TWIN BROTHERS POSSESSIVE

TWIN BROTHERS POSSESSIVE
Ptotect Her


__ADS_3

Kediaman Azfary kini tengah di ramaikan dengan suara sapa dari Willy.


"Selamat pagi semuanya ...." Riang dan gembira, itulah yang menggambarkan perasaannya saat ini.


"Pagi, Sayang." Willy mencium pipi sang mommy.


"Pagi, Sayang." Willy pun berpindah kemudian mencium daddy nya.


"Pagi, Little sister." Terakhir, Willy mencium kedua pipi si kembar secara bergantian dan di balas dengan kecupan di kedua pipinya secara bersamaan.


"Siap untuk jadi siswi SMA?"


"Siap, Daddy." Pekik Willy begitu semangat.


"Okey, kalian sarapan dulu, setelah itu kita berangkat."


"Siap, Dad." Ucap ketiga anaknya begitu serempak membuat kedua orang tua mereka terkekeh geli.


"Aku selesai."


"Aku juga."


"Ily selesai."


Ketiganya berseru secara bersamaan.


"Kalo begitu Ily mau berangkat sama siapa? abang, kakak, atau daddy?" tanya mommy nya yang kini tengah menyiapkan buah-buahan untuk Willy.


"Ayo Dek, sama Abang aja." Ajak Seano dengan semangatnya.


"Eh-ehh— gak bisa gitu, mending Ily sama Kakak aja." Ketus Sean saat Seano akan mendahuluinya.


"Abang!"


"Kakak!"


Perseteruan keduanya terus berlanjut. Bahkan, tanpa mereka sadari, Willy sudah pergi dengan bekal buah-buahan di tangannya dan sang daddy yang telah berpamitan pada istri tercintanya.


Suara mobil terdengar meninggalkan  pekarangan mansion, dan setelah mereka sadar, keduanya menatap sang mommy dengan wajah sedihnya.


"Mom, kok gak bilang sih?"


"Habisnya, kalian terus rebutan, jadi Ily sama daddy, deh. Udah, sekarang Kakak sama Abang juga harus berangkat ke sekolah."


"Kakak, sih ... jadikan Ily sama daddy."


"Abang juga salah ya!"


"Ck ... berisik," Seano menatap jam yang kini bertengger di pergelangan tangannya.


"Astaga, Abang telat karena harus briefing dulu." Pekik Seano menghentikan perdebatan mereka.


"Ayo."


Akhirnya mereka berdua pergi. Seano dengan mobil sport nya, sedangkan Sean dengan motor sport nya. Kalo ditanya kenapa Sean pakai motor?? dia pasti akan jawab, "karena kalo pake motor, sifat bad boy nya terlihat lebih mencolok."


Seano mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, begitu pun Sean. Keduanya terlibat dalam aksi balapan.


Saling menyusul diantara keduanya membuat pengendara lain mengumpat kesal seraya membunyikan klaksonnya akibat ulah mereka.


Hal itu tak jadi masalah karena keduanya kini tengah di kejar waktu. Hingga akhirnya, Sean memenangkan balapan karena lolos terlebih dahulu dari lampu merah persimpangan jalan menuju sekolah mereka.


AIS


(Azfary International School)


Itulah nama yang terpampang jelas di hadapannya saat ini. Willy menatap ke arah sekitar dengan binar kebahagiaannya.


"Sudah sampai ... hati-hati Sayang, kalau ada apa-apa langsung hubungi kakak atau abang, ya." Ucap William seraya mengelus puncak kepala Willy.


"Iya Daddy, Ily pergi dulu, Daddy juga hati-hati ya." Pamit Willy seraya mencium pipi sang daddy.

__ADS_1


Lambaian tangan Willy ia arahkan pada sang Daddy yang kini telah melajukan kembali mobilnya.


"Wahh ... semoga Ily dapat teman banyak disini."


Selama Willy berjalan, selama itu pula banyak yang memperhatikan gerak-geriknya. Bahkan pujian yang di lontarkan padanya membuat Willy tersenyum menatap ke arah mereka sebagai tanda Terima kasihnya.


