TWIN BROTHERS POSSESSIVE

TWIN BROTHERS POSSESSIVE
Terungkap


__ADS_3

Seseorang yang sedari tadi menguping pun langsung membuka pintu dengan kasar. Ia sungguh tak menyangka dengan apa yang di dengarnya saat ini.


"Daddy!" Pekik keduanya bersamaan saat melihat siapa yang memasuki ruang inap Sean dengan paksa.


"Abang, jawab pertanyaan daddy, apa benar abang yang lakuin itu?"


"...." Seano menundukkan kepala nya merasa takut akan aura yang si keluarkan oleh sang daddy.


"Abang, jawab pertanyaan daddy." Tegasnya menuntut jawaban dari Seano.


Putra sulungnya itu gemetar ketakutan dengan kedua tangan saling meremat untuk menghilangkan rasa takut yang ia rasakan.


William yang melihat itu pun merasa tak tega, kemudian ia mendekat ke arah Seano dan memegang kedua pundaknya membuat Seano terlonjak kaget.


"Ampun D-dad. A- abang-" Bukan sebuah pukulan yang ia dapat seperti apa yang ia pikirkan sebelumnya. Tapi sebuah pelukan hangat dari William membuat Seano akhirnya menitikkan air matanya.


"Maafin abang dad. Abang-"


"Sssttt... Jangan nangis, putra daddy harus kuat."


"Dad-"


"Hm... Daddy memang senang orang yang mengusik keluarga kita hilang. Tapi satu hal yang daddy terapkan pada kalian. Biarkan tangan daddy saja yang kotor. Tidak untuk kalian. Berantem atau memukul boleh, tapi jangan membunuh."


"Maafin abang dad." Tangis dari Seano membuat Sean ikut menitikkan air matanya. Sesekali, tangannya yang bebas dari jarum infus mengusap pipinya yang basah.


"Abang tenang saja, biar daddy yang selesaikan."


William duduk di tempat tidur milik Sean. Tangan lebarnya yang hangat mengelus surai Sean membuat sang empunya tersenyum.


"Maafin kakak juga ya dad."


"Loh? Kenapa?"


"Karena kakak bikin daddy repot dan masuk rumah sakit."


"Maka dari itu, kalian harus kuat. Dan, daddy tak pernah merasa di repot kan oleh keluarga daddy. Kalian putra daddy, begitu pun Ily."


Mereka bertiga akhirnya berpelukan.



Keesokan harinya, suasana pagi yang terasa damai di kejutkan suara benda jatuh dari lantai atas. Hal itu di sebabkan oleh Willy yang terjatuh karena tersandung meja telepon yang ada di sebrang kamarnya.



"Auhh, sakit." Ucapnya sedikit meringis, Willy pun berjalan menuju lift. Ia memencet tombol untuk menuju lantai satu.



Namun tanpa di sangka, di dalam sana ada Seano yang tengah berkacak pinggang dengan wajah khawatir nya.



"Ily, ada apa sayang? Tadi suara apa?"



"Ehehe... abang, tadi Ily jatoh." Ucapnya seraya menunjukkan lututnya yang sedikit memerah. Ily pun memperlihatkan senyuman manisnya dengan tangan yang menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal.



"Hati-hati sayang... jangan ceroboh seperti ini. Sini abang gendong." Seano pun memunggungi Willy dan menyuruh sang adik untuk menaiki punggung nya.



"Ily gapapa kok bang." Tolak nya merasa tak enak karena telah membuat Seano khawatir.



"Udah, sini naik. Abang gak mau Ily kesakitan kayak gitu."



Willy tau kalau ia akan kalah telak jika berdebat sang abang. Akhirnya ia pun menaiki punggung abangnya dan mulai menaiki lift kembali dan menuju lantai bawah.



Kim yang melihat mereka turun pun langsung mendekat ke arah keduanya dengan tergesa-gesa.



"Loh? Ily kenapa sayang?"



"Jatoh mom."



"Hati-hati dong sayang, ada yang luka atau sakit?" Tanya Kim seraya mengecek bagian tubuh Willy.



"Ini merah sayang! Mommy akan bawakan dulu kotak P3K nya."



"Mom—"

__ADS_1



"Ssstttt... nurut aja sayang." Pangkas Seano membuat Willy akhirnya bungkam.



Gak lama kemudian, Kim kembali dengan kotak P3K yang berisi beberapa obat-obatan. Dengan telaten, Kim mengoleskan obatnya pada kedua lutut Willy.



Seano tak tinggal diam, ia membawakan Willy sarapan dan mulai menyukainya dengan perlahan.



"Udah selesai."



"Thank you mommy." Willy merentangkan tangannya meminta pelukan dari Kim. Dan tentu saja ia mendapatkan apa yang ia mau. Kim memeluk nya dengan erat.



