seano seakan bisa membunuhnya. Namun dalam pikirannya saat ini, ia bertanya akan apa yang di sayangi oleh Seano.
"Siapa maksud lo?" tanya Gian yang semakin beringsut kala Seano melangkah mendekatinya.
"Willy, dia kesayangan gue." Seano bahkan tengah berada tepat di hadapannya saat ini.
"Dan lo, harus tau akibatnya." Belum sempat Gian berkata, sebuah tangan membuat tenggorokannya bahkan sulit untuk bernafas.
"So—sorry. Gue gak bermaksud buat ahhkk——"
Cekik kan pada lehernya membuat Gian membelalakkan matanya tak percaya.
"Astaga, ini sungguh menyakitkan!" Batin Gian kala tangan Seano semakin mencengkram lehernya begitu kuat.
"Keluar dari sekolah ini atau mati?" Bisiknya teramat pelan. Gian semakin takut kala Seano mengeluarkan sesuatu dibalik saku celananya.
"Ok—oke, g-gue ke—khhekk keluar!" Jawabnya dengan susah payah.
Seano tak jadi mengeluarkan benda tersebut. Tatapan matanya kini masih menghunus tepat pada manik mata Gian yang kini tengah menghirup oksigen sebanyak mungkin.
"Gue tunggu besok."
Seano melangkah kakinya keluar dari ruangan pengap itu dengan santai. Namun sebelum itu terjadi, Gian sempat melayangkan sebuah kursi kayu tepat ke arah Seano.
Suara dentuman yang begitu keras terdengar ke telinganya. Bukan Seano yang berdarah-darah saat dilihatnya kini. Melainkan, Seano yang tengah membawa potongan kursi itu dan tanpa bisa menghindar lagi, kepala nya terkena pukulan kayu yang bisa di pastikan bahwa Seano lah pelakunya.
Matanya memburam, bisa dirasakan cairan kental berbau amis kini mengalir dari kepalanya.
"Lo salah cari lawan." Seano menendang kaki Gian sebelum meninggalkannya di gudang.
Getaran ponsel milik Sean yang berada di saku celananya membuat remaja lelaki itu dengan cepat mengambilnya.
Nomer asing tertera pada ponselnya dan mengirim sebuah pesan yang pasti tertuju padanya.
0852768xxxxx
Jam 4 di lapangan kompleks melati.
Sean berfikir keras akan pesan yang diterimanya ini. Siapa? Ada apa?
Akhirnya, tanpa membalas pesan tersebut, Sean bertekad untuk datang ke tempat yang sudah dijanjikan. Dengan cepat, jari-jarinya mengetikkan sebuah pesan pada Seano.
Me :
"Bang, Kakak ada urusan sepulang sekolah. Ily sama Abang ya, besok biar kakak, kita giliran."
Saat hendak menyimpan ponselnya, Sean merasakan getaran lagi yang ternyata balasan dari Seano.
Abang :
Kemana?
Me :
Lapangan basket komplek melati, Bang.
__ADS_1
Sean pun menyimpan kembali ponsel miliknya. Matanya ia lirik kan ke sekitar mencari seseorang yang setidaknya menjadi orang yang akan ia curigai.
Namun nihil. Akhirnya ia pun kembali menatap arah depan dimana sang guru tengah mengajar.
Dalam benaknya ia terus bertanya akan siapa pengirim pesan itu. "Hah, sudahlah, liat aja nanti!"
*****
Bel pertanda istirahat pun berbunyi, dengan cepat Sean bangkit dari duduknya menuju kelas yang kini menjadi tujuan utamanya.
Namun sebelum itu terjadi, seseorang menghadang jalannya membuat Sean mundur beberapa langkah. Kepalanya ia miringkan menatap tak suka perempuan di hadapannya saat ini karena menghambat keinginannya.
"Sean—"
"Minggir."
"Sean, kita ke kantin bare—" belum usai katanya terpotong kala Sean melangkah tanpa menghiraukan seseorang itu.
"Haisshhh, menyebalkan!" geramnya karena mendapat penolakan langsung dari Sean.
Sean berjalan dengan langkah kaki lebar menuju kelas dimana princess nya berada.
Namun, belum sampai, matanya melihat dimana Willy dan Seano yang kini berjalan seraya tertawa bersama. Sean pun akhirnya mendekat.
"Princess." Panggilnya membuat Willy tersadar dan dengan segera Sean melabuhkan kecupan pada kening adik kesayangannya.
Willy tersenyum senang kemudian merangkul kedua lengan si kembar dan melangkah bersama menuju kantin.
Setelah sampai, ketiganya melihat sekitar untuk mencari meja kosong. Saat di temukannya, akhirnya mereka duduk bersama.
Bahkan mereka tak sadar kala mata semua orang menatap ke arah mereka dengan tatapan tak percaya, iri dan lain sebagainya. Sama seperti dua orang di beda tempat yang kini tengah mengepalkan kedua tangannya tak terima akan apa yang mereka lihat saat ini.
Sean kembali merasakan getaran pada saku celananya lagi. Ia melihat dengan jelas bahwa waktu yang di tentukan berubah dan itu sekarang. Matanya menatap ke arah Seano yang kini tengah menatapnya juga.
"Now." Ucap Sean tanpa suara yang akhirnya di balas dengan anggukan mengerti oleh Seano.
"Kakak mau makan sama apa?" Tanya Willy yang kini menatap beberapa stand makanan yang telah bersedia.
"I'm sorry Princess, Kakak harus pergi sekarang."
"Loh? pergi kemana? Kakak kan belum makan siang," tahan Willy pada lengan Sean yang kini tengah bangkit dari duduknya.
"Kakak lupa tadi sempat di panggil kepala sekolah. Ya, itu ...."
"Hmm, okey, tapi kakak harus makan setelah itu ya?"
"Siap sayang, kakak pergi ya. Kamu harus makan yang banyak sama abang."
"Bang, Kakak pergi ya," lanjutnya pamit pada Seano.
Setelah kepergian Sean, Willy dan Seano pun langsung memesan makanan untuk mengisi perutnya yang kembali kosong.
*****
Maafkan author yang mangkir dari jadwal UP seharusnya. Mudah-mudahan kalian gak marah dan tetap stay sama ceritaku.
__ADS_1
Happy Reading.