TWIN BROTHERS POSSESSIVE

TWIN BROTHERS POSSESSIVE
Mencari


__ADS_3

Mobil mewah kini telah memasuki pekarangan mansion. Dan waktu pun menunjukkan pukul 10 malam. Kediaman Azfary terasa sangat sepi, mungkin karena mereka sudah tertidur. Dan itu adalah kesempatan keduanya untuk bergegas memasuki kamar masing-masing.


Seano dengan beberapa lebam di wajahnya, tak lupa juga Sean yang di yakini wajah lebam serta perut yang akan terasa sakit karena pukulan kuat dari Seano. Abangnya itu sungguh totalitas dalam berakting.


Sean bergegas ke kamar mandi untuk menyegarkan kembali tubuhnya. Rasa sakit yang ia rasakan pun kini mulai semakin terasa. Beda dengan Seano yang baru saja memasuki kamar langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan mata yang kini tengah menatap langit-langit kamar.


Tiba-tiba saja sekelebat bayangan kembali pada kejadian dimana ia melihat wajah cantik penuh dengan rasa panik itu tengah berbicara padanya.


Remaja lelaki itu langsung tersadar akan pikirannya yang teramat bodoh. Ya! Sangat-sangat bodoh. Akhirnya ia bangkit dan bergegas untuk membersihkan tubuhnya yang terasa sangat lengket.


Suara air mengalir dengan kepulan uap yang membuat kaca kamar mandi menjadi buram. Seano menatap itu dengan pandangan yang sulit di artikan, dan tiba-tiba saja tangannya terangkat.


Ia menuliskan sebuah nama yaitu 'Aqila Rahma Wirawan'.


Entah ide gila darimana kala ia dengan PD nya menambahkan sebuah emoticon love di akhir namanya.


"Arrggghhh, jangan sampe! Lo jangan sampe jatuh cinta Seano! Willy is nomber one!"


"Ya, Ily prioritas gue!" Itulah yang selalu twins tanamkan dalam hati mereka. Tak ada yang bisa menggeser posisi sang adik. Siapa pun itu! Beda lagi dengan nilai kedua orang tuanya yang sudah pasti tertanam di hati mereka.


Dengan segera Seano pun membereskan acara mandinya. Ia sedikit menggigil karena sedari tadi ia malah diam bergeming menatap nama itu.


Suara ketukan pada pintu kamar mandi membuat  Seano yang baru saja menyelesaikan mandinya langsung keluar dan melihat siapa pelaku si pengetuk pintu.


"Eh? Ada apa Kak?" Tanya Seano dengan satu alis terangkat.


"Bang, gawat bang!"


"Kenapa? Gawat kenapa?"

__ADS_1


Sean berjalan mondar-mandir karena rasa panik yang terus melandanya. Seano yang melihat itu hanya menatap jengah ke arah Sean karena pertanyaannya sama sekali tak terjawab.


Kedua lengan Sean di cengkram erat oleh Seano untuk mengentikan tingkah nya itu.


"Ada apa kak?" Tatapan tajamnya begitu datar membuat Sean susah menelan saliva nya.


"Bang, Ily ga ada di kamarnya." Ucap Sean yang langsung membuat Seano terpaku.


"Di kamar mommy?" Tanya nya dengan sedikit harapan adiknya berada di sana.


"Ga ada bang.... Mom dad juga ga ada di kamarnya."


Mendengar hal itu, Seano bergegas mencari ponsel dan mengetikkan sebuah nama.


Mommy


Seano men-dial nomer itu. Namun... tak dapat di hubungi. Astaga! Sebenarnya kemana mereka?!


"Telepon Ily, Kak. Abang akan telepon daddy." Titah Seano yang langsung di angguki oleh Sean.


Mereka panik! bagaimana tidak? Orang yang mereka sayangi tak ada berada di dekat mereka.


Lain halnya dengan Willy yang kini tengah bercanda ria dengan kedua orang tuanya. Ketiganya berada di ruang yang jarang terpakai di lantai tiga. Di atas tempat tidur yang luas, ribuan bintang tengah menyapa di atas langit-langit kamarnya.


Ia tidur di antara mom dad nya. Hal yang selalu Willy inginkan dan selalu ia rindukan. Karena bermanja-manja dengan kedua orang tuanya merupakan suatu hal yang paling teramat sangat menenangkan. Semua penuh kelembutan dan kasih sayang.


"Tidur sayang, besok kamu sekolah. Dan satu pesan mom, kalau sekolah jangan terlalu cape ya. Mommy tak mau kamu terlalu cape dan buat kamu jatuh sakit."


"Iya mom, akan Ily laksanakan." Willy mengeratkan pelukannya pada sang mommy dengan daddy yang ikut memeluknya dari arah belakang.

__ADS_1


"Sweetie, jangan pernah sungkan untuk mengeluhkan apapun yang membuat kamu tidak nyaman saat kamu di sekolah."


"Okey daddy, I'm promise."


Mereka akhirnya tertidur dengan pulas tanpa menghiraukan kedua anak lainnya yang kini tengah kelabakan mencari mereka.


Biarkan saja, anggap ini sebagai hukuman karena keduanya tega meninggalkan Willy.


Kembali pada twins yang kini tengah turun dan mencari para asisten rumah tangga nya.


Dalam hati ia terus meminta maaf pada Willy. Karena mereka yakin akan alasan kenapa kedua orang tuanya menyembunyikan Willy.


Suara ketukan  pintu membuat sang empu kamar membukanya dengan perlahan, wajah penuh penat tergambar begitu jelas di wajah nya.


"Eh, den Seano, ada apa ya den?"


"Bi, tau dimana Ily? Mom and dad? Apa mereka keluar sebelumnya?"


"Sebentar den, bibi ingat-ingat dulu." Sedikit terasa hening, karena sebuah ketukan jari Seano pada pintu kamar bibi tak ada hentinya.


"Seingat bibi, tuan dan nyonya gak ada keluar kok den, tadi sih sempat bibi liat ke lantai tiga."


Sean dan Seano saling berpandangan saat tau dimana mereka berada. Keduanya berlari menuju lift. Dengan nafas terengah karena lari dari arah kamar pembantu ke arah lift. Mereka berusaha menetralkan suara nafas nya dan sedikitnya hati mereka tak lagi merasa khawatir.


Lift terbuka membuat Sean Seano segera berjalan cepat menuju ke arah pintu yang sedari tadi tak terpikirkan oleh mereka.


Pintu pun dibuka. Betapa Lega nya mereka kala melihat adik tercintanya tengah tidur diantara mom dad.


Mereka berjalan dengan perlahan dan mengambil posisi masing-masing. Sean di belakang daddy dan Seano di belakang mommy. Keduanya pun ikut tertidur seraya memeluk kedua orang tuanya.

__ADS_1



__ADS_2