
Assalammualaikum wr wb..
Tiada sempurna jiwa suci kita tatkala satu kebencian tertanam dalam dada. Maka, izinkan kami memohon maaf terucap atas segala kesalahan, baik yang sengaja maupun tidak. Semoga kesalahan-kesalahan kita dapat ter basuh dengan permintaan maaf ini.
Selamat hari raya Idul Fitri 1441 H, Mohon maaf lahir dan batin.
Wassalam wr wb.
Siti Handriani & keluarga 🙏🏻🙏🏻
******
Tanaman berambat itu kini terbuka memperlihatkan sebuah pintu kecil namun pas untuk dimasuki satu orang. Sean menatap Seano dengan pandangan menyelidik.
"Dari mana abang tau pintu ini?" ucap Sean dengan nada seriusnya membuat Seano kelabakan.
"Tenang, rahasia aman di tangan, Kakak." ucap Sean dengan kedua halus yang di naik turunkan menggoda Seano.
"Hm, jangan sampai ada yang tau lagi, cukup kita berdua." Tegas Seano yang langsung di angguki dengan cepat oleh Sean.
Mereka pun akhirnya memasuki pintu rahasia yang ternyata sudah terhubung dengan kantin. Suasana kantin saat ini sangat sepi karena bel telah berbunyi beberapa menit yang lalu.
Sean dan Seano saling melemparkan pandangan kemudian mengangguk tanda mengerti. Bukan hanya sekedar anggukan, tapi adanya rencana yang telah tersedia dalam otak cerdas keduanya.
"Kenapa kalian masih di luar kelas? Kalian telat?" ucap seseorang dari arah belakang mereka yang membuat keduanya membeku.
Seano berbalik untuk melihat siapa yang kini berbicara pada mereka. "Selamat pagi, Bu. Saya mohon maaf karena adik saya masih merasa sakit akibat kecelakaan beberapa waktu lalu, saya akan membawanya ke UKS."
"Dengan tas?"
"Maaf sekali lagi, Bu. Tadinya saya akan membawa adik saya pulang. Namun, karena ia kekeuh ingin tetap disini, saya belum mengembalikan tas ke kelas."
Sang guru menatap keduanya dengan pandangan menyelidik. Seano yang pandai berbicara pun membuat Sang guru percaya, apalagi Seano termasuk salah satu anggota OSIS yang kini tengah di gadang-gadang kan menjadi Ketua OSIS selanjutnya.
"Baiklah, kalian lolos, bawa adik kamu ke ruang UKS, Seano."
"Baik, Bu. Terima kasih atas pengertiannya." Keduanya menyalami punggung tangan Sang guru. Saat berbalik, keduanya memperlihatkan senyum miring dan mereka pun melakukan high five karena kesuksesan rencana mereka.
Seano dan Sean kini tengah berada di dalam UKS. Ternyata, bukan hanya mereka berdua. Karena saat ini, ada seorang gadis yang tengah tertidur dengan keringat membasahi pelipis nya dan bibir kecil yang terlihat sangat pucat.
"Gea?" Sean mendekat untuk memastikan nya. Dan ternyata benar, gadis itu adalah Gea. Sean tanpa sadar kini duduk dengan tergesa agar bisa duduk di samping Gea.
Seano mengernyit heran menatap semua tingkah laku Sean yang menurutnya sangat aneh.
__ADS_1
"Kenapa duduk disitu?"
"Ah, ini Gea, Bang. Dia yang nyelametin kakak."
"Iya, Abang tau."
"Dia kenapa ya? Wajahnya pucat gini, Bang."
"Sepertinya sakit."
Akhirnya, kembar Azfary itu memutuskan untuk duduk di samping brankar milik Gea. Tak berapa lama, Seano mendengar beberapa orang mendekati ruang UKS dengan bicaranya yang sangat bisa di tebak bahwa mereka akan berbuat jahat.
"Gue yang masuk ke dalem, lo tunggu disini buat liat sikon nya." Ucap Ane pada Jessica yang di balas oleh anggukan oleh nya.
Sean dan Seano dengan cepat mencari tempat untuk bersembunyi, mereka akan memastikan sesuatu yang akan di perbuat oleh Ane sang kakak kelas.
"Heh, cupu! bangun, Lo" ucapnya seraya menggoyangkan tubuh Gea dengan kasar sedikit terbangun. "Sakit ..." lirih nya dengan mata satu dan keringat yang tengah membasahi wajahnya.
Sean tak tega saat melihat Gea di perlakukan seperti itu, saat ia hendak keluar dari persembunyian nya, Seano dengan cepat menarik Sean agar tak keluar untuk saat ini. Seano pun mengeluarkan ponselnya kemudian mengarahkan kamera ponselnya pada Gea dan juga Ane.
"Barang bukti" ucap Seano tanpa suara yang langsung di angguki oleh Sean pertanda bahwa ia mengerti.
