TWIN BROTHERS POSSESSIVE

TWIN BROTHERS POSSESSIVE
Always Possessive


__ADS_3

Seano kini tengah berdiri di hadapan sebuah stand makanan dengan Willy yang berada di sebelahnya. Mata tajam itu terus memperhatikan sang ibu kantin yang kini tengah memasak pesanan mereka dengan serius untuk menjamin kebersihan juga tidak adanya bahan aneh yang menyatu dengan pesanannya. Namun, ia merasakan pergerakan kecil dari sebelah kiri nya dan hal itu membuat Seano menatap ke arah Willy dengan lembut. "Kenapa, Sayang?"


"Ily pengen ke kamar mandi, Kak" jawab Ily dengan suara lirihnya karena ia malu telah menjadi pusat perhatian.


"Yaudah, Kakak antar ke-" ucapannya terpotong kala Willy menariknya.


"Ayo, Kak" Willy tak bisa menolak ucapan Seano. Lagi pula, ia memang berniat untuk meminta di antar oleh abangnya karena masih merasa asing dengan tempat yang ia kunjungi saat ini. Walaupun tempat yang di maksud adalah sekolah milik sang daddy dan kedua kakak nya ini. "Bu, saya tinggal dulu ya"


"Siap, Den." Seano merangkul Willy selama perjalanan menuju kamar mandi. Jangan ditanya lagi bagaimana reaksi para siswa siswi kala melihat mereka jalan bersama dengan mesranya. "Gih, masuk. Kakak tunggu disini ya"


"Iya, Kak" Willy pun dengan cepat memasuki kamar mandi dengan Seano yang siaga berjaga di depan. Willy memasuki salah satu bilik kamar mandi dengan tergesa. Seseorang yang baru saja keluar dari salah satu bilik kamar mandi lainnya pun menatap dengan tatapan aneh bercampur penasaran. "Ke sekolah kok pake dress?" tanya nya dalam hati kemudian mendekat ke arah wastafel untuk mencuci tangan.


Suara air yang terdengar membuat nya menatap ke arah kaca untuk melihat siapa sebenarnya gadis yang berani itu. Suara pintu terbuka membuatnya sedikit menundukkan kepala agar tak terlihat jelas bahwa dirinya tengah memperhatikan objek yang ia incar.


"Hufftt, leganya ..." desah Willy saat dirinya telah selesai menggunakan kamar mandi dan berjalan menuju wastafel. Willy menatap ke arah siswi yang kini di sampingnya dengan senyum manis menghiasi bibir gadis itu.


"Hallo, Kak" sapa Willy seraya membalikkan arah topi nya hingga membuat wajah cantiknya terpampang jelas di pantulan kaca. Wajah asia dengan mata coklat jernih, hidung yang mancung dan jangan lupakan gigi kelinci yang selalu menjadi kesukaan si kembar.


"E-eh, hai" jawabnya dengan tergagap karena tak menyangka akan di sapa oleh Willy. Siswi itu pun membenarkan tata letak kacamata nya dan menatap Willy kembali.


"Kamu-" ucapannya terhenti kala seseorang menerobos masuk mendekati Willy.


"Sayang, ayo" Ajak Seano yang tanpa di sangka siapa pun berani memasuki kamar mandi perempuan. Hal itu membuat siswi berkacamata yang ternyata adalah Gea menatap mereka dengan pandangan yang sulit di artikan.


"Ayo kemana, Bang?"


"Kamu harus makan, Sayang. Abang kan udah pesen makanannya." Willy menepuk keningnya dengan keras membuat dirinya sendiri meringis kesakitan. Seano dengan cepat mengelus kening Willy dan meniupnya dengan lembut. "Macem-macem aja sih, masih sakit? huuffttt ... huffttt ..." lagi, Seano meniupnya membuat Willy ikut memejamkan mata merasakan kesejukan pada keningnya.


"Udah, Abang balikin lagi topi nya, ya." Willy menganggukkan kepala tanda setuju. Hingga ia pun mempunyai ide dan menatap ke arah Gea dan dengan cepat beralih ke arah Seano kemudian menatap Gea lagi. "Kakak ikut Ily juga, yuk" Ajak Willy yang tanpa di sadari akan memicu genderang perang di antara keduanya.


