TWIN BROTHERS POSSESSIVE

TWIN BROTHERS POSSESSIVE
Sean Seano Panik


__ADS_3

Di perjalanan pulang menuju sekolah, mereka membeli beberapa makanan dan juga minuman di sebuah minimarket. Willy hanya melihat saja karena uang nya telah habis di berikan pada Ujang.


"Ayo kita bagiin." Ajak Dimas pada Willy yang kini tengah menatapnya.


"Bagiin ke siapa Dimas?"


"Itu." Tunjuk Dimas pada pengamen jalanan yang tengah mencari nafkah di lampu merah.


Willy menganggukkan kepalanya dengan cepat dan senyum cerah pun terbit di bibirnya.


"Ayo."


Mereka pun menyebrang dan mendekati para pengamen. Minuman serta makanan yang tak seberapa namun sangat berharga bagi mereka membuat Willy semakin tergugah hatinya.


"Sekarang jam berapa, Qwe?" Tanya Willy.


"Jam sembilan nih, udah waktunya istirahat. Tugasnya juga bisa langsung di kumpul sekarang karena kita udah beres."


"Yaudah kita balik ke sekolah sekarang, mumpung lagi istirahat juga."


Pintu gerbang terbuka, akhirnya mereka kembali ke sekolah. Namun, tiba-tiba saja langkah mereka terhenti kala terdengar sebuah ringisan dari Willy.


"Ily? Kamu kenapa?" Tanya Sasya dengan panik.


Willy semakin meremas perutnya yang terasa sakit. Keringat pun mulai membasahi pelipis Willy.


"Ahhh... perut Ily sakit banget Qwe." Ucapnya sembari meremas tangan Qwe yang tadi memegangnya. Dimas pun akhirnya jongkok di hadapan Willy.


"Ayo naik, kita ke UKS."


Karena sudah tak tahan akan rasa sakit nya, Willy pun akhirnya naik ke gendongan Dimas. Mereka berlari menuju UKS tanpa menghiraukan tatapan-tatapan penuh kebingungan dari siswa-siswi lainnya.


"Stop!"


Teriak seseorang kala Dimas melewati nya. Aura mencekam dirasakan oleh mereka apalagi Dimas yang kini tengah mengatur nafasnya karena berlari seraya menggendong Willy di tambah, aura mencekam yang semakin Dimas ketakutan.


"Siapa?" Tanya seseorang itu dengan nada datarnya yang ternyata adalah Sean.


"Willy kak." Dengan cepat, Sean mengangkat wajah Willy yang sedari tertunduk. Ia pun kini dapat melihat wajah pucat adiknya.


"Sayang, hey... Are you okey sweetie?"


"Kakak... perut Ily sakit..." ucapnya begitu lirih. Mata dan hidung nya pun terlihat memerah karena menangis.


"Berikan!" Tak banyak tanya lagi, Sean langsung mengangkat Willy ala bridal style menuju ruang UKS.


Sesampainya di sana, Sean mencari dokter sekolah. Namun tak ada. Dengan cepat ia mendial nomor Seano.


"Bang, cepat siapin mobil."


"Ada apa?"


"Kita ke rumah sakit, Willy di UKS sekarang."


"Tunggu di gerbang."


Seano pun akhirnya bergegas menyiapkan mobil dan Sean yang kini kembali mengangkat Willy dan berlari menuju gerbang sekolah.


"Kalian kembali ke kelas, makasih." Ucap Sean membuat Qwe dan Sasya pun menganggukkan kepalanya. Mereka bahkan sempat menahan nafas kala pertama kali Sean menghentikan mereka.


Sungguh, ciptaan Tuhan yang amat sangat sayang jika di lewatkan. Namun, berbeda dengan Dimas serta Ciko yang menatap Sean dengan pandangan tak suka.


"Sebenarnya dia siapa nya Willy?" Tanya Dimas pada Ciko.


"Gue juga gak tau, yang pasti dia anak pemilik sekolah ini."


"Serius?" Tanyanya saat mendengar ucapan Ciko. Pupus lah harapannya jika itu memang benar.

__ADS_1


"Hm... kenapa? Mau lo lawan?"