Lagi, suara teriakan Gea membuat kedua remaja lelaki itu menatap ke arah sumber suara. Di Sana, Gea mendapatkan perilaku yang membuat keduanya sekuat tenaga menahan amarah. Bagaimana tidak? apakah perempuan itu tak punya hati karena dengan teganya menyiksa seseorang yang kini tengah terbaring sakit? she is crazy.
"Hm??"
"Kita gak bisa biarin ini, Bang. Ini udah keterlaluan."
Mereka kini tengah melihat aksi bullying yang dilakukan Ane pada Gea. Gadis itu hanya sedikit berontak karena di yakinkan ia tengah sakit. Maka dari itu, Ane begitu puas melayangkan pukulan bahkan jambakan nya seraya tertawa kesenangan.
"Sa-sakit, stop kak." Ucap Gea dengan lirih nya.
"Bang ..." Sean semakin tak karuan saat kembali melihat Ane yang melayangkan pukulan nya pada Gea.
Suara ringisan terdengar pada indera pendengaran nya. Ia sungguh kasihan.
"Okey, barang bukti sudah di tangan, sekarang kita keluar." Setelah mengucapkan itu, Sean dengan cepat dan tenaganya yang besar menendang pintu lemari tempat mereka bersembunyi. Hal itu membuat kedua gadis yang sedari tadi menjadi perhatiannya ter lonjak kaget.
"Wah, wah ... ada cewek jagoan ya ternyata." Ane langsung berdiri dengan tegang. Ia melihat ke arah belakang nya dimana dua kembar Azfary anak dari pemilik sekolahnya ini melihat apa yang ia lakukan pada Gea.
Buliran keringat keluar dari pelipis gadis itu karena merasa ketakutan. "Emm, ini gak seperti yang kalian liat kok, gue ..." ucapannya terhenti kala Seano memperlihatkan video dimana aksi perbuatan gadis itu terekam oleh kamera ponsel milik Seano.
"Kalau ini sampai ke bokap gue, pasti lo bakalan di DO" ucap Sean dengan sarkas.
__ADS_1
"Jangan!!! ampun, gue minta maaf, gue gak akan ulangi lagi." Mohon nya pada Sean dan juga Seano.
Seano memutar mata nya dengan malas dan tiba-tiba pandangan nya terarah pada Gea yang kini menatap ke arahnya juga. Seano melihat memar yang kini tercetak jelas di wajah gadis itu.
Sean mendekat ke arah Gea, sedangkan Seano kini mengurus pembawa masalah yang tepat berada di hadapannya.
"Keluar"
"Sean, gue mohon, jangan lapor sama bokap lo." Ternyata, perempuan di hadapannya ini buta huruf. Memangnya ia tak melihat name tag yang terpampang jelas di kemeja sekolahnya? Seano semakin mendaftarkan wajahnya.
"Gue akan lapor, percuma lo ada disini, lo hanya akan jadi sampah sekolah yang harusnya dibuang."
"Maksud lo apa?" teriaknya tak terima saat dirinya di katakan sampah, bahkan oleh adik kelasnya sendiri.
"Orang yang suka bully itu, menurut gue hanya sebuah SAMPAH. Dan sampah lebih layak di buang dari pada di simpan, bakalan bau bahkan busuk." Suara Seano yang dingin dan tajam begitu menusuk hati, sangat menyakitkan. Tatapan datarnya mampu membuat seseorang hanya terpaku padanya dengan pandangan takut.
"Sampah kayak lo gak pantas untuk di daur ulang, jadi, sepertinya DO adalah keputusan terbaik buat lo."
"Jangan, jangan DO, gue mohon ..." Ane terus memohon pada Seano agar diberikan maafnya. Berbeda dengan Sean yang kini tengah meringis karena melihat luka Gea.
"Astaga, gue obatin ya, tunggu sebentar." Saat bangkit, namun saat hendak melangkah, tangannya di genggam oleh Gea. Hal itu membuat Sean kembali menatap wajah Gea.
"Kenapa?"
"Maafin Ane, jangan DO dia" pintanya dengan wajah memelas. "Are you kidding me?" tanya Sean tak percaya dengan apa yang di ucapkan Gea.
"No, please ..."
"Semua keputusan ada di tangan abang gue."
Gea melihat tangan Seano yang kini tengah terangkat dengan ponsel pada genggaman nya.
"Hallo sweetie, kamu kesini? Okey, abang kesana. Tunggu abang ya."
Sean yang mendengar itu pun langsung berlari ke arah Seano dan melupakan obat yang sedari tadi ia cari untuk mengobati Gea.
"Dia mau kesini." Ucap Seano dengan gembiranya.
"Serius? Ayo kita kesana." Tanpa basa-basi lagi, mereka berdua pun meninggalkan UKS.
Ane yang sedari tadi berlutut pun mulai bangkit berdiri dan berjalan ke arah Gea. "Sekarang lo selamat, liat aja nanti, lo pasti bakalan keluar dari sekolah ini."
Ane pun meninggalkan Gea yang masih terdiam kaku. Bukan karena ucapan Ane, melainkan karena kepergian dua lelaki yang sedari tadi terus membelanya hingga telepon itu mengganggu dan membuat keduanya pergi.
__ADS_1