
Sean menatap sengit ke arah Darrian yang kini tengah memangku kepala Willy di atas paha nya. Dengan perlahan, namun pasti. Sean pun melepaskan pelukan Willy pada tubuh Darrian dan hal itu membuat Darrian membelalak kan matanya pertanda bahwa ia tengah protes.
"Lo, yang keenakan." Ucap Sean dengan datar nya tanpa menghiraukan keterkejutan Darrian.
"Terserah gue dong, toh bentar lagi juga gue mau pergi." Balas Darrian seraya mengembalikan tangan Willy supaya memeluknya kembali.
Sean yang mendengar itu pun menajamkan pendengaran nya. Ia merasa jika ia mendengar kata pergi. "Mungkin cuma bohong" batin Sean menolak apa yang sebelumnya ia dengar. Namun percuma, apa yang di katakan Darrian adalah hal sesungguhnya.
"Apa?" tanya Darrian saat mendapat tatapan aneh dari Sean yang tak berkedip sedetik pun.
"Pergi kemana, lo?"
"Amerika, gue bakalan belajar bisnis mulai dari sekarang." Darrian kembali mengalihkan pandangannya dari Sean dan menatap penuh binar pada gadis yang tengah tertidur pulas di pahanya saat ini. Ia mengelus surai indah milik Willy yang pasti akan selalu ia rindukan.
"Berapa lama?" Tanya Sean kembali memecah keheningan.
"Satu tahun? atau bisa aja lebih dari itu."
Sean tak bisa berkata lagi, ia kini hanya membiarkan sahabatnya itu menatap dengan puas adiknya.
*****
Suara besi terbang terdengar begitu kerasnya memenuhi indera pendengaran. Tangan yang saling bertautan dari kedua insan yang kini tengah terduduk pun tak pernah terlepas sedari tadi.
Mata biru milik Darrian pun, kini menatap tepat ke arah gadis cantik yang berada di sebelahnya. Ibu jari miliknya mengusap pelan punggung tangan Willy dengan halus membuat sang empunya tangan menatap tepat ke arah Darrian.
"Kenapa, Kak?" Tanya Willy dengan mata coklat yang tengah memerah karena menahan tangisnya.
"Kamu kenapa? Jangan nangis ya, kakak pasti akan sering hubungi peri kelinci kakak ini."
"Promise?"
"Hmm ... tentu, kakak janji!" Kelingking keduanya pun saling bertautan di barengi dengan air mata yang turun membasahi pipinya.
Darrian mengangkat tangannya dan dengan cepat menghapus air mata yang keluar dari mata cantik milik Willy.
"Jangan nangis, kakak gak suka."
"Enggak nangis kok, hikksss ... hikksss" Isak tangis pun keluar begitu saja membuat hati Darrian terenyuh dan semakin berat meninggalkan Indonesia, lebih tepat nya gadis di hadapan nya saat ini.
Sean dan Seano ingin sekali menarik Willy dari pelukan Darrian, namun tidak untuk saat ini. Mereka ingin memberikan waktu pada mereka berdua.
Hingga, pengumuman keberangkatan pesawat menuju Amerika terdengar. Willy semakin mengeratkan pelukan nya pada Darrian.
"Kakak harus telepon Ily, jangan lupain Ily, jaga kesehatan, jangan sampai sakit, yaaa ...."
"Iya, kakak akan lakukan apa yang Ily sebutkan tadi, sekarang kakak harus pergi."
Darrian memberikan pelukan terakhirnya pada Willy, hingga matanya menatap ke arah Sean dan juga Seano. Darrian melepas pelukan Willy kemudian menuntunnya menuju si kembar.
__ADS_1
"Gue titip Willy, jangan sampai dia sakit ataupun nangis lagi." Ucap Darrian dengan tegasnya.
"Tanpa lo suruh, kita pasti bakalan jagain Ily. Udah, sono pergi lu ..." usir Sean yang memang sedari tadi kesal karena tingkah Darrian yang dengan berani menyentuh adiknya.
Dasar, kakak possessive!
Mendengar itu, bukannya marah. Darrian malah tertawa hingga memperlihatkan gigi putih dan kedua lesung pipi nya.
"Sialan, Lo!"
"Jaga diri baik-baik ya peri kelinci ku ... Kakak pasti akan pulang dan ketemu lagi sama kamu."
Willy pun menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Dengan langkah berat dan hati yang kini terasa hampa, akhirnya ia pun harus pergi meninggalkan gadis pujaannya.
