
Willy dan Seano telah sampai di rumah sakit, keduanya berlari menuju ruangan dimana Sean di larikan. Dua orang temannya yang melihat itu langsung mendekat ke arah Seano.
"Gue balik, gue bakal cari itu orang!"
"Kabarin gue kalo udah dapet."
Keduanya mengangguk kemudian pergi meninggalkan Seano dan Willy. Saat ini, mereka dirundung kesedihan serta kegelisahan yang tak berujung. Bagaimana tidak, salah satu keluarga mereka kini tengah berada di dalam sana entah bagaimana keadaannya.
Willy menangis di pelukan Seano yang tak dapat menyembunyikan rasa sedih nya. Remaja tampan itu ikut meneteskan air mata kesedihan yang tak dapat di tahan lagi.
Tangannya mengelus surai panjang Willy, berharap ia bisa menenangkan. Namun apa daya kala orang yang menenangkannya pun diliputi dengan kesedihan dan rasa khawatir penuh pada kembarannya.
"Kita harus kuat untuk kakak, sayang."
"Kita harus tersenyum untuk kakak dan beri semangat biar kakak baik-baik aja."
"Hikss... Kakak... kenapa kakak harus terluka hiksss...." Isak tangis mereka semakin menjadi kala kedua orang tuanya menghampiri.
Willy berhambur pada pelukan sang daddy sedangkan Seano memeluk mommy nya dengan erat.
"Maaf mom, maafin abang yang udah lalai jaga kakak."
"Ssssttt, bukan salah abang kok. Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa bisa seperti ini?"
Seano pun akhirnya menceritakan apa yang terjadi. Dimulai saat sekolah mereka di serang dan terjadinya tawuran. Sepasang suami istri itu kini di landa kegelisahan akan keadaan putra kedua mereka. Mommy dan daddy yang kini bergenggaman tangan seolah saling memberi kekuatan.
Mereka saling menatap satu sama lain, terlihat jelas gurat-gurat rasa takut di dalam mata mereka. Namun mereka harus kuat, karena anak mereka yang lainnya kini tengah membutuhkan mereka sebagai penopang kesedihan yang di rasa keduanya.
Waktu berjalan terasa lambat, jarum jam yang terus berputar memperlihatkan begitu lamanya setiap waktu yang mereka lewati. Mereka kini tengah terduduk di kursi tunggu diluar ruang IGD. Berdo'a dan berharap agar semuanya baik-baik saja.
Tiba-tiba mereka di kejutkan dengan seorang suster yang keluar dari ruangan dengan tergesa-gesa. Hal itu membuat mereka semakin panik bukan main. Kim Lily dan William saling berpegangan tangan berharap semua baik-baik saja.
Lagi, sang suster kembali, namun wajah panik yang sangat kentara jelas di wajahnya itu membuat William dengan cepat mengehentikan langkah sang Suster. "Suster, ada apa? Bagaimana keadaan anak saya?"
"Pasien membutuhkan pendonor sekarang juga, tapi karena stok darah di rumah sakit telah habis, kami—"
"Bagaimana bisa rumah sakit sebesar ini tidak ada stok darah?!" Marahnya William membuat suster itu sedikit ketakutan. Namun, ketakutannya terkalahkan dengan rasa khawatir pada pasiennya saat ini.
__ADS_1
"Apakah keluarga pasien tidak keberatan untuk mendonorkan darahnya?"
"Ambil darah saya." Tegas William membuat sang suster mengangguk cepat.
"Jika terjadi hal buruk pada anakku, siap-siap saja rumah sakit ini akan hancur." Ucapnya tajam kemudian berjalan pergi meninggalkan sang suster.
Seano dan Willy pun terdiam kala melihat kemarahan William yang seperti ini, mereka teringat kala itu. Ya, sama seperti saat Willy di jadikan sandera dan itu sangat menakutkan jika bisa berbuat sesuatu dengan kekuasaannya.