"Ah, enggak, aku gak-"


"Ayo, gapapa kan, Bang?" tanya Willy seraya memberikan puppy eyes miliknya membuat Seano pun luluh.


"Hm" deheman yang berarti Seano menyetujuinya. "Let's go ..." teriak Willy sedikit antusias seraya menarik lengan Gea. Hal itu sungguh membuat Gea tak nyaman. Okey, dalam pikirnya saat ini, bahwa sebentar lagi ia akan menjadi nyamuk di antara kedua orang di hadapan nya.


Mereka keluar bersama dan betapa terkejutnya Willy begitu pun Gea kala melihat gerombolan siswi yang kini tengah menunggu mereka di depan pintu kamar mandi.


"Akhirnya keluar jugaaaaa, bye Seano ganteng" Ucap salah satu siswi itu pun seraya memasuki kamar mandi dengan cepat dan di ikuti yang lainnya.

__ADS_1


Willy menunduk menatap sepatu putih nya dengan tangan saling meremat tanda gelisah. "Kenapa, hm?"


"Ily kelamaan ya?"


"Enggak, Sayang ... lebih baik, kita ke kantin aja, Abang udah laper nih."  Ajak Seano yang berusaha mengalihkan pembicaraan sensitif perihal kamar mandi. Bagaimana tidak?


Flashback on


Dua orang siswi mendekat sesekali tertawa entah membicarakan apa, namun tawa keduanya berhenti kala melihat tangan Seano yang kini memblokir jalan mereka. Keduanya menatap ke arah si pelaku, niat hati ingin membentak nya namun saat melihat wajah Seano, mereka pun mengurungkan niat nya.


"Eh, ada Seano, kamu ngapain disini? ini kan toilet cewe." Seano tak menjawab, kali ini ia melihat tiga orang siswi yang ternyata berniat memasuki kamar mandi juga.


"Eh ada apa nih? jangan halangi jalan dong, minggir!" ucapnya sedikit membentak karena dirinya belum sadar akan Seano yang kini tengah menatap nya tajam.


Namun, salah satu temannya menyikut gadis itu dengan cepat dan berusaha menyadarkan nya dengan kode lirikan mata yang mengarah pada Seano.


Saat dirinya mengerti, siswi itu pun kini menatap sosok tinggi tampan yang selalu menjadi pujaan hati para wanita di sekolah ini. Astaga, ini namanya rejeki nomplok.


"Seano-" belum sempat berbicara, Seano pun langsung memasuki kamar mandi membuat mereka melongo tak percaya.


Flashback off


Ketiganya duduk di kursi yang telah tersedia, Seano menuntun Willy untuk duduk di sebelahnya, lain hal nya dengan Gea yang kini duduk di hadapan Seano juga Willy. Pesanan mereka tiba, namun Gea masih menunggu karena baru memesannya. Apakah aku pergi saja? itulah yang pertama ia pikirkan saat dirinya dengan jelas menatap Seano dari dekat. Hatinya berdetak tak karuan mengeluarkan gemuruh aneh yang membuatnya sedikit ketakutan akan ada orang yang bisa mendengarnya. Matanya menatap sekitar, dirinya seakan tersadar kala netra hitamnya menangkap tatapan tak suka dari beberapa siswi.


Willy memakan pancake greentea dengan milkshake stroberi yang selalu menjadi kesukaannya. Pipi yang mengembung lucu membuat Seano dengan gemas mencubit nya. "Pelan-pelan makannya sayang, abang gak akan ambil kok"


"Enak bangeeeet, kok abang baru kasih tau Ily sih?"


Seano meringis kecil saat dirinya tau bahwa ia salah, "maaf ya-" Willy dengan cepat menyuapkan potongan pancake itu ke mulu Seano. "Enak, kan?" tanya Willy yang langsung di balas anggukan oleh Seano.


