TWIN BROTHERS POSSESSIVE

TWIN BROTHERS POSSESSIVE
Jantung Berdetak Hebat


__ADS_3

Sean kini tengah duduk di sebelah


Seano yang sedang mengemudikan mobilnya dengan santai. Sunyi. Itulah yang menggambarkan suasana kali ini.


"Bang." Panggilnya yang hanya di balas deheman oleh Seano.


"Kayaknya ada yang aneh deh."


Seano menatap Sean sekilas, namun kemudian ia menatap ke arah jalanan lagi.


"Ada apa?"


"Itu, tadi cowok yang kita bantu... kayaknya ada sesuatu yang gak beres deh dari dia."


"Udah di selidiki?" Tanya nya dengan pandangan menyelidik.


"Belum bang, tapi nanti kakak coba lebih deket lagi aja."


"Hati-hati kak, jangan sungkan minta tolong sama abang."


"Iya bang, kakak gak akan bertindak gegabah lagi."


"Memangnya apa yang bikin kakak curiga sama tuh anak?"


"Sekilas, kakak liat dia chat dengan yang namanya Yona."


"Yona? Musuh kamu itu?"


"Hm... Entahlah, tapi firasat kakak sih, iya bang."


"Jangan sampai dia tau dan malah menjadikan Ily sebagai target." Tegasnya dengan mata menyorot tajam.


"Kakak gak akan biarin mereka menyentuh Ily sedikit pun."


Tiba-tiba, Seano melajukan mobilnya semakin cepat, Sean pun bertanya pada Seano.


"Ada apa bang?"


"Mobil hitam di belakang kita sedari tadi ngikutin terus."


Sean menatap ke arah belakang dan ternyata benar, mobil hitam itu terus mengikuti ke arah mana mereka pergi.


"Pancing bang."


Seano pun membawa mobilnya ke sebuah jalanan sepi yang pastinya jarang sekali di lewati oleh kendaraan lain. Ia dengan otak encernya memikirkan rencana yang akan mereka lakukan.


Laju mobilnya ia sengaja dibuat semakin perlahan dan lama-kelamaan mati. Dan hal itu membuat mobil yang mengikutinya pun memberhentikan laju mobilnya.

__ADS_1


Sean dan Seano keluar dari mobil dengan wajah di buat se-frustasi mungkin.


"Ahh... Pake mogok segala!" Teriak Seano yang memang sengaja untuk memancing orang itu.


Sean pun berjalan ke arah kap mobil dan membukanya. Seano mendekat dan membisikkan sesuatu pada Sean.


Karena tertutup oleh kap mobil, si penguntit pun tak dapat melihat apa yang dilakukan keduanya. Hal itu membuat Sean dan Seano secara bebas melaksanakan rencananya.


Bughhh, pukulan itu mengenai wajah Seano hingga membuat ia tersungkur ke tengah jalan.


Dengan perlahan ia bangkit dan membalikkan serangan yang Sean lakukan padanya.


Bughh bughhh, "gila lo! gue salah apa sama lo?"


"Lo berani-beraninya jelekin cewek gua, hah!" Teriak Sean begitu kerasnya seolah kini tengah melampiaskan  amarahnya.


"Apaan? Gue emang ngomong yang sebenarnya. Lo yang gila! Lo buta hah? Liat baik-baik! Dia itu cewek yang hanya manfaatin lo doang."


Bughhh bughhh bugghhh, serang Sean dengan mata berkilat marah. Hal itu membuat Seano sedikit merinding dan dengan cepat bangkit karena sempat tersungkur kembali.


Ia melihat mobil hitam itu masih terdiam kemudian berlari ke arahnya. Dengan sedikit panik, ia memukul kap mobilnya dan meminta tolong untuk di bantu.


"Tolong! tolong saya." Ucap nya dan dengan jelas menatap si pelaku yang kini tepat di hadapannya walau hanya terbatas oleh kaca mobil. Namun sayang, kaca mobilnya tak tembus pandang.


Seano menatap ke arah belakang dimana Sean kini tengah membawa sebuah kayu yang pastinya ia dapatkan di sisi jalan.


Pintu pun terbuka membuat Seano memberikan tanda pada jarinya yang pasti hanya bisa di lihat oleh Sean.


Sean yang mengerti pun langsung berlari dan membuat Seano bergegas memasuki mobil.


"Thanks." Ucapnya seraya menatap seseorang yang kini tengah berada di balik kemudinya.


Seano sedikit termenung kala melihat wajah seseorang di hadapannya saat ini. Cantik. Itulah yang ada di benak Seano kala melihat gadis cantik bersurai coklat dengan mata biru sebening lautan. Tunggu! Ini bukan saatnya.


"Kamu gapapa? Astaga, darah! Tunggu-tunggu... aku carikan P3K dulu." Seseorang itu melepas seat belt nya dan mulai mencari.


Hingga akhirnya ketukan keras pada kaca dari arah Seano membuat si empunya mobil terperanjat kaget, lebih tepatnya ketakutan.


"Astaga! Apa yang harus kita lakuin? Kamu ada masalah apa sebenarnya sama dia?"


Seano tak menjawab, ia malah menatap seseorang itu dengan pandangan yang sulit di artikan.


"Jangan sampai terpesona Seano!" Sugesti nya dengan penuh penekanan. Namun entah mengapa, ia sangat sulit mengalihkan pandangannya dari gadis ini.


"Hei? Astaga!"


Teriaknya kala ia melihat wajah yang sama lelaki diluar sana.

__ADS_1


"Dia?"


"Kembaran aku. Kamu siapa?"


"Aku Rahma, Aqila Rahma Wirawan. Aku baru pulang dari luar kota dan arah rumahku memang kesini. Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya nya semakin panik kala Sean semakin keras mengetuk kaca mobilnya.


Saat Seano hendak membuka pintu mobilnya, dengan cepat ia menggenggam tangan Seano untuk menghentikan aksinya.


Seano merasa debaran jantungnya mulai berdetak cepat dan tak karuan.


"Kamu gila ya? Liat! dia bawa kayu, kamu gak takut di pukul lagi?"


"Enggak, kamu tenang aja."


Akhirnya, Seano membuka pintu mobilnya dan mendapat sambutan sebuah kayu yang siap melayang ke arahnya.


"Aman!" Teriak Seano dan mampu menghentikan perbuatan gila Sean.


"Serius? terus dia siapa?" Tanya Sean seraya melempar kayu yang sedari tadi berada di tangannya.


"Dia baru pulang dari luar kota, dan katanya memang jalan rumahnya kesini."


"Astaga... jadi percuma dong tadi kita tonjok-tonjokan bang?"


"Iya, percuma."


"Yaudah, ayo pulang." Saat hendak melangkah, Sean terhenti kala Seano berucap sesuatu padanya.


"Kita antar dia balik, kasian, jalannya sepi banget. Rawan."


Sean memiringkan kepalanya tak mengerti akan tingkah Seano. "Seriously?"


"Hm.... "


Seano kembali masuk kedalam mobil Rahma.


"Loh? Kok?"


"Ya, kita baik-baik aja, sebenarnya ada orang yang berniat mencelakai kita. Makanya kita waspada terlebih dahulu. Maaf, bukan maksudku membuatmu takut seperti tadi."


"Syukurlah kalau memang tidak serius. Terus? Kenapa kamu gak pulang?"


"Kita antar kamu terlebih dahulu. Jalanan ini sangat rawan."


"Baiklah... Terima kasih—"


"Seano, Seano Ride Azfary."

__ADS_1



__ADS_2