"Mom...."
"Hmm, kakak pasti baik-baik saja sayang." Kim Lily mengelus rambut Willy dengan sayangnya. Seano pun menggenggam tangan Willy dengan erat dan menyandarkan kepalanya pada bahu Willy.
Di dalam sana, dokter dan para perawat tengah berusaha menjahit luka pada punggung Sean yang sangat parah. Begitu pun, lukanya yang teramat dalam membuat dokter dengan secepat kilat mengoperasi pasien.
Peluh tengah membasahi pelipisnya, ia berharap operasi ini akan berjalan lancar, karena ia tau siapa yang saat ini tengah di tanganinya. Siapa lagi kalau bukan anak dari donatur terbesar di rumah sakit ini.
Tangannya sedikit gemetar, namun ia tetap harus fokus untuk pasiennya. Salah satu suster yang tadi sempat keluar untuk membawa darah pun kembali dengan tergesa-gesa.
"Ini dok."
Empat puluh menit telah berlalu akhirnya operasi pun berjalan dengan lancar. Sang dokter keluar untuk memberikan keterangan pada keluarga pasien. Jantung nya berdetak cepat kala melihat wajah William yang kini tengah menatapnya penuh dengan ancaman.
Kim langsung mendekat ke arah dokter dan memberondong nya dengan banyak pertanyaan.
"Dok, gimana ke adaan anak saya? Apa lukanya parah? Anak saya baik-baik saja kan dok? Tolong anak saya dok."
"Iya nyonya, pasien sudah melaksanakan operasi pada punggungnya. Lukanya sangat dalam dan juga memanjang membuat pasien ke habisan darah."
"Terus gimana keadaan nya sekarang?"
"Operasi nya berjalan dengan lancar, dan pasien dalam keadaan stabil. Keluarga bisa menjenguknya saat pasien telah di pindahkan ke ruang perawatan."
Willy dan Seano saling berpelukan mengucap syukur akan keselamatan kakak dan kembaran nya. Kim pun memeluk William yang kini tengah menggenggam ponselnya dengan panggilan pada salah satu anak buah yang ia tugaskan mencari si pelaku.
"Bagaimana?"
"Saya sudah mendapatkan anak itu. Siswa bernama Roy dari SMA Angkasa, anak dari Abidan dan Rosi salah satu pemilik restoran Prancis di kota Bandung."
__ADS_1
"Hancurkan sampai ke akarnya!" Tegasnya tanpa ingin di bantah.
"Baik."
William memeluk istrinya berharap tangis istrinya berhenti. Ia sungguh sangat marah kala melihat salah satu keluarganya seperti ini. Ia pun tak akan tanggung-tanggung menghilangkan siapa saja yang berani mengusik dan melukai keluarganya.
Kilat tajam yang William perlihatkan saat ini, sama dengan Seano yang tengah menahan rasa marah yang ia rasakan juga. Yang pasti, ia pun tak akan tinggal diam. Itulah yang di ucapkan Seano dalam hatinya.
Willy sedih melihat kakaknya saat ini, badan yang di balut dengan perban melingkar di tubuhnya juga posisi tidur yang mengharuskan ia tengkurap demi kesembuhan Punggungnya.
"Kakak, buka matanya, Ily kangen kakak." Ucap Willy dengan lirih seraya mengusap punggung tangan Sean.
"Kakak, jangan sakit gini, Ily takut."
"Kakak gak kangen sama Ily?"
"Kakak ngantuk ya? kalau gitu kakak tidur dulu aja, Ily tunggu disini."
Perih rasanya kala melihat orang yang ia sayang begitu tersiksa seperti ini. Semua yang dilihat nya kini, akan ia balas dengan balasan yang setimpal.
Rasa sayangnya, sama besar dengan rasa dendam yang ia rasakan untuk mereka yang berani mengusik Azfary.
__ADS_1