Siapa itu??? Imut sekali.


Cantikkkkk.


Dia mau gak ya jadi pacar gue.


Manis banget sihhhh.


Dia artis bukan sih? rambutnya bagus banget.


Iya, kulitnya juga, kayaknya mulus banget tuh.


Seperti itulah pujian yang terlontar dari perempuan maupun laki-laki.


Sean telah sampai di sekolah kebanggaannya. Ia melihat adik tercintanya kini tengah berjalan menyusuri koridor membuat Sean segera turun dari motornya.


"Titip motor gue." Katanya pada seorang siswa seraya melemparkan kunci motor dan meminta untuk  memarkirkan motor kesayangan nya. Hal itu langsung diangguki oleh siswa itu dan bergegas membawa motor Sean menuju parkiran sekolah.


Namun, ada sesuatu yang membuat matanya terbelalak tak percaya. Ya, itu dia. Kean si pria dingin menyaingi abangnya berlari cepat tanpa menoleh ke arah depan.


Tabrakan itu tak terelakkan lagi. Suara jatuhan yang berdentum kuat membuat beberapa siswa siswi itu kini menatap ke arah Kean dan Willy yang sama-sama telah terjatuh.


"Aahh ... mommy, ini sakit sekali." Batin Willy seraya melihat telapak tangannya.


"Eh, sorry, gue gak sengaja." Ucap Kean pada seseorang yang kini terduduk di hadapannya, namun tetap mempertahankan nada datar nya.


Hal itu membuat Sean makin dibakar api kemarahan. Bagaimana bisa adik manisnya terjatuh dengan sangat keras dan mendapat ucapan datar dari si dingin Kean. Sialan tuh anak!


Sean semakin mempercepat langkahnya hampir berlari, dengan kerasnya, ia mendorong Kean hingga menjauh dari tempat ia berpijak.


"Sialan! Lo apain dia hah?" teriak Sean pada Kean yang kini sedikit meringis merasa kebas di bagian punggungnya akibat si bad boy Azfary.


"Alah ... alasan lo." Sean emosi saat orang yang di sayangnya terduduk dengan darah di telapak tangannya walau sedikit, Sean dan Seano selalu tetap menjaga agar tak ada yang membuat adiknya kesakitan.


Saat Sean hendak emukul Kean, gerakannya terhenti kala Willy menarik-narik ujung baju Sean yang kini tengah keluar dari celana panjangnya. Seperti anak kecil yang ingin meminta permen, Willy berbicara pada Sean.


"Kakak, ayo, nanti Ily telat."


"Tapi tangan kamu?" Ily pun menjawab nya dengan gelengan kepala karena tak tau harus apa.


"Kita ke UKS dulu ya, nanti Kakak izin ke ketua OSIS nya." Ily mengangguk lucu di hadapan Sean juga Kean.


Interaksi Sean dan siswi yang sekarang di bawanya ke UKS menjadi perhatian siswa siswi yang tengah menonton mereka juga Kean.


"Sean si cool bad boy ?? Bicara manis? ini bener? atau perasaan gue aja nih??" batin Kean bertanya-tanya .


Ternyata tak hanya Kean, murid yang kini satu angkatan dengan Sean maupun kakak kelas, juga sangat  terkejut melihat Sean seperti itu.


Setelah keduanya sampai di UKS, Sean segera mendudukkan Willy di atas brankar yang tersedia.


"Sini sayang, Kakak liat lukanya."


"Kakak, ini sakit." cicit Willy mengadu pada Sean dengan mata berkaca-kaca.


"Iya, ayo kita obati biar cepat sembuh, okey??"


Willy tak menjawab, namun ia tetap menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Sini peluk leher Kakak, Kamu sembunyi ya."


Inilah cara menyembuhkan yang paling Willy suka dari Sean. Sean akan memberikan punggungnya seolah akan menggendong Willy, kemudian dengan perlahan mengambil tangan Willy yang berdarah dan mulai membersihkan dan juga mengobati nya.


