
Mereka telah sampai di rumah sakit, dan dengan cepat memanggil para petugas untuk membantu mengangkat Sean yang kini tengah pingsan di dalam mobil.
Wajah yang di penuhi lebam serta darah yang terus keluar dari kepala bagian belakang nya membuat Gea semakin khawatir.
"Lo harus baik-baik aja, Sean. Lo pasti kuat, kan?"
"Astaga, kenapa gue se-khawatir ini sama dia, aiishhh ...." Gea terus berbicara sendiri seraya mengikuti para perawat dan dokter yang kini tengah membawa Sean memasuki ruang UGD, ia berhenti karena dilarang untuk ikut masuk ke dalam.
"Dia siapa, Ge?" Tanya sang mommy yang baru saja sampai karena tadi ia memarkir kan mobil nya terlebih dahulu.
"Teman sekolah, lebih tepat nya anak pemilik sekolah, Mom"
"Ohhh ... kirain, dia pacar kamu" ucap sang mommy yang kini memberikan kerlingan jahil di mata nya pada Gea.
"Gak lah, Mom. Bad boy gitu, suka berantem, lagi. No, Mom. Dia bukan tipe Gea. Gea lebih suka yang kalem dan pintar"
"Dia juga pasti pintar, mom yakin akan hal itu"
"Pokok nya Gea tetap gak suka"
"Hmm ... sekarang aja bilang gak suka, kita liat aja nanti kedepannya, pasti berubah deh ..."
"Apaan sih, Mom. Pokok nya aku gak akan pernah suka sama dia, titik!" ucap Gea begitu tegas dengan mata yang memancar kan kesungguhan. Tapi, jikalau Tuhan yang mempersatukan, apa yang bisa mereka perbuat? Kita lihat saja nanti.
*****
"Seano! Seano!" panggil seseorang dengan suara lantang, orang itu berlari semakin mendekat ke arah Seano yang kini tepat berada di depannya.
"Bener kan? kalau lo Seano"
"Hm ..." Sean hendak berbalik untuk melanjutkan langkahnya, namun ....
"Gue liat kembaran lo di keroyok"
"Apa??? dimana???" Tanya Seano dengan cepat.
"Pas gue mau telepon polisi lapor, ada mobil sport yang berhenti dan bantuin dia. Kayaknya mereka udah ke rumah sakit terdekat."
"Dimana?"
"Di rumah sakit"
"Iya, maksud gue, dimana alamat rumah sakitnya"
"ngomong dong, tanya alamat ... Pokoknya pengeroyokan nya di perumahan Arta. Kayaknya rumah sakit terdekat dari situ deh."
"Thanks" tanpa menunggu jawaban dari sang pemberi informasi, Seano dengan segera meninggalkan nya dan menghubungi William sang Daddy.
Tuuuttt ... tuuutttt ...
"Hallo, kenapa, Bang?"
"Dad, Kakak masuk rumah sakit"
"Astaga! kenapa bisa? apa yang terjadi?"
"Kakak di keroyok, Dad. Ini abang sudah di taxi menuju rumah sakit, kalau benar, Kakak dirawat di rumah sakit itu, Abang kabari lagi."
"Baiklah, take care, Son"
"Ya, Dad. Bye"
Seano menatap sekitar, saat ini ia amat sangat khawatir akan keadaan kembaran nya itu.
Apakah lukanya parah?
Apakah ia bisa mengatasi rasa sakit nya?
Ku harap, semua baik-baik saja ...
Kalimat itulah yang terus berkeliaran di kepalanya saat ini.
"Sudah sampai, Den"
"Oh, ya. Ini, terima kasih, Pak" ucap Seano seraya memberikan tiga lembar uang ratusan ribu pada pak supir.
"ya Allah, Den. Ini kebanyakan uangnya"
"Gapapa, Pak. Itu rezeki bapak. Terima kasih karena sudah mengantar saya dengan selamat"
"Sama-sama, Den. Bapak ucapkan terima kasih banyak atas kebaikan Aden"
"Iya, Pak. sama-sama. Saya permisi"
"Baik, Den"
__ADS_1
Setelah pembicaraan itu, Seano dengan cepat berlari menuju meja administrasi. Namun, langkah nya terhenti saat seseorang menyentuh lengan kanan nya.
