
Keesokan harinya, seluruh berita media massa gempar akan di temukan nya seorang siswa yang terkapar dengan darah di sekujur tubuhnya di antara semak belukar.
Wajah yang penuh lebam dan luka, serta jari tangan yang sudah terpotong satu-per satu membuat siapa pun merinding kala mendengarnya.
William marah kala mendengar berita itu. Bagaimana bisa targetnya mati begitu saja sebelum mendapatkan sesuatu darinya.
Dan bagaimana ia tidak marah kala William menyelidiki latar belakang anak ini yang sungguh mengejutkan. Hal itulah yang juga membuat William sangat ingin menghukum mereka satu keluarga hingga habis tak bersisa.
Informasi yang ia dapat adalah orang tua dari si pelaku pembacokan putranya. Sang ayah yang ternyata adalah pelaku dari sandera anak bungsu nya dua belas tahun silam. Sudah lama, namun hal itu masih berbekas dalam benak mereka. Apalagi Willy putri bungsunya.
Bagaimana wajah ketakutan dari putrinya itu masih tergambar jelas dalam ingatannya. Di tambah dengan alter ego yang kini di miliki Willy membuat ia selalu merutuki kebodohannya karena tak bisa menjaga mereka.
William pun akhirnya hanya bisa membuat mereka hancur hingga miskin dan tak memiliki uang sepeserpun.
Banyaknya hutang yang mereka miliki membuat usahanya harus rela untuk gulung tikar. Tak ada yang berani memberikan bantuan pada mereka karena kuasa dari William.
William menekan panggilan pada ponselnya.
"Selidiki siapa yang membunuh anak itu." Titah nya pada salah satu anak buah kepercayaan nya.
"Baik tuan."
Ia pun menyimpan kembali ponsel pintarnya kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang sedari tadi ia duduki. "Hufftt... aku sudah membereskan orang-orang itu, makanya jangan pernah berani mengusik Azfary."
Sean telah sadar, ia kini tengah makan dengan di suapi oleh Willy yang setia berada di sampingnya. sesekali, tangan kecil putihnya itu menghapus noda pada sudut bibir Sean membuat kakaknya tersenyum senang.
"Cukup sayang." Ucap Sean seraya menjauhkan kepalanya dari sendok yang di sodorkan oleh Willy.
"Tapi kakak baru makan tiga suap. Ayo makan lagi, setelah itu minum obat."
"Kakak udah kenyang sayang... lagian makanannya gak berasa sama sekali."
"Iya itu karena kakak masih sakit. Ayo... makan lagi, nanti Ily beliin sesuatu buat kakak."
"Emang mau beliin apa?"
"Rahasia, wleee. Ayo makan dulu kak."
Dengan pasrah, Sean pun membuka mulutnya dan menerima kembali suapan dari Willy. Tiba-tiba saja, pintu ruangan terbuka membuat keduanya tersentak kaget.
Bughhh, "astaga.... Abang pelan-pelan, Ily sama kakak kaget tau."
"Maaf sayang, abang tadi buru-buru. Oh iya, Ily di panggil mommy tuh di luar."
"Kok mommy gak masuk bang?" Tanya Sean yang di balas hanya dengan gelengan kepala dari Seano.
"Ily mau pergi sama mommy, dan Ily sengaja ga biarin kakak ketemu mommy."
__ADS_1
"Loh? Kok gitu sayang?"
"Rahasia dong kak...."
"Yaudah, kakak makannya habisin ya, setelah itu minum obatnya. Awas kalo gak di minum! Abang tolong ya...." Lanjutnya kemudian.
"Siap princess." Seano memberi tanda hormat pada Willy yang di balas kembali oleh adik manisnya itu.
"Bye kakak, cepat sembuh ya...." Cup, kecupan Willy bubuhkan pada pipi Sean membuat sang empunya tersenyum senang.
"Abang?"
"Abang kan gak sakit."
"Ohh... jadi abang harus sakit dulu nih... biar dapet kiss dari Ily?"
"Jangan dong, Ily mau kita semua sehat. Kakak juga harus segera sehat."