Willy hanya bersembunyi di ceruk leher sang kakak sambil memeluk leher Sean dengan tangan satunya lagi. Tak terasa dengan apa yang di lakukan Sean. Hingga akhirnya, kakak nya berseru, "selesai."


"Sudah? kenapa gak kerasa sakit, Kak?"

__ADS_1


"Kakak kan udah kasih mantra."


"Begitu? wahh Kakak hebat." Pekik Willy merasa girang akan kehebatan kakaknya. Apalah daya Sean kala melihat senyum manis di wajah cantik adiknya ini, ia hanya bisa mengecup keningnya seraya mengelus surai Willy dengan sayang.


"Iya dong, yaudah kalo gitu, ayo kita ke kelas kamu, sepertinya upacara pembukaannya udah selesai."


"Okey ... Kakak antar Ily kan?"


"Iya,Kakak pasti antar,Princess."


"Thank you, Prince."


Sean membantu Willy turun dari brankar UKS. Keduanya keluar seraya merangkul pundak sang adik dengan posesifnya.


Bagi Willy, perilaku Sean atau pun Seano yang seperti ini adalah hal yang biasa. Karena ini adalah salah satu dari sekian banyak perhatian yang mereka berikan pada Willy. Namun, apa tanggapan seluruh warga sekolah kala melihat keduanya bersikap manis seperti itu?


Itu adalah ....


Keajaiban.


Suatu hal langka.


Menakjubkan.


Mereka menuju ke arah mading, dan ternyata kertas daftar kelas sudah terpajang, itu berarti kelas telah di umumkan.


"Ily masuk kelas X1."


"Oh iya? mana, Kak?"


"Ini," tunjuk Sean pada nama Willy yang terpampang di daftar kelas X1.


"Okey, antar Ily kesana ya, Kak."


"Ayo ... let's go."


Mereka berdua menuju kelas X1, koridor tengah kosong karena selama mereka di UKS, bel masuk telah berbunyi dan sampailah mereka di luar ruang kelasnya.


Suara ketukan pintu membuat semua orang yang berada di dalam kelas terdiam seraya menatap ke arah sumber suara.


"Masuk," jawab seseorang dari dalam.


Seano, Kean, Wiby juga Putri adalah pembimbing kelas X1, mereka menengok ke arah pintu yang ternyata kini menampakkan Willy dan Sean.


Banyak anak kelas yang memekik karena melihat kecantikan dan kepolosan yang tergambar jelas dari muka Willy. Wajah tampan Sean membuat para adik kelas melirik ke arah Seano juga seakan mereka menerka-nerka wajah sang kakak kelas.


Mereka kembar! itulah kesimpulannya.


"Masuk sayang." Seano berucap dengan halusnya.


"Makasih, maaf Ily telat, Bang."


"Gapapa," ujar Seano seraya mengelus kepala Willy, para siswi yang ada di kelas begitu terkejut melihat perlakuan Seano pada Willy.


Hal itu sangat berbeda dari sebelum Willy memasuki kelas. Datar, dingin, tak ada ekspresi sedikit pun. Bahkan, Seano hanya bicara satu patah atau dua patah kata saja. Para rekannya yang lain pun menatap ke arah Sean Seano dengan pandangan tak percaya.


"Kakak, makasih ya udah anter Ily."


"Sama-sama, Kakak masuk kelas dulu ya."


"Bye, Kakak." Willy melambaikan tangannya dengan girang serta cengiran khas gigi kelinci nya yang selalu menjadi kesukaan keluarga Azfary.


Teman kelas yang melihat itu begitu gemas dengan kelakuan Willy. Seperti anak kecil, sungguh imut sekali.


Kean yang melihat itu begitu terpesona. Jika di ibaratkan dengan primadona yang katanya ada disekolah ini bernama Laura. Ia sangat yakin Willy akan menggantikan posisi tersebut.


Dua kali ia bertemu dengan gadis di sampingnya ini. Dan dua kali itu pula ia terbuai akan kecantikan gadis di sampingnya.


Mine!!!


*****

__ADS_1


__ADS_2