"Se ... Seano"
"Siapa?" jawab Seano dengan nada super dingin seraya menepis kasar lengan yang baru saja di sentuh nya.
"Aku, Gea. Yang kemarin di kenalin sama Sean waktu di kantin"
"Ohh ..." jawaban yang teramat singkat dan pertanda jika Seano tak menyukai lawan bicara nya saat ini.
"Kamu mau liat keadaan Sean, kan?"
"Ya"
"Ikut, aku" dan tanpa banyak bicara lagi, Seano pun mengikuti Gea. Gea yang kini berada tepat dua meter di hadapan nya.
Seano kembali mengeluarkan ponselnya dan menghubungi William.
"Dad, kakak di rumah sakit Astra"
"Baiklah, Dad akan cepat sampai kesana dan kebetulan daddy sedang bersama Ily"
"Dia sudah tau, Dad?"
"Ya, dan kini dia sedang merengek untuk segera pergi kesana, kalau begitu, Dad tutup panggilannya."
"Ya, Dad"
Setelah memasukkan kembali ponselnya pada saku, Gea pun membuka suara.
"Ini kamarnya" ceklek, suara pintu terbuka membuat Sean kembali tersadar saat matanya hampir saja matanya tertutup karena merasa kantuk dan kelelahan.
"Hmm, Abang?"
Krruukkkk ... krruukkk, suara perut Sean yang berbunyi kini tengah membutuh kan asupan makanan.
Sean menyengir polos membuat Seano ingin sekali memukulnya dengan keras. Namun, saat kembali menatap wajah Sean, Seano pun teringat akan masa kecil nya.
Ya, Sean yang akan tetap manja pada keluarga nya jika ia tengah merasa sakit dan tak pernah ingin di tinggalkan.
Seano meneliti setiap tubuh Sean dari atas kepala yang kini telah terbalut perban.
"Ckkk, kenapa bisa gini sih?" tanya Seano dengan kesal karena melihat wajah adiknya pun telah di penuhi lebam berwarna biru hingga ke unguan bahkan hampir menjadi hitam.
"Di keroyok"
"Lo!!!!" Ia berbalik dengan jari yang di tunjuk kan ke arah orang itu dan mata yang berkilat marah.
"Apa?? mau marah, sama Mommy?"
"Ehh, Gak kok, Mom. Kok mommy sudah ada disini? hehhehe ... tolong lepasin abang dong, Mom."
"Dasar, kamu ini. Mau mengumpat, Hm??? Mommy tadi lagi menjenguk teman mommy di rumah sakit ini, dan ternyata liat abang. Jadi mom ikutin aja." Jewer an pada telinganya semakin bertambah keras karena melihat wajah anak sulungnya yang tetap berwajah datar seolah mengabaikan ucapanya.
"Aahhh ... Iya iya, Mom. Ampun, sakiittt ..."
Gea yang melihat kejadian itu pun hanya bisa menahan tawa nya. Bagaimana jika sampai ia kelepasan menyemburkan tawa nya dan semakin memancing kebencian Seano padanya. Ia tidak mau.
"Kakak, ya ampuuun, kenapa bisa seperti ini, sayang?"
"Laki dong, Mom" Jawab Sean dengan bangga nya.
"Laki, laki ... kamu tau gimana khawatirnya mommy, apalagi Queen!"
ASTAGA!!! hampir saja, si kembar melupakan adik kesayangan nya itu. Dan kedua nya yakin saat melihat keadaan Sean saat ini. Adik mereka itu pasti akan langsung menangis tiada henti.
Seano yang terlepas dari hukuman sang mommy langsung keluar ruangan secara perlahan agar tak di ketahui oleh mommy nya.
Hal itu ternyata mengundang perhatian Gea yang tanpa sadar mengikuti Seano keluar ruangan.
"Aman" Ucap Seano yang kini tengah mengelus dada nya hingga teriakan itu terdengar dan membuatnya terdiam sejenak sebelum membalikkan tubuhnya.
"Abanggggg" Teriakan Willy yang kini tengah berlari dan langsung berhambur memeluk Seano dengan erat.
Isak tangis dari peri kelincinya ini begitu menyayat hati juga merasa lucu karena wajah memerah adiknya ini begitu menggemaskan.
