TWIN BROTHERS POSSESSIVE

TWIN BROTHERS POSSESSIVE
Satu Kelas


__ADS_3

Beberapa kali Gea menatap lembar kertas yang menunjukkan kelas barunya di sebuah mading. Namun, tetap saja apa yang di lihatnya saat ini benar-benar nyata.


Ia satu kelas dengan Sean. "Astaga, akan jadi apa hari-hariku nanti." Batin Gea seraya mengacak rambutnya frustasi. Ia bahkan tak sadar jika seseorang di sebelah nya menatap Gea dengan tatapan aneh.


"Lo sehat kan?"


"Hah? Eh? Kok disini?" Tanya Gea dengan panik serta malu karena tingkahnya yang pasti di fikir gila oleh siapapun yang melihatnya tadi.


"Liat daftar kelas."


"IPS 1." Jawab Gea dengan cepat membuat Sean langsung menatap ke arah Gea lagi.


"Kok?"


"Kita satu kelas."


"Wowww... yaudah, ayo kita ke kelas." Seperti biasa, Sean akan berjalan dengan gaya nya yang cool dan terlihat sangat keren. Beda dengan Gea yang kini masih dalam penampilan cupu serta beberapa buku yang ia bawa dalam pelukannya.


"Sstttt... jangan di dengerin. Okey?" Ucapnya yang tanpa di duga membuat Gea merasa hangat pada kedua pipi nya.


"Hmm... oke."


"Lo kayak abang gue aja. Jangan-jangan kalian jodoh?" Goda Sean tanpa menatap ke arah Gea.


Dan lagi, pipinya semakin merona akan apa yang Sean ucapkan. Astaga... "Stop Sean!" Ingin sekali Gea teriakkan tepat di telinganya namun tak ada keberanian sedikit pun.


Akhirnya, ia hanya bisa menghela nafas pasrah akan apa yang di ucapkan Sean.


Mereka memasuki kelas dan langsung menjadi pusat perhatian. Sean langsung duduk di kursi tengah yang masih kosong. Beda lain hal dengan Gea yang memilih bangku paling belakang.


Saat ia baru saja duduk dengan nyaman, salah satu teman mereka yang ternyata adalah Cello datang menggebrak meja Gea membuat gadis itu sontak saja terlonjak kaget.


"Awas! Gue mau duduk di sini!"


"Kok gi- gitu? Terus aku duduk dimana?"

__ADS_1


"Lantai lebih cocok buat upik abu macam lo." Tawa menggelegar dari semua siswa-siswi di kelas mereka.


Ia tak masalah. Tapi saat tatapan Gea kini menatap ke arah Sean yang ternyata tengah ikut tertawa juga, hatinya terisis sedih karena orang yang ia yakini tak seperti itu malah ikut membully nya. Namun tanpa di duga oleh siapa pun sedetik kemudian, raut wajah dari Sean berubah.


Bughhhh, suara pukulan yang begitu keras Sean layangkan untuk Cello dari arah belakang. Ia meringis kesakitan dan tanpa melihat siapa yang tengah memukulnya, Cello kembali bersuara dengan ucapan menjengkelkan nya.


"Anjin*! Bangsa*! siapa yang berani pukul gue?!"


Cello pun hendak berbalik melayangkan pukulannya, namun tiba-tiba gerakan nya tertahan oleh para temannya yang sedari tadi mengikuti Cello dari belakang. Tak lupa, ia juga membisikkan sesuatu yang pasti membuat Cello terdiam kaku kemudian membalikkan badannya dengan perlahan.


Sean  menatap Cello dengan tajam. Tiba-tiba saja, Sean berkata dengan nada suara yang sedikit keras. "Gue yang salah masuk sekolah atau lo yang harusnya masuk hutan malah nyasar kesini?" Ucapan yang di katakan nya membuat emosi dalam diri Cello terbakar.


"Gak usah banyak bacot deh, lo kalau mau sparring sama gue, ayo!"


"Lo yakin, nantang gue?"


"Maju lo!"


Sean langsung maju dan menghantamkan pukulannya pada wajah Cello. Bahkan, Cello langsung terpental jauh kala mendapatkan pukulan dari Sean.


"Arrrgghhh...." Erangan Cello karena merasa sakit pada perutnya.


Sean tiba-tiba terdiam kala mendengar suara dari arah luar, banyaknya sapaan yang mereka lontarkan pada—


"Selamat pagi, Ily mau cari kak Sean, ada?"


"Oh, i-itu di sana." Tunjuk nya pada pojokan dimana Sean dan yang lainnya berada.


Dan, sang kakak pun kini sedikit cemas akan Willy. Akan kah adiknya itu marah karena Sean mulai berantem lagi?


Willy mendekat, namun yang pertama kali terlihat oleh Willy adalah. "Kak Gea...." Pekiknya senang membuat semua orang yang berada di situ tersentak kaget.


Banyak dari mereka yang tak percaya bidadari kelas satu tahun kemarin dekat dengan Gea. "Wahhh... kak Gea satu kelas sama kakak? Oh iya, kakaknya mana?"


"I'm here sweetie."

__ADS_1


"Kakak... kelas kita sebelahan loh, jadi Ily bisa main kesini deh, apalagi ada kak Gea. Nanti kita bisa istirahat sama-sama, ya kan kak?"


"Hah? Oh i-iya sayang."


Saat menyadari sesuatu, Willy menatap tajam ke arah Sean. Seolah mengerti akan tatapan adiknya itu, Sean tersenyum canggung kemudian mendekat ke arah Willy.


"Maaf sayang, tadi kakak lagi belain Gea loh, dia di marahin sama cowok yang itu."


"Beneran kak?" Tanyanya pada Gea meminta kepastian. Kemudian Gea pun mengangguk sebagai jawaban bahwa apa yang di katakan Sean benar.


Willy bangkit dari duduknya kemudian mendekat ke arah Cello yang kini tengah menatapnya dengan pandangan berbinar. Ia sangat mengagumi adik kelasnya ini, itulah hal yang membuat Cello iri pada Gea yang cupu mengapa bisa dekat dengan Willy sedangkan ia tidak.


Matanya yang bulat berkedip dengan cepat membuatnya semakin terlihat imut. "Emm... h-hai, Willy?"


"Hallo kak, namanya siapa?"


"Hai Willy, gu– aku Cello."


"Kakak jangan marah lagi sama kak Gea ya, kak Gea teman Ily loh..."


"Ha? Emm... o- okey?"


Sean melihat Willy yang semakin mendekat ke arah Cello pun langsung merangkul kan tangannya pada pinggang Willy untuk tidak lebih mendekat lagi ke arah pria menyebalkan itu.


"Sweetie, cukup. Gimana kalau kita ke kelas kamu?"


"Kakak mau liat kelas Ily?"


"Iya dong, ayo!"


Lagi, Gea terlupakan oleh Sean karena Willy. Gadis itu mengepalkan tangannya dengan kuat menahan rasa yang terasa aneh dalam hatinya.


Mengapa ia tak suka saat melihat Sean selalu peduli pada Willy, apa hubungan mereka sebenarnya.


__ADS_1



Masih mau lanjut???


__ADS_2