TWIN BROTHERS POSSESSIVE

TWIN BROTHERS POSSESSIVE
Firasat Willy


__ADS_3

Pagi yang cerah membuat Willy semangat menjalani hari, rasa sakit pada perutnya pun mulai berkurang. Begitu pun Sean dan Seano, si kembar yang kini tengah siap dengan seragamnya hanya tinggal menunggu Willy saja.


Jadwal mengantar Willy hari ini adalah Sean. Karena itu, Willy telah siap dengan celana panjang agar memudahkannya menaiki motor kesayangan sang kakak.


"Ayo kak." Ajak Willy membuat si kembar menatap ke arah adiknya. Dengan senyum, Sean menyambut Willy.


"Ayo."


"Abang hati-hati ya bawa mobilnya."


"Siap Princess." Kecupan Seano labuhkan pada pucuk kepala Willy membuat gadis itu tersenyum memperlihatkan gigi putihnya.


Sean membantu Willy menaiki motor sport miliknya. Bahu yang tegap dengan tangan yang ia siapkan untuk menjadi pegangan Willy membuat gadis itu pun akhirnya naik dan langsung memeluk Sean dengan eratnya.


"Okey, Ily udah siap."


Sean mengelus tangan Willy yang kini tengah memeluknya, kemudian ia pun mulai menancap gas meninggalkan mansion. Mereka pergi secara bersamaan dengan Seano yang kini berada di depan mereka dengan mobilnya.


Suasana gerbang yang ramai membuat Sean dan Seano menurunkan kecepatan laju kendaraan yang mereka tumpangi. Selalu dan selalu... mereka menjadi pusat perhatian.


Kean yang berjaga di depan gerbang sebagai OSIS pun mendekat ke arah Sean dan Willy.


"Hai Willy."


"Eh, Hai kak Kean?" Tanya Willy sedikit ragu karena takut salah menyebutkan namanya.


"Iya aku Kean. Emm... Willy, gimana kalau nanti istirahat pertama kita makan bareng?"


"Gak bisa!" Jawab Sean dengan tegasnya saat ia mendengar ajakan Kean pada Willy.


"Gue ngajak Willy bukan lo!"


"Tetep gak bisa, ya kan sayang?"


Willy menatap Sean yang ternyata tengah menatapnya juga. "Hm... iya kak, Willy gak bisa."


"Yah... yaudah, kalau istirahat kedua gimana?" Tanya nya lagi.


"Tetep gak bisa."


"Kok lo terus yang jawab sih?"


"Terserah gue dong, ayo sweetie kita masuk kelas." Tanpa basa-basi lagi, Sean membawa Willy pergi dari hadapan Kean yang kini tengah mengepalkan tangannya.


"Sebenarnya mereka ada hubungan apa?" Tatapan matanya semakin menajam kala melihat betapa mesranya sikap Sean pada Willy.


"Ini gak bisa di biarin."


Kean pun pergi meninggalkan parkiran dan kembali ke tempat tugasnya.




Seperti ucapannya saat di parkiran tadi. Sean kini tengah menunggu Willy di depan kelas adik manisnya itu untuk mengajak Willy istirahat bersama.



Beberapa teman dari kelas Willy pun mulai berhamburan keluar namun diakhiri dengan raut terkejut. Adapun dari mereka yang berteriak saking tak kuasanya menahan godaan iman yang kini tepat di depan matanya.



"Astaga... Ini kak Sean atau kak Seano ya? Buseeet... ganteng banget!"



"Gila! Kaget gue!"



"Cowok bad boy kesukaan gue."



Willy pun bangkit dari duduknya dan melihat apa yang teman-temannya bicarakan. "Kakak?" Batinnya bertanya kemudian ia pun mendekat ke arah Sean.



"Loh, kakak? Kok kakak disini?"



"Hai sayang, kakak kan udah bilang kita istirahat bareng." Sean mengelus surai panjang Willy membuat beberapa teman Willy yang sedari tadi menatap mereka pun menjerit histeris. Lebay.



"Hehehe... Ily lupa kak, yaudah ayo."



Keduanya pun berjalan bersama menuju kantin. Sean yang merangkul bahu Willy dan gadis itu merangkul kan tangannya pada pinggang Sean. Jelas saja semakin menjadi perbincangan siswa-siswi lainnya.



"Loh? abang mana? gak ikut?"



"Katanya abang masih rapat, sekarang Ily duduk dulu disini. Ily mau pesan apa? Biar kakak pesenin."



"Emmm... Mie ayam boleh?"



"No! Nasi soto aja ya... biar kenyang." Tawar Sean yang akhirnya di setujui oleh Willy.



"Hmm.. Oke."


__ADS_1


"Yaudah, kamu tunggu disini, biar kakak belikan dulu."



Sepeninggalan Sean, Willy pun memainkan ponselnya agar tak merasa bosan.



Saat memesan makanan, Sean di kagetkan oleh salah satu anggota gengnya yang kini berada tepat di hadapannya dengan nafas  terengah-engah.



"Sean, ada anak angkasa di depan."



"Ngapain?"



"Mereka bawa barang! Kayaknya mau ngajak tawuran!" Ucapnya dengan panik. Tanpa berkata lagi, Sean pergi menuju sumber keributan. Bahkan, ia  melupakan Willy yang tengah menunggunya.