"Gimana keadaan kakak? Huhu ... Ily takuuut, kenapa sih kakak selalu berantem? Ily gak suka, Ily gak mau kakak luka-luka lagi. Hikksss ... hikksss ..."
Seano semakin mengeratkan pelukannya pada Willy dengan sabarnya ia menenangkan gadis kesayangan Azfary ini. Tangan satunya mengusap lembut surai indah Willy dan sesekali mengecup puncak kepala nya dengan penuh kasih sayang.
"Ily percaya sama abang, kan?"
Willy tak menjawab, ia hanya mengangguk kan kepala nya pertanda bahwa ia percaya.
"Ily juga harus percaya sama kakak, kakak pasti baik-baik aja. Kita kan kuat. Kita laki-laki sejati, dan jangan lupakan bahwa kita adalah bagian dari Azfary."
__ADS_1
"Tapi kan ..."
"Sssttt ... don't worry about that, we always fine, Queen"
Willy menengadahkan kepala nya dan menatap lekat ke arah Seano yang kini tengah tertunduk menatapnya juga.
"Promise me"
"Yeah, I'm promise"
"Kakak?"
"Mintalah jawaban pada nya, abang yakin jawaban nya akan sama"
Tanpa bicara lagi, Seano merangkul Willy untuk masuk ke dalam kamar VIP Sean hingga melupakan seseorang yang sedari tadi berada di sekitar nya.
Pintu ruangan tertutup, "siapa, dia?"
"Siapa cewek itu?"
"Gue gak boleh lengah"
"Seano harus jadi milik gue"
Itulah ungkapan yang sedari tadi berperang dalam hatinya. Tepukan pada pundak nya membuat Gea membalik kan tubuh nya yang ternyata adalah sang mommy.
"Ayo kita pulang"
"Tapi, itu ..."
"Tuan Azfary telah berterima kasih pada kita, lebih baik kita pulang. Kamu juga gak mungkin ke sekolah kan? Ini sudah jam setengah sembilan"
"Ya, Mom. Kita pulang aja"
Mereka pun akhirnya memutuskan untuk pulang.
"Tunggu" Ucap seseorang yang berucap hingga menghentikan langkah keduanya. Gea tau suara ini, dengan cepat ia berbalik dan ternyata itu sungguh,"Seano" cicit nya begitu pelan hingga terdengar olehnya saja.
"Kenapa, nak?"
Seano mendekat ke arah mereka yang kini masih terdiam di tempat.
"Tante, saya sangat berterima kasih karena tante telah menolong adik saya"
"Iya, Nak. Sama-sama. Padahal, tante mungkin bisa saja kabur karena ketakutan jika bukan karena anak tante yang meminta tante menghentikan mobilnya."
Hal itu membuat Seano menatap ke arah Gea. Manik matanya tak bisa di tebak.
"Terima kasih"
"Iya, sama-sama, semoga Sean lekas sembuh agar bisa kembali sekolah lagi."
"Hm ..." Deheman Seano membuat Gea sadar bahwa laki-laki di hadapannya saat ini tengah membangun tembok kokoh agar sulit di masuki oleh siapa pun.
"Yasudah, kalau begitu, tante dan Gea pamit ya. Salam pada keluarga dan juga Sean, semoga lekas sembuh" Ucap mommy Gea di barengi dengan lambaian tangan lentik miliknya.
"Baik tante, sekali lagi saya ucapkan Terima kasih."
"Sama-sama, Nak. Bye"
"Iya, tante"
Setelah keduanya berbalik, raut wajah Seano kini telah nampak kembali seperti semula.
Dingin
Datar
Dan hanya ada ketegasan dalam raut wajahnya.
"Siapa yang berani main-main dengan Azfary, liat aja nanti ..."
Seringai tipis muncul di bibirnya. Begitu pun dengan sorot mata tajam yang terlihat seperti laser.
Ia tak suka jika keluarganya di usik
Ia tak suka saat dengan beraninya orang-orang itu melukai keluarga tersayang nya.
"Saat gue tau orangnya, dia gak akan bisa lari kemana pun ..."
*****
Helloooo....
UP UP UP!!!!
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE dan COMMENT 😉😉😉😉😉