Willy memutari ranjang Sean kemudian mendekat ke arah Seano. Ia pun mengecup pipi Seano membuat pemuda tampan itu tersenyum senang.
"Ini? Bukannya anak yang nyerang kakak itu?"
"Iya, dia!"
"Kenapa bisa?"
Tanya Sean pada Seano yang di balas tatapan yang aneh menurutnya. Sean menerka-nerka isi tatapan mata itu. Selintas pikiran terbayang siapa pelakunya namun dengan cepat ia tepis begitu saja. Namun, kaget bukan main kala Seano berbicara secara langsung padanya.
"Abang yang buat."
"Hah?? Hah– hahaha... gak lucu bang." Tawanya sedikit hampa.
"Benar! abang yang buat."
"Bang!!!"
__ADS_1
Seano menunduk seraya meremas kedua sisi rambutnya. Ia juga bingung akan apa yang ia perbuat. Ia terlalu di liputi amarah sehingga lepas kontrol dan, terjadilah.
Tangannya bergetar hebat. Ia takut terjadi sesuatu kedepannya. Bagaimana jika ia ketahuan oleh polisi? Bagaimana jika—
Tidak! Tidak!
"Kita bilang pada daddy." Ucap Sean membuat Seano terlonjak kaget.
"Apa?"
"Satu-satunya harapan kita Daddy."
"Tapi— abang—"
"Abang tenang aja, daddy pasti ngerti kenapa abang lakuin itu."
Tanpa di duga oleh siapa pun, seseorang mendengar percakapan mereka di balik pintu kamar rawat Sean. Dengan wajah shock dan mata membelalak tak percaya.
Willy kini tengah berjalan menyusuri pertokoan di pusat perbelanjaan dengan Kim sang mommy. Wajah cerianya begitu nampak membuat banyak perhatian tertuju padanya.
"Mom... Ily mau beli sesuatu buat kakak boleh kan?"
"Boleh dong."
"Tapi harganya pasti mahal banget."
"Gapapa sayang, Ily lupa siapa daddy?"
"Engga dong Mom, punya daddy satu aja masa lupa sih." Kim hanya tertawa kala putrinya ini salah paham dengan apa yang ia maksud.
"Kemana kita?"
"Toko alat musik." Kim menoleh ke arah Willy dengan pandangan penuh tanya. Namun yang di tatap hanya tersenyum memperlihatkan gigi putihnya.
Sesampainya di sana, Willy menarik Kim masuk ke toko yang ia tuju. Matanya melirik ke sekitar, hingga akhirnya ia pun menemukan apa yang ia cari.
"Mom, Ily mau beli ini buat kakak, Please...." Dua tangannya tertangkup di dada dengan puppy eyes yang membuat Kim luluh begitu saja.
"Okey, kita lihat yang lain dulu, siapa tau ada yang lebih bagus."
Willy mengangguk setuju. Dengan di temani satu pelayang yang berada di belakangnya. Mereka melihat-lihat hingga akhirnya pilihannya jatuh pada benda di sudut yang di terangi beberapa lampu.
"Mba, saya ambil yang ini." Ucap Kim seraya menunjukkan sebuah drum di hadapannya.
...
...
"Maaf Bu, tapi drum ini sangat mahal, apakah ibu bisa—" Ucapannya langsung terhenti kala Kim Lily memperlihatkan Black Card yang selalu ia bawa.
"Kalau saya tidak mampu, buat apa saya kesini."
Pelayan itu membungkuk karena rasa malu dan meminta maaf. Mereka melakukan transaksi dengan wajah Kim yang terlewat kesal karena pelayanan dari toko ini. Astaga!
Namun dengan sabar, Willy mengusapkan tangannya pada punggung kim berharap mommy nya tetap bersabar.
__ADS_1
Setelah selesai melakukan transaksi, akhirnya mereka pun pergi dari toko itu dan kembali memasuki toko pakaian. Kim memilihkan dress untuk Willy dan William. Sedangkan Willy, ia memilihkan baju untuk Sean dan Seano.