
Seano kini tengah belajar dengan beberapa buku yang telah menutup setengah meja belajarnya. Ia akan ulangan harian kimia besok, maka dari itu, Seano belajar kembali mengulang materi yang sebelumnya ia terima dari guru.
Matanya menatap dengan seksama soal dan jawaban yang ia kerjakan. Sesekali, alisnya akan mengkerut, bertemu menjadi satu karena mendapat sedikit kesulitan.
Saat dirasa lelah karena masih tak mendapat jawaban yang pas, seseorang menginterupsinya dari balik pintu.
Tok tok tok, suara ketukan pintu yang begitu nyaring membuat Seano akhirnya buka mulut untuk berbicara.
"Masuk!"
"Abang.... Ayo kita makan..." Ajak Willy dengan antusias membuat Seano bangkit dari duduknya dan mendekat ke arah Willy.
Remaja tampan itu mendekat dengan senyuman manis di bibirnya. Tangannya ia ulurkan untuk mendapatkan genggaman yang ia inginkan. Hingga, akhirnya mereka pun berlari menuju ke arah tangga.
Bahkan, mereka melupakan satu hal. Lift.
Seano menggenggam erat tangan Willy kala adiknya itu dengan cepat menuruni tangga. Untuk nya sih tak masalah, namun yang Seano khawatirkan adalah adiknya. Ia takut jika adiknya akan terjatuh karena berlari.
"Sayang, pelan-pelan." Ucap Seano dengan nada datarnya dan hal itu membuat Willy menghentikan langkahnya kemudian berbalik menatap Seano.
"Maaf abang, habis Ily lagi seneng."
"Seneng kenapa?"
"Karena sekarang ada makanan favorite Ily, yeayyy!!!"
Seano mengacak gemas rambut Willy dan membuat sang empunya menggembungkan kedua pipinya. Lucu.
"Segitu senangnya sampai lupa kalau mansion kita punya lift."
"Ihhhh... Abang, kok gak ingetin dari tadi. Ily lupa..." ringisnya saat menyadari kebodohan yang ia lakukan.
"Gapapa, tuh, bentar lagi sampai." Willy pun hanya menganggukkan kepala membenarkan.
Di ruang makan, terdapat Mom and dad. Ternyata mereka tengah menunggu kedatangan para anak-anaknya. Tapi tunggu, dimana Sean?
"Bang, kok kakak gak bareng kalian berdua?" tanya sang Mommy yang membuat Seano mati kebingungan. Ia tak ingin berbohong pada keluarganya.
"Emm... itu, kakak ke rumah temennya, Mom. Kelompok mungkin?"
"Loh? ini sudah waktu makan malam, kenapa selama itu?"
"Abang juga kurang tau, Mom. Mungkin memang tugasnya sulit atau banyak."
Dalam hati, Seano berdo'a serta memohon ampun karena telah berani membohongi kedua orang tuanya.
"Yasudah, sekarang kalian duduk aja, Princess... Mommy sudah buatkan makanan kesukaan kamu."
"Asikkkk... thank you, Mommy." Willy memeluk Kim dengan riangnya.
Mereka pun makan dengan tenang.
Setelah makan malam selesai, Seano mengetuk pintu kamar Willy dan dengan perlahan membuka pintunya.
"Abang," lirih Willy yang ternyata adiknya itu sudah dalam posisi tidurnya. Seano pun mendekat dan tidur di samping Willy.
Ia membawa Willy dalam pelukannya membuat sangat adik semakin nyaman dan kembali menutup mata.
"Good night, Princess."
"Too, Abang." Willy merasakan kecupan pada dahinya. Sungguh, hari yang menyenangkan.
Ia amat sangat bersyukur karena telah dilahirkan dalam keluarga Azfary. Begitu banyak kasih sayang yang melimpah selalu ia dapatkan dari semua keluarganya.
Willy sayang mereka sepenuh hati. Begitupun keluarganya.
Saat Seano hendak menutup mata mengikuti Willy yang kini tengah terlelap, getar ponsel miliknya membuat Seano dengan segera melihat siapa gerangan yang meneleponnya saat ini.
Sean is calling....
Seano bangkit dari tiduran nya dan melangkah dengan perlahan menjauhi tempat tidur Willy tanpa mengeluarkan banyak suara.