Keduanya berjalan cepat, namun Sean berhenti kala teringat sesuatu. "Lapor Seano."



"Guru?"



"Gak usah! Dia di ruang  OSIS."



Dengan bergegas, ia pun pergi meninggalkan Sean dan berlari menuju ruangan Seano. Dan, itu sangatlah jauh.



Sean kini tengah berada di barisan terdepan untuk menghadapi beberapa anak dari sekolah lain. Mereka datang dengan garangnya memborbardir gerbang sekolah dengan teriakan yang amat sangat kasar. Beberapa ranting pohon, bahkan batu pun mereka lemparkan.



Senjata tajam yang mereka bawa dan entah dapat dari mana pun di tunjukkan sebagai bentuk permusuhan.



Lelaki berparas tampan itu mencoba menelaah kembali apa yang sebenarnya terjadi. Sebenarnya siapa yang mencari masalah dengan mereka? Atau jangan-jangan... Yona?



Tapi hal itu ia tepis begitu saja kala Sean mendengar teriakan salah satu dari mereka.



"Woyyy... mana yang namanya Sean?! Maju lo anji\*\*!"



"Lo ada masalah apa sama mereka?"



Tanpa menjawab pertanyaan itu, Sean pun maju ke depan dengan pandangan tajamnya. Ia melangkah dengan tegas tanpa ada rasa takut sedikit pun.



"Gue."



"Jadi elo yang namanya Sean?!"



"Ada apa?"



"Lo kan, yang ngeroyok sobat gue."



"Siapa?"



"Alah... Pura-pura gak tau lagi, buka gerbangnya anji\*\*! gue bakal buat perhitungan sama lo bangs\*\*!"



"Siapa temen lo?"



"Gak usah pura-pura lupa ingatan, cuih!"



"Udah... serang aja! robohin pagernya!"



Keadaan semakin kisruh kala anak angkasa mulai menggoyangkan pagar AIS agar bisa roboh. Namun, bukan sekolah elite jika dengan mudahnya mereka merusak fasilitas Azfary International School.



"Kakak!!!! Ily tungguin dari tadi kok malah disini sih? Ily kan laper...." Rengek Willy tanpa tau kondisi yang kini sedang memanas.



Gadis cantik itu kini mendekat ke arah Sean seraya menyentakkan kedua kakinya karena merasa kesal pada kakaknya itu.

__ADS_1



"Sayang, kamu kenapa disini?"



"Ihhh... harusnya Ily yang tanya, kok kakak ada disini? Tadi bilangnya mau pesenin Ily makanan, Ily tungguin dari tadi tapi kakak gak muncul-muncul... Ily laper kak...."



Matanya mulai berkaca-kaca dengan pipi yang kini tengah memerah menahan tangis. Bukan karena lapar. Tapi karena ia tau akan kondisinya saat ini.



Ia tak ingin kakaknya berada dalam sebuah pertarungan lagi. Ia akan berusaha bagaimana pun caranya agar bisa menggagalkan tawuran ini.



Sean menangkup kedua pipi adiknya dengan pandangan khawatir. "Sayang... tapi ini—"



Willy menepis dengan keras tangan kakaknya kemudian berjalan menuju ke arah pagar. "Stop Ily!" Teriak Sean namun tak di gubris oleh si pemilik nama.



Willy menatap tajam ke arah Sean membuat ia akhirnya hanya bisa melihat apa yang akan di lakukan adiknya itu.



"Kakak yang di sana, namanya siapa?" Tanya Willy dengan memegang sela-sela pagar yang entah sejak kapan berhenti.



"A– aku?"



"Iya." Jawab Willy seraya menganggukkan kepalanya lucu.



"Fariz."



"Mm... Kak Fariz, Ily kan lagi laper, Ily harus makan dulu, kalau Ily telat makan nanti perut Ily sakit dan harus di operasi. Ily gak mau... jadi kakak istirahat dulu ya... berantemnya lain kali aja. Lebih bagus lagi kalau baikan iya kan?"



"Hah? Em... Mmm gak bisa!" Jawabnya sedikit menyentak namun masih sedikit halus.



"Ih... jangan marah... Ily takut kak." Matanya mulai berkaca-kaca kembali membuat mereka yang diluar sana menatap Willy dengan bimbang.



"Gimana nih?"



"Tau... mana nih si Fariz? Kok gak kasih keputusan?"



"Gila... bidadari \*\*\*!"



"Matanya melemahkan niat gue buat tawuran."



"Ekhmm... Hm... yaudah, kamu makan aja sana. Kita hanya butuh Sean."



"Jangan dong... Ily kan harus bareng sama kakak."



"Willy Queen Az—" Panggil nya terhenti kala Willy menatap ke arah sumber suara.



"A– abang."



"Masuk ke kelas kamu!"



"Tapi bang...."



"Jangan bantah abang!" Tekannya membuat Willy menunduk ketakutan. Tanpa terasa, air matanya pun ikut menetes membuat ia dengan segera menghapus nya.



"Masuk kelas!"



Willy berlari ke arah Sean dan memeluknya erat. "Jangan berantem. Ily takut... Please kak. Jangan berantem."



Sean hanya mengelus kepala Willy tanpa berucap sedikit pun. Dengan terpaksa, Willy pun akhirnya pergi meninggalkan mereka semua yang kini kembali menegang.


__ADS_1


...~~~~~...


__ADS_2