TWIN BROTHERS POSSESSIVE

TWIN BROTHERS POSSESSIVE
Membujuk Willy


__ADS_3

Pagi telah tiba, sang surya menampakkan sedikit cahaya di celah gorden kamar membuat gadis cantik itu menggeliat mencari perlindungan.  Ia berbalik memunggungi cahaya kemudian memeluk seseorang yang berada di hadapannya saat ini. Dengan muka yang ia sembunyikan pada dada bidangnya dan kaki yang ia naikkan untuk mengeratkan pelukannya.


Sean yang merasakan pun langsung membuka mata dan melihat siapa pelakunya. Namun, dalam sekejap bibir itu langsung tersenyum kala matanya menatap sang adik lah si pelakunya.


Ia sedikit heran akan keberadaan kedua orang tuanya. Karena di kamar ini, yang tersisa hanyalah kita bertiga. Hm, mungkin orang tuanya butuh privasi.


Sean mengangkat tangannya untuk menyingkirkan anak rambut yang tengah menutupi wajah Willy. Matanya melirik ke arah jam yang sangat pas berada tepat di hadapannya menunjukkan pukul 06.30.


Tangannya berusaha menggapai Seano untuk membangunkan abangnya itu. Namun apalah daya kala Seano berbalik dan menatapnya sekilas kemudian memeluk Willy dari belakang.


Sean mendesah pasrah, ia hanya membutuhkan mommy nya sekarang. Untuk apa? Untuk meminta izin agar mereka di perbolehkan untuk bolos sekolah.


Sean mencium kening Willy kemudian memejamkan matanya kembali. Lain dengan keadaan dibawah sana yang kini kedua orang tuanya tengah mentertawakan tingkah kedua putra kembar mereka.


Asisten rumah tangganya pun hanya tersenyum kala melihat kedua majikannya begitu bahagia. Ia sungguh sangat bersyukur karena bisa bekerja di keluarga Azfary.


"Tapi bi, mereka kok pulang malem gitu?"


"Saya juga kurang tau nyonya. Dan yang bibi lihat, muka den Sean Seano banyak memarnya."


"Apa?" Teriak kedua sejoli itu dan dengan cepat berlari ke arah lift untuk melihat keadaan kedua putranya.


Di dalam lift, Kim menggenggam tangan suaminya dengan sangat erat. Ia sangat khawatir akan keadaan para putranya.


"Mas, apa mereka baik-baik aja?"


"Mas juga gak tau, sebaiknya kita bawa mereka ke rumah sakit."


Kim menganggukkan kepalanya setuju akan usulan sang suami. Angka menunjukkan nomer 3, dan pintu lift pun terbuka. Mereka bergegas melangkah menuju kamar yang semalam mereka tempati.


Kala pintu terbuka, keduanya menatap penuh haru akan apa yang tengah di lihatnya saat ini. Sean dan Seano yang tengah memeluk Willy yang kini bersembunyi di dada bidang Sean.


Kehangatan kakak beradik yang sangat sulit dijumpai.


Kim dan William melangkah mendekat. Tepukan pelan pada lengan Sean membuat sang kakak terbangun dari tidurnya. Sean menatap ke arah Kim yang kini tengah menutup mulutnya terkejut akan wajah Sean yang terdapat memar.


Seano yang merasa terusik pun melepas pelukannya dan bangun untuk melihat apa yang terjadi.


"Astaga!!! kalian ini sebenarnya kenapa?" Jerit Kim yang mampu membangunkan Willy dari tidur nyenyak nya.


Willy menggeliat seraya berusaha membuka matanya yang terasa lengket karena mengantuk. "What's wrong, mom?"

__ADS_1


"Uhh... I'm sorry sweetie, mommy membangunkanmu."


"No prob— mom! What time is it?"


"06.45."


"Mom, Ily kan harus sekolah, abang sama kakak juga. Ayo kita mandi bersama."


"No! Ini akan telat dan pasti akan dapat hukuman. Lebih baik kamu liat wajah abang dan kakak." Titah Kim membuat si kembar terdiam kaku.


Mendengar hal itu, Willy pun menatap keduanya. Betapa terkejutnya ia kala melihat beberapa memar dengan warna keunguan bahkan menghitam karena tidak di obati.


"Abang! Kakak! Kenapa jadi seperti ini?"


"Sorry princess, ini kecelakaan."