"Hallo, kenapa Kak?"
"Bang, motor kakak mogok nih, hehe jemput dong."
"Dasar, kenapa baru pulang jam segini?"
__ADS_1
"Maaf bang, tadi di suruh mampir dulu dan makan di sana."
"Hmm... tapi gak terjadi apa-apakan?"
"Gak ada kok bang, cepet bang, serem nih tempatnya."
"Yaudah, share lock."
"Siap bos!"
Seano mematikan sambungan teleponnya kemudian HP nya kembali bergetar. Ia kira Sean yang menelponnya, namun salah. Ternyata nomor tak dikenal.
"Hallo?"
"...."
"Hallo...."
"...."
Merasa tak ada jawaban, Seano berfikir bahwa itu hanya orang iseng yang dengan berani menelpon dirinya.
Seano kembali membuka layar kunci pada ponselnya saat Sean mengirimkan lokasinya saat ini.
Ia pun akhirnya bergegas kembali ke kamarnya, namun sebelum itu, dikecup nya puncak kepala Willy dan mengelus kepalanya dengan sayang.
"Abang tinggal ya sayang...." Bisik nya kemudian keluar dari kamar Willy.
"Loh, kemana bang?"
"Jemput kakak, Mom."
"Loh? emangnya kenapa? Kakak baik-baik aja kan?"
"Mom gak perlu khawatir, motornya mogok, makanya sekarang abang mau jemput."
"Mommy kira kakak berantem lagi, yaudah abang hati-hati ya... awas jangan ngebut-ngebut sayang."
"Iya Mom... Dad, abang pamit ya."
"Hati-hati bang, pulangnya bawa martabak manis ya."
"Okey, Dad."
Akhirnya Seano pun meninggalkan mansion dengan kecepatan rata-rata. Mobil sport hitam metalic nya kini membelah jalanan malam yang tengah di penuhi lampu dari berbagai arah.
Matanya menyipit kala seseorang yang tengah terduduk di halte menyita perhatiannya.
"Itu..." tanpa basa-basi lagi, ia membawa mobilnya ke tepi dan tepat berada di hadapan gadis tersebut.
__ADS_1
"Masuk."
"Loh? Sean?"
"Hm... cepetan masuk."
Perempuan itu menatap sekitar dengan gelisah, namun ia tetap masuk dalam mobil sport milik most wanted sekolahnya saat ini.
"Bukannya kamu selalu pakai motor?"
"Punya Seano."
Kepalanya hanya mengangguk tanda mengerti. Kemudian, matanya dengan jelas melihat foto yang terdapat pada gantungan kaca spion mobilnya.
Foto Seano yang tengah mencium pipi seorang gadis cantik yang tengah tersenyum ke arah kamera.
Entah kenapa, hatinya terasa sakit kala melihat itu.
"Kemana?"
"Ah, em... ke jalan permata no 10."
Tanpa basa-basi lagi, Seano menginjak pedal gasnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Hal itu membuat Gea sedikit takut. Namun gadis itu hanya bisa bungkam.
"Itu siapa?" Tanya nya membuat Seano sedikit mengalihkan perhatiannya namun dengan cepat kembali melihat ke arah jalanan.
"Bukan urusan lo."
"Hmm... Pasti pacar Seano ya, dia cantik banget. Gue jadi iri."
"...."
"Kira-kira, Seano bakalan suka gak ya sama gue?" Ceplos nya yang langsung membuat Gea menutup bibirnya seraya menatap lelaki yang berada di sebelahnya menatapnya juga walau sekilas.
"Jangan bilang orangnya." Mohon Gea yang diangguki olehnya.
Dalam hati, Gea terus bertanya, bukannya Sean selalu banyak bicara padanya? Tapi ini...
"Dah sampe."
"Ah... Oh, oke, makasih Sean."
"Seano."
"Oh... Eh, apa?" Kagetnya yang ternyata ia salah mengenali si kembar.
"Gue Seano."
"Ah... Maaf ya Seano gue salah ngenalin lo. Dan makasih juga atas tumpangannya."
Seano hanya mengangguk, setelah Gea keluar, dengan cepat mobil itu meninggalkan Gea yang kini tengah terpaku dan merutuki ucapan anehnya tentang Seano.
__ADS_1
"Gilaaaa!!!!! Gue bisa gila!!!".