"Hah? Ya tentu saja.... tidak." Lirih nya di akhir membuat Ciko tak segan melayangkan pukulannya pada kepala Dimas.


"Sialan, kirain mau lo lawan."


"Gak lah, gue masih sayang nyawa. Keliatannya juga bad boy. Pasti serem kalau berantem."


"Hm... gue sepemikiran sama lo." Dimas dan Ciko pun melangkahkan kakinya menuju kantin.



Sean dan Seano kini tengah bergegas menuju rumah sakit. Sayangnya Seano membawa mobil sport dua kursi, hal itu membuat Sean akhirnya berlari ke arah parkiran mengambil motornya.



Willy sedari tadi pmeringis kesakitan karena tak kuasa menahan rasa sakitnya. Ini untuk yang pertama kalinya ia merasa seperti ini.



Seano menatap adiknya dengan dengan cemas. Tangan satunya menggenggam erat tangan Willy seolah memberinya kekuatan.



"Tahan sayang, sebentar lagi kita sampai rumah sakit."



Willy pun hanya membalasnya dengan gumaman pelan karena masih berusaha menahan sakitnya.



Seano menatap jalanan dengan tajam, ia akan menghubungi kedua orang tuanya saat mereka tiba di rumah sakit nanti. Kecupan ia bubuhkan pada punggung tangan Willy dan berpindah mengusap perutnya berharap mengurangi rasa sakit adik tersayangnya itu.




Sean membuka pintu mobil Willy dan dengan cepat menggendongnya lagi. Seano pun akhirnya memarkirkan mobil terlebih dahulu setelahnya berlari menuju ruangan dimana Sean dan Willy berada saat ini.



"Gimana kak?"



"Masih di tangani dokter."



"Kenapa bisa gini sih kak?"



"Kakak juga gak tau bang, pas kakak mau jemput Ily di kelasnya buat istirahat bareng, kakak liat Ily udah di gendong sama temen sekelasnya."



"Temen?"



"Iya, dia laki-laki." Kedua mata mereka menajam. Mereka tak akan membiarkan siapapun mendekati adiknya.



Tak berapa lama, dokter pun keluar seraya melepas stetoskop nya.

__ADS_1



"Dok, bagaimana keadaan adik saya dok? Dia gapapa kan dok?"



"Tolong jawab dok!"



"Dokter, kenapa adik saya bisa kesakitan seperti itu?"



"Apa sakitnya parah?"



"Apa yang harus kita lakukan dok?"



"Dok! jawab saya dok!" Ujar mereka panik.



"Bagaimana saya menjelaskan jika saya tak di beri kesempatan untuk menjawab."



Akhirnya Sean dan Seano pun diam. Sang dokter pun akhirnya menjelaskan kondisi yang di alami adiknya saat ini.



"Pasien bernama Willy kini tengah mengalami menstruasi. Apakah ini untuk pertama kalinya?"



"Y-ya, dok." Jawab Sean sedikit tergagap dengan wajah memerah karena merasa malu.



Begitu pun Seano yang hanya mengangguk dan menundukkan kepalanya dengan kuping yang terlihat memerah.



"Pada saat menstruasi ada yang mengalami kondisi serupa dan itu terjadi karena kontraksi di dalam rahim atau kandungan. Kontraksi otot rahim ini dipicu oleh hormon prostaglandin, yang kadarnya akan meningkat tepat sebelum menstruasi dimulai."



"Tapi adik saya gapapa kan dok?"



"Untuk para wanita, ini adalah hal lumrah yang akan sering mereka rasakan."



Setelahnya, Sang dokter pun berpamitan pada si kembar dan keduanya pun langsung masuk ke dalam ruangan. Mereka melihat dimana wajah teduh adiknya kini tengah terlelap dengan nyaman. Mungkin dokter telah memberikan obat padanya.



"Jangan buat kakak takut sayang...." Sean mengelus surai panjang Willy dengan perlahan agar tak mengganggu tidur adiknya.



Sedangkan Seano, ia terus mengecup kecil punggung tangan Willy yang terbebas dari selang infus. "Cepat sembuh sayang... abang gak bisa bayangin kedepannya saat kamu merasa sakit ini lagi."

__ADS_1



__ADS_2