TWIN BROTHERS POSSESSIVE

TWIN BROTHERS POSSESSIVE
Hari Yang Ditunggu


__ADS_3

Waktu terasa berjalan begitu cepat, bagaimana tidak? Bahkan hari ini pun semua anggota dan para pembina OSIS tengah mengadakan rapat untuk penerimaan siswa baru. Seano tengah duduk dengan santai di ruang OSIS yang telah dipenuhi anggota lainnya. Namun, karena sang pembina belum datang, mereka memiliki waktu bebas sebelum rapat dimulai.


Seano mengeluarkan ponsel yang sedari tadi ia simpan dalam saku celananya. Kemudian ia mencari satu kontak yang pasti akan menjadi orang pertama yang Seano hubungi.


Me :


Princess, Abang hari ini ada rapat OSIS, maaf gak bisa antar Ily untuk beli perlengkapan sekolah nanti.


Princess :


Gapapa, Bang. Abang sudah makan? jangan sampai telat makan ya ... nanti Ily pergi sama kakak aja.


Me:


I'm sorry, Princess.


Princess:


Don't worry about it, kalau gitu, Ily siap-siap dulu ya, Bang.


Me:


Okey, Princess. Take care, Baby.


Princess:


I love you


Me:


I love you too


Tak di sangka, seseorang yang kini berada di sebelahnya menatap ke arah ponsel yang sedari tadi Seano sembunyikan. Kesan pertama saat melihat foto pada ponsel milik Seano yang kini tengah di jadikan nya sebagai wallpaper membuatnya terpesona akan wajah cantik itu.


Seano sadar akan tatapan orang di sampingnya dan kini membuat nya menatap tajam tepat pada netra hitam milik Kean.


"Apa?"


"Hah? gak!" jawabnya cepat dan tersentak kaget saat Seano memergoki dirinya tengah mencuri pandang pada gadis di ponsel Seano.


"Selamat sore." Sapa seorang guru yang kini tengah menggunakan kemeja biru langitnya dan tengah membawa beberapa file dalam genggaman  tangannya.


"Selamat sore, Pak."


"Mohon maaf atas keterlambatannya, baik, kita mulai saja rapatnya. Sebelum itu, mari kita berdo'a menurut agama dan kepercayaan masing-masing, berdo'a dimulai."


Mereka semua memanjatkan do'a berharap agar rapat kali ini berjalan lancar dan mendapat hasil yang sempurna. Apalagi, sebagian dari mereka berharap bahwa rapat ini akan cepat selesai.


"Berdo'a, selesai."

__ADS_1


Rapat pun dimulai, semua langsung menyimak apa yang di sampaikan oleh pembina dan ketua OSIS yang kini tengah siap dengan catatan di tangannya.


Terutama untuk pemilihan ketua panitia Masa Orientasi Siswa tahun ini. Sang pembina OSIS menunjuk Seano dan Kean sebagai kandidatnya. Bagaimana pun juga, keduanya tengah di gadang-gadang kan dengan posisi calon ketua OSIS dan Wakil ketua OSIS.


Voting dimulai, beberapa dari mereka merasa kesulitan memilih salah satu dari mereka karena keduanya memiliki potensi yang bagus dalam berorganisasi.


Kertas yang telah di sediakan menjadi hasil akhir voting kali ini. Nama keduanya di sebutkan saling bergantian hingga hasil akhirnya menyatakan bahwa Seano lah yang akan menjadi ketua panitia masa orientasi siswa tahun ini.


Setelah mendapat ketua dan wakilnya, mereka kembali pada pokok pembahasan lainnya. Seano mendengar dengan seksama akan apa yang di sampaikan pembina OSIS. Matanya sesekali melirik ke arah jam yang kini tengah melingkar di tangannya hanya untuk memastikan berapa lama lagi ia akan berada disini, apakah adiknya sudah makan? apakah adik manisnya tak kelelahan? fikiran seperti itu membuat Seano kadang menjadi tak fokus. Namun, ia yakin bahwa adik kembarnya Sean mampu menjaga adik manisku.


*****


Kamar yang cantik di penuhi aksesoris berwarna pink membuat kesan girly bagi siapa pun yang melihatnya. Wangi stoberi yang tercium dari pewangi ruangan membuat Willy sangat merasa nyaman kala berada di kamarnya. Willy pun kini tengah bersiap dengan setelan outfitnya, rambut yang ia urai dengan  topi hitam yang sudah bertengger di kepala. Kali ini, ia menggunakan jaket hitam dengan celana jeans panjang yang memiliki sobekan di lututnya. Entah kenapa, saat pergi dengan Sean sang kakak, Willy lebih suka memakai baju yang tertutup karena bisa di pastikan bahwa dirinya akan menaiki motor sport milik Sean. Topi hitam yang sebelumnya ia beli dengan Seano pun kini ia gunakan untuk menutup kepalanya, bukan karena agar terhalang sinar matahari, lagian ini sudah sore. Melainkan karena ia tau kakak posesif nya ini pasti akan dengan cepat menyembunyikan wajah Willy. Maka dari itu, sebelum mukanya terus menempel pada dada bidang Sean demi menyembunyikan wajah cantiknya, Willy berinisiatif untuk membawa topi dan bersembunyi di baliknya.


"Ready?"