"Kecelakaan apa? Pasti berantem kan? Ily kan udah bilang kalau Ily gak suka abang sama kakak berantem. Ily gak mau kalian terluka kaya gini. Pasti sakit kan? hikss... hikss...."


"I'm sorry princess... kalau gitu, gimana kalau Ily yang obati Abang sama kakak?"


"Gak mau! pokoknya Ily mogok ngomong sama kakak! sama abang juga!"


Willy pun bangkit dari duduknya kemudian keluar dari kamar tanpa memperdulikan teriakan keduanya. Kim merasa puas akan hukuman paling berat dari putri bungsunya.


"Tamatlah riwayat kalian." Setelah mengejek kedua anaknya, William dan Kim pun ikut meninggalkan kamar tanpa berbalik lagi ke arah belakang.


Setidaknya, mereka merasa lega kala melihat anaknya baik-baik saja.


Sean dan Seano saling bertatapan dengan wajah lesu mereka. "Bang, sumpah! Kakak gak bisa kalau gak ngomong sama Ily."


"Sama. Kita mandi dulu, kita ajak dia jalan-jalan gimana?"


"Taman bermain?" Tanya Sean seraya menatap Seano.


Seano yang di tatap penuh tanya pun langsung menaik turunkan alisnya membenarkan ucapan dari Sean. Keduanya mengangguk dan meninggalkan kamar tersebut.


Willy kini tengah mandi dengan gerutuan yang tak henti keluar dari mulut kecilnya. Hufttt, sungguh! Ia amat sangat kesal kala melihat kedua kakaknya berantem dan mendapat luka seperti itu.


Mandi pun selesai, setelah menggunakan bathrobe nya, Willy  keluar. Dan betapa terkejutnya ia kala melihat Sean dan Seano tengah tersenyum dengan setelan baju rapi.


"Sayang, maafin abang ya."

__ADS_1


"....."


"Ily, sayang, maafin kakak juga ya."


Masih tak ada sahutan dari Willy, gadis itu kini tengah berjalan ke arah walk in closet dan si kembar mengikutinya.


"Queen... Pakai baju santai ya, kita ke taman bermain." Teriak Seano kala melihat pintu walk in closet Willy hendak tertutup.


Dalam hitungan sepersekian detik, pintu itu langsung terbuka lebar dengan wajah penuh ceria dari Willy.


"Sungguh?"


"Hm... sungguh, gih sana pake baju dulu. Yang cantik ya...." Ucap Seano dengan senyum di bibirnya.


Dalam hati keduanya bersyukur karena telah mengembalikan senyum adik manisnya itu. Sehari tanpa senyuman Willy bagai sawah yang kekeringan karena tak ada airnya.


Willy pun menganggukkan kepalanya dengan antusias. Akhirnya ia bisa bermain dengan kedua kakaknya. Namun, pikirannya terlintas akan jadwal sekolah yang baru saja ia lewati.


"Nanti Ily tanyain deh." Gumamnya kemudian memilih topi yang akan ia gunakan hari ini. Dan, pilihannya jatuh pada topi pink miliknya.


Setelah selesai, ia pun keluar dan di sambut oleh Sean Seano. "Yuk!" Ajak Willy dengan senangnya. Sean Seano hanya mengangguk kemudian keduanya menggandeng tangan Willy.


"Kak, sekolah kita gimana?"


"Tenang, mom udah kasih izin ke sekolah. Jadi gak ada Alfa."


"Okey! Ihh... Ily jadi gak sabar deh."


"Sabar ya sayang, sekarang kita sarapan dulu." Ucap Seano kemudian mengecup pipi Willy membuat gadis itu langsung membalasnya.


"Thank you."


"You're welcome, sweetie."


Willy kini menatap Sean yang ternyata tengah menatap kearahnya juga. Kecupan Willy bubuh kan pada pipi kiri Sean dan Sean pun membalasnya.


"Maaf karena udah buat adik manis kakak ini khawatir." Sean menangkup kedua pipi adiknya dan mengecup kembali wajah Willy dengan gemasnya hingga membuat Willy kegelian.


"Geli kak," teriak Willy dengan tawa yang tak henti keluar dari mulutnya. Hingga akhirnya Sean menyudahi aksi jahilnya membuat Willy mendesah lega.


"Ily maafin. Tapi Ily mohon... jangan sampai terluka lagi."

__ADS_1


"Iya Sayang." Jawab keduanya dengan serempak.



__ADS_2