"Good bye"
"Byeeee ... Sampai Amerika harus telepon Ily yaaaa ..." teriak Willy yang di angguki Darrian.
Darrian kini telah pergi dan tak berada dalam jangkauan mereka. Seano merangkul kan tangan nya pada bahu Willy. Dan di sebelanya lagi ada Sean, Sean yang menggenggam erat jari-jemari Willy.
"Yuk, kita pulang" ajak Seano yang akhirnya di angguki oleh Willy.
Suasana mobil yang terasa sepi bukan karena kesedihan yang mendalam akibat di tinggalkan nya oleh Darrian. Melainkan, gadis manis itu kini tengah tertidur dengan pulas nya dengan kepala yang ber bantalkan paha Seano dan kaki yang berada di atas paha milik Sean.
*****
Pagi pun tiba, semua tengah kembali bersiap untuk melaksanakan kegiatan masing-masing. Sean dan Seano kini tengah bergegas memakan sarapan nya dengan cepat karena sebentar lagi bisa di pastikan mereka akan telat.
"Mom, Dad. Kita berangkat dulu ya, byeee" cup, kecupan singkat Seano berikan pada mommy nya. Begitu pun Sean yang kini mengecup sebelah pipinya yang lain pada sang mommy.
Saat hendak pergi, Sean dan Seano berhenti karena melihat adik manisnya yang baru saja keluar dari lift dengan baju manisnya.
"Abang sama Kakak udah mau pergi lagi?"
"Iya, Sayang. Kita berangkat dulu ya"
Willy pun mendekat ke arah Seano dan mengecup pipi nya dengan cepat.
"Byee ... take care, Bang."
"Sayang ... kakak gak di kasih morning kiss juga?"
"Hmm ... Enggak!"
"Yaahhhh kenapa?? Kakak juga butuh penyemangat nih."
"Hahahaa ... okey okey," cup, satu lagi, kecupan itu mengenai pipi Sean.
__ADS_1
Akhirnya si kembar pun pergi meninggalkan mansion Azfary dan Willy yang bergabung untuk memakan sarapan nya.
"Pagi Mom, Dad" Sapanya pada dua orang berjasa dalam hidup nya.
"Pagi sayang" cup cup, dua kecupan Willy berikan pada William dan juga Kim. "Gimana tidur kamu? Nyenyak?" tanya William seraya mengelus puncak kepala Willy dengan gemas.
"Nyenyak, Dad. Tapi lihat nih, mata Ily kok jadi seperti ini ya? Berat sekali untuk di buka nya, Dad"
William terkekeh karena ucapan putrinya, "haha ... Itu karena kamu terlalu lama menangis sayang, jadi matanya bengkak seperti itu."
"Tapi kan, Ily sekarang udah gak nangis lagi"
"Iya, jangan sampai nangis lagi, nanti matanya tambah bengkak loh, mau?"
"Iiiihhh gak mau, Dad."
Kim Lily pun memotong pembicaraan keduanya karena jika di biarkan saja, ia yakin keduanya tak akan jadi sarapan. "Sayang, mau sarapan sama apa?" tanya sang mommy dengan lembutnya.
"Emmm ... Ily mau nasi goreng aja, Mom."
"Okey," Kim Lily pun menyediakan makanan untuk Willy. "Makan sudah siaaap"
"Wahhh ... thank you, Mommy"
"You're welcome, Sayang. Cepat habiskan makanannya, sebentar lagi guru privat kamu dateng loh"
"Iya Mom"
"Daddy, mau makan sama apa?"
"Dad mau lauk yang itu aja, Mom." tunjuk nya pada salah satu makan yang telah tersedia di meja makan.
"Ini diaaa ... Selamat makan semuanya" Ucap ketiganya dengan serempak.
*****
Gerbang telah tertutup dengan kunci gembok yang telah terpasang dengan kuat. "Duhhh bang, kita telat nih." Ucap Sean dengan panik nya.
"Ikut, Abang" Setelah mengucapkan itu, Seano pun berjalan menyelusuri trotoar yang mengarah pada belakang sekolah.
Hingga, akhirnya mereka pun sampai. "Gila, Bang. Tinggi bangettttt" Pekik Sean tak sadar saat melihat tembok kokoh yang berada di hadapannya.
"Bukan manjat, tapi ini." Seano mengangkat tumbuhan menjalar yang menutupi pintu rahasia yang bisa di yakini bahwa pintu itu belum terbuka sama sekali.
"Ayo" Ajak Seano yang di angguki oleh.
******
Tbc. Vote dan Comment nya aku tunggu 😉😉😉
__ADS_1