"Readyyyyy," peliknya seraya merangkul lengan milik Sean dan membawanya keluar mansion. Motor sport hitam tengah terparkir dengan gagahnya di depan teras siap untuk mereka tumpangi. Sean yang duduk terlebih dahulu pun mengulurkan tangannya pada Willy dan menggenggam erat jari-jemari kecilnya membantu Willy agar bisa duduk di boncengan nya.


Sean merasakan bahwa Willy tengah duduk dengan sempurna. Topi yang ia gunakan sebelumnya telah ia balik dan memakai helm pemberian Sean.


Kuda besi itu masih terdiam di tempatnya membuat Willy mengernyit keanehan. "Kenapa, Kak? kok belum jalan?"


"Kamu gak akan pegangan, Sayang?"


"Oh-iya," tanpa banyak kata lagi, Willy langsung melingkarkan tangannya pada perut Sean dari arah belakang. Punggung kokoh dengan bahu lebar dan tak lupa otot yang semakin hari semakin bertambah membuat Willy merasa nyaman akan nya. Willy menyandarkan kepalanya pada punggung Sean seolah mencari kenyamanan.


Gedung pencakar langit dengan banyaknya segala macam kebutuhan yang diinginkan para manusia haus akan barang-barang branded. Kini Sean dan Willy pun tengah berada di gedung tersebut. Barang mewah dengan harga fantastis tak membuat keduanya mati kehabisan nafas. Black card pemberian sang daddy mulai di gesek kan pada mesin EDC saat melakukan pembayaran adalah hal yang wajar.


Sean menggandeng Willy memasuki toko sepatu yang akan di gunakan oleh adiknya nanti. Mata coklat terangnya menatap sekitar dengar binar penuh kesenangan. Sean selalu setia berada di samping Willy. Sesekali, gadis berparas cantik itu meminta pendapat pada Sean yang selalu di jawab dengan anggukan pertanda setuju.


Lagi, uang keluar dengan mudahnya setelah menemukan sepatu yang pas untuk Willy. Tapi, bukan untuknya saja, Willy membeli tiga pasangan dengan model serupa namun warna yang berbeda. Ia memilihkan untuk Sean juga Seano yang pastinya akan senang dengan apa yang Willy beli.


"Kenapa tiga, Princess?"


"Ily beli tiga buat Kakak sama abang juga kok."


"Oh ya? Kakak juga dapat sepatu baru, nih?"


"Iya dong ..."


"Thank you, Princess." Kecupan mendarat di kening nya dengan lembut Sean pun menuntun Willy keluar dari toko sepatu dan melangkah menuju sebuah restoran.


"Kita makan dulu ya, kamu pasti capek, ya kan?"


"Iya, hehehe ... Ily pegel banget."


"Nanti, Kakak pijitin di rumah, okey?"


"Beneran ya ...."

__ADS_1


"Iya dong, masa Kakak PHP sama kamu sih." Ucapan Sean di tanggapi dengan tatapan tak terbaca dari Willy, alisnya mengkerut menandakan kebingungan akan apa yang di ucapkan Sean tadi.


"PHP itu apa, Kak?"


Sean baru tersadar akan kebodohannya, adiknya ini seorang gadis cantik yang polos namun memiliki kepintaran di atas rata-rata. Itulah sebabnya mereka selalu posesif pada Willy agar kepolosannya tak di manfaatkan oleh orang lain.


*****


Hari kian berlalu, kini saatnya semua hal baru akan hadir dalam hidupnya. Ya, lebih tepatnya besok.


"Keaaaan ... bantuin, Mama"


"Apa, Ma?" jawab Kean seraya mendekat ke arah perempuan paruh baya yang kini tengah berdiri di depan penggorengan.


"Ini bantuin buka tutup botol" sang mama hanya memperlihatkan gigi putihnya pertanda ia malu kala melihat wajah anaknya yang kini tengah menatap dirinya dengan pandangan meremehkan.


"Mama gimana sih? masa buka tutup botol aja gak bisa."


"Mama bisa sendiri kok, tapi mama sengaja, biar kamu ada kerjaan. Eh iya, besok kamu mulai MOS, ya?"


"Hm ... iya Ma, cuma kita gak akan ada Orientasi seperti biasanya, gak tau kenapa, untuk tahun ini paling cuma pengenalan guru dan lingkungan sekolah aja."


"Loh? kok ga ada sih? gak seru dong," komentar sang mama yang di balas dengan gelengan dari Kean.


"Itu perintah dari atasan juga, Ma"


"Ohh begitu, yaudahlah, asal kamu jangan kecapean yaa"


"Siap, Mamaku sayang"


Kean pun akhirnya kembali memasuki kamar miliknya.


"Semoga esok akan jadi hal baru yang menyenangkan"


Kean adalah orang yang sangat dingin. Sangat, sangat , sangat dingin entah darimana sifat itu muncul, padahal kedua orang tuanya termasuk golongan orang yang ramah dan banyak bicara.


Kean adalah Wakil ketua OSIS di sekolahnya. Kean juga tak kalah populernya dengan si kembar Azfary.


Sinar mentari pagi telah terbit menampakkan cahayanya.


"Ma, Kean berangkat dulu ya, Kean terlambat, lupa bakalan ada breafing dulu"


"Eh-eh ... tunggu, ini di bekal makannya"


"Okey, bye, Ma "


"Bye ... hati-hati di jalannya, Sayang" teriak sang mama karena Kean sudah jauh dari pandangannya.


***

__ADS_1


__ADS_2