"Lain kali hati-hati ya sayang. Mommy gak mau kamu sakit atau terluka sedikit pun."



"Okey mom..."



Seano melihat dua orang tersayang nya tengah tersenyum bahagia membuat hatinya menghangat. Tangannya pun terus memainkan rambut Willy saking tak ingin mengganggu keduanya.



"Okey princess, waktunya berangkat sekolah." Seru Kim membuat Willy akhirnya melepas pelukannya.



"Oh iya! ayo bang kita berangkat. Eh, abang udah sarapan?"



"Sudah dong." Tatapan matanya menunjukkan pada dua piring kosong yang berada di atas meja.



"Kok Ily gak sadar ya kalo abang lagi makan?"



"Hmm... terlalu asik berdua sih, abang di lupain."




Seano tak menjawab pertanyaan dari Kim membuat ide jahil terpikir dalam benaknya.



"Yaudah, Ily pergi sama pak Wawan aja."



"Ehhhhh— gak bisa gitu dong Mom. Ily harus berangkat sama abang."



"Loh? Udah bisa bicara ya? Perasaan tadi gak bicara deh."



"Ihhh mommy, kok jahil sama abang sih mom."



"Hahahaha... lagian kamu, sok-sok an diemin mommy."



"Hehehe, kan becanda mom. Yaudah kalo gitu abang sama Ily berangkat sekolah dulu ya."



"Iya sayang, Hati-hati yaaa...."



"Yup! Mom...."



Seano dan Willy pergi bersama menuju sekolah. Dengan kecepatan sedang, Seano membawa laju mobil sport nya membuat ia terlihat sangat cool.



Dan, tibalah mereka di sekolah. Dengan tas yang ia sampirkan ke sebelah bahunya, Seano membukakan pintu mobil untuk Willy.


__ADS_1


"Silahkan Princess."



"Thank you Prince." Balas Willy seraya menggenggam tangan Seano yang sudah terulur tepat di hadapannya.



Mereka selalu menjadi pusat perhatian. Ada pun dari mereka para siswi yang ingin berada di posisi Willy. Bisa berdekatan saja sudah senang, apalagi bisa menggenggam tangan Seano. Sungguh, ketua OSIS idaman.



Namun, beda lagi dengan para siswa yang hanya bisa mengagumi Willy secara diam-diam. Kenapa begitu?



Karena mereka sudah tau rumor yang terjadi di gudang sekolah kala itu. Saat seseorang berani menatap Willy secara terang-terangan dan memujinya di depan kembar Sean Seano, pasti akan hilang. Dan ia pasti di temukan dengan luka-luka yang sangat parah.



Itu menakutkan!



Maka dari itu, mereka lebih memilih main aman saja dari pada habis tak bersisa seperti salah satu korbannya itu. Dan satu lagi, mereka di keluarkan dari sekolah secara tidak hormat.



"Abang, Ily mau ke perpustakaan dulu."



"Abang atar ya..."



Willy menganggukkan kepala setuju. Namun saat hendak berbelok, mereka di hentikan oleh salah satu anggota OSIS yang sepertinya tengah berkeliling memeriksa atribut siswa.



"Seano!"



Seano dan Willy pun berhenti, keduanya menunggu siswa dengan nama Jay itu mendekat. "Ada apa?"



"Di panggil sama kesiswaan."



"Ngapain?"



"Gatau."



Seano pun menatap Willy dengan menyesal. "Sorry sweetie, abang gak bisa antar ke perpustakaan."



"Gapapa kok, Ily bisa pergi sendiri."



"Jangan sendiri." Otaknya seakan mau pecah kala ia harus membiarkan Willy berjalan dengan salah satu anggota nya. Tapi itu lebih baik dari pada harus pergi sendiri.



"Kamu sama Jay aja."



"Eh? Emang kak Jay gapapa antar Ily?" Seano menatap Jay yang kini tengah berbinar menatap Willy membuat Seano ingin sekali menarik kata-katanya.



"Ga papa dong, Willy tenang aja. Pasti kakak jagain."



"Luka sedikit aja, urusan lo sama gue." Ancam Seano membuat Jay dengan susah payah meneguk saliva nya.



"Abang...."



"Okey sweetie, kalau gitu abang tinggal ya."



"Okey, bye abang." Sebelum meninggalkan Willy, seperti biasa Seano akan mengecup kening Willy. Hal itu jelas membuat Jay yang melihatnya merasa envy.


__ADS_1


Seano pun pergi. Akhirnya, Jay dan Willy pergi bersama menuju ke perpustakaan. Jay yang humble membuat Willy merasa senang karena bisa mengobrol dengan Jay. Namun, seseorang di belakang sana tak menyukai itu. Kean.



__ADS_2