Seano merapikan kembali topi yang sedari tadi menempel pada kepala Willy. Dari arah pintu kantin, seseorang menatap interaksi keduanya dengan pandangan penuh tanya, saat dirinya hendak melangkah mendekati Seano, ia merasakan seseorang menahan pundaknya hingga membuat ia berbalik menatap sang pelaku.


"Lo gak akan bisa deketin dia" Ucap seseorang yang ternyata adalah Sean. Ia yang sedari tadi menatap ke arah sekitar Seano dan Willy karena di takutkan ada orang yang dengan berani mengganggu princess nya.


"Kenapa? Mau kenalan doang"


"Lo mau gue hajar? hah!" ucap Sean dengan nada rendahnya membuat Kean sedikit merinding kala mendengarnya. Ya, orang itu adalah Kean, Kean Elyas Sragif. Orang yang dengan beraninya menantang Seano untuk menjadi ketua OSIS tahun ajaran baru nanti.


"Okey, gue gak akan macem-macem." Kean mengangkat kedua tangannya pertanda menyerah. Melihat itu, Sean akhirnya berjalan mendekati meja Seano. Wajah yang kini terdapat beberapa lebam dan tak semulus tadi pagi membuatnya sedikit merasa takut. Pasti dapat omelan dari Ily, itulah yang ada di pikirannya saat ini.

__ADS_1


Ia bergegas mendekat, dan memeluk Willy dari arah belakang. Tangannya merengkuh Ily begitu erat namun masih memiliki sedikit ruang untuk bernafas.


"Kakak makan dulu, ya"


"Gak ah, pengen peluk kamu aja"


"Kok gitu sih? nanti kalau kakak sakit gimana? Ily suapin ya?"


"Okey" dengan pasrah, Sean pun duduk di samping Willy dan membuat gadis itu berada di tengah-tengah si kembar.


Willy pun menatap wajah Sean kala dirinya hendak menyuapkan pancake di tangannya pada Sean. "I-ini, ini kenapa, Kak?" tanya Willy dengan lirihnya membuat Sean dan Seano merasa sakit mendengarnya.


"Kakak gapapa kok, tadi jatoh, i-iya, jatoh"


"Bohong"


"Beneran sayang, ini nih, kena meja, sakit nih, princess gak akan obati kakak?" Sean berusaha untuk mengalihkan topik dan ternyata berhasil, "yaudah, kita obati sekarang, dimana UKS nya?"


"Ssssttt, nanti aja, kamu harus habiskan dulu makanan kamu, setelah itu, baru kita obati luka kakak."


Dengan pasrah, Willy pun mengangguk mengiyakan. Tangan kirinya terangkat untuk mengelus sudut mata Sean yang kini terdapat lebam kebiruan. "Pasti sakit."


"No, Princess, Kakak kan kuat, masa sih kamu gak percaya sama kakak." Willy kembali menganggukkan kepalanya. Tangan kanan nya ia gunakan untuk menyuapkan makanan dan sesekali memasukkan nya pada mulut Sean.


Seano yang ternyata telah selesai dengan makannya kini menarik lembut tangan kiri Willy dan memainkan jari-jari putihnya layak piano. Sean pun merubah posisi duduknya untuk menghadap ke arah Willy dan memeluknya dari samping.


"Satu suapan lagi, Kak"


"Buat kamu aja, Sayang"


"No, Kakak aja, Ily kan udah makan juga." Akhirnya Sean pun mengalah dan menerima suapan terakhirnya. Sebuah sedotan kini berada tepat di depan bibirnya, melihat sang pelaku yang tak lain dan tak bukan adalah Willy, Sean pun meminum milkshake kesukaan adiknya.


Okey, apakah kalian melupakan sesuatu? lebih tepatnya seseorang yang kini duduk tepat berhadapan dengan mereka. Gea.


Matanya terlihat tak suka akan pemandangan tiga orang di hadapannya saat ini. Bahkan ia sampai tak bisa memakan pesanannya yang bisa di yakini telah dingin akibat terlalu lama di diam kan.


"Loh, Gea? sejak kapan lo ada disitu?" tanya Sean yang kini menatap nya penuh tanya dan di balas dengan tatapan dingin dari Gea.


******

__ADS_1


__ADS_2