
Sudah lama, mereka menantikan moment ini. Ya, mereka kini tengah berada dalam satu ruangan dengan bentuk ruang persegi 2x2. Ketiganya tertawa bahagia. Seano pun menekan play, pada tombol layar di hadapannya.
Suara instruksi dengan hitungan mundur membuat mereka bersiap.
Tiga, dua, satu—
Jepretan pada layar dengan menunjukkan potret mereka membuat ketiganya tertawa. Mereka tengah melakukan photo box. Gaya dan ekspresi mereka berbeda setiap saat. Mulai dari yang biasa hingga pose yang menurut mereka gila.
Setelah selesai, mereka pun memilih kembali potret mana yang akan mereka cetak. Dan... jadilah! Satu lembar foto yang penuh dengan potret ketiganya. Hal sederhana seperti ini yang selalu mereka sukai.
Ketiganya kembali berkeliling untuk mencari barang yang menarik perhatian mereka. Dan pandangannya tertuju pada sebuah boneka cantik yang terpajang di etalase toko.
"Lucunya..."
"Ily mau?" Tanya Sean yang kini masih menggenggam tangannya erat.
"Mau... lucu deh minionnya."
"Kalau gitu ayo kita masuk." Ajak Seano membuat Sean dan Willy pun menuruti ajakannya.
Ternyata, di dalam sana ada seseorang yang tak ingin sekali mereka temui, lebih tepatnya Sean dan Seano. Willy? Ia malah mendekat dan menyapanya dengan riang.
"Kak Kean!" Panggil Willy membuat sang empunya nama terlonjak kaget.
"Eh!! Oh– Hai Willy. Kamu sama siapa kesini?"
"Tuh, sama kakak sama abang."
"Ohh... gitu, kamu mau beli apa?"
"Disini kan toko boneka, pastinya Ily beli boneka lah kak."
"Eh- i-iya juga sih." Kean pun menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal sama sekali. Ia malu!
"Kalo kakak ngapain beli boneka?"
"Mau beli kado, buat keponakan."
"Oh iya? Ulang tahun kah?"
"Betul sekali, recommend dong, takut salah beli hehehe."
"Ayo, Ily bantu pilihin." Willy pun dengan antusias menggenggam tangan Kean membuat ketiga pria tampan itu kaget bukan main.
Yang satu tersenyum karena merasa senang akan apa yang Ily lakukan. Namun kedua pria di belakangnya membuat aura toko ini berubah menjadi sangat menyeramkan.
Sean bergumam pelan, namun hal itu masih terdengar hingga telinga Seano. "Cowok brengsek kayak dia gak pantas buat Ily."
"Dari mana kakak tau kalo dia brengsek?"
"Dari tatapan matanya. Awas aja kalo berani macam-macam sama Ily."
Mereka tak banyak bicara lagi, keduanya pun hanya bisa mengikuti Willy yang dengan riang menunjuk boneka-boneka yang menurutnya sangat imut di jadikan sebagai hadiah.
"Ini aja kak."
"Iya, minnie mouse, lucu dan cantik."
"Kamu juga lucu dan cantik." Gombal Kean membuat Sean Seano semakin tak terkendali. Ingin sekali mereka menonjok mulut berbisa Kean namun keduanya tak ingin membuat Willy ketakutan.
"Kata abang sama kakak, Ily lucu dan imut, kata mom dad juga Ily cantik dan lucu. Makasih kak Kean." Sean dan Seano terkekeh geli akan apa yang di ucapkan Willy.
Keduanya menatap remeh Kean yang ternyata tengah menatap mereka juga.
"Lo bukan orang pertama yang puji Willy begitu. Jadi itu gak akan mempan hahaha." Batin Sean mencemooh Kean.
"Mampus!" Ucap Seano pada Kean tanpa suara namun masih bisa terlihat jelas apa yang di ucapkan Seano membuat Kean semakin kesal.
Seano pun akhirnya berinisiatif untuk membawa Willy kembali dalam genggamannya. Ia berjalan kemudian membisikkan sesuatu pada Willy membuat gadis cantik itu berteriak kegirangan.
"Sungguh?!"
"Hmm... ayo!" Seano langsung membawa Willy yang hendak pamit pada Kean. Namun sayang, Kean tak mendapatkan itu.
Setelah berjalan dan menaiki lift, mereka sampai di lantai lima. Bioskop.
Seano mengajak Willy menonton, Sean pun segera membeli tiket. Sedangkan Seano dan Willy pergi menuju counter makanan untuk camilan ketiganya.
Mereka pun memasuki sebuah teater tempat film mereka akan di putar. Willy duduk di tengah antara Sean dan Seano. Ketiganya pun akhirnya menonton film kesukaan Willy.
Satu jam berlalu, namun film belum selesai, saat di lihatnya ke arah samping, terlihatlah Willy yang kini tengah tertidur. Sean pun menyandarkan kepala Willy pada pundaknya.
"Bang, tidur." Ucap Sean pelan membuat Seano menatap ke arah nya.
"Hm... gapapa, kasian Ily. Pasti capek."
"Okey. Bang— gimana dia?"
__ADS_1
"Dia?"
"Kean."
"Kita selidiki lebih dalam motif dia deketin Ily. Ikuti alur gimana ia mainin perannya."
"Okey Bang."
Sean menatap dalam ke arah Seano. Ia yakin, abangnya tau sesuatu tentang Kean. Ya, pasti.
Mereka akhirnya kembali menuju mansion dengan Willy yang telah kembali segar karena sudah terbangun dari tidurnya. Ia membawa minions besar sesuai keinginannya.
Ketiganya memasuki kamar masing-masing. Seano yang terakhir memasuki kamarnya pun langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Pikirannya melayang akan Kean yang semakin hari semakin gencar mengejar adiknya. Ia menutup matanya dengan sebelah lengan, terlihat kilasan jelas yang membuat Seano muak akan tingkah Kean.
"Gue gak akan tertipu dengan kedok busuk lo, Kean!" Umpat Seano.
Setelah menenangkan diri, akhirnya ia pun bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Ia sungguh butuh adiknya saat ini. Ia tak ingin jauh dari Willy.
Beberapa hari kemudian, Kean dalam diamnya berfikir bagaimana cara untuk bisa mempunyai waktu berdua dengan Willy. Ia membutuhkan itu agar semua rencananya untuk mendapatkan Ily berjalan lancar. Karena Ily yang selalu bersama Sean Seano.
Di pelajaran terakhir, mereka di beri tugas untuk membuat kelompok namun hanya beranggotakan dua orang saja. Kelompok tersebut di tugaskan untuk membuat lukisan wajah sang partner.
Dalam hati Kean berdoa agar ia bisa satu kelompok dengan Ily.
Pemilihan kelompok berdasarkan nomer yang diterima oleh siswa dari sang guru. Satu nomer terdapat dua angka, satu siswa dan satu siswi.
Murid di dalam kelas hanya ada 20, 10 laki-laki dan 10 perempuan, mengingat IPA 1 adalah kelas unggulan, maka hanya siswa terpilih yang masuk kelas ini.
Undian telah di terima oleh para siswa, gurupun mengabsen no undian yang mereka dapat.
No 1
Rian dan Rahmi.
No 2
Gilang dan Dita.
No 3
Seano dan Rea.
No 4
Fill dan zeevana.
Kean terus berdoa, ia melihat no nya kembali, semoga nomer nya sama dengan Willy.
No 5
Wiliam dan Chika.
No 6
Kean mengacungkan tangannya dan saat melihat ke arah Willy.
Yes!!!!!
Kean dan Willy.
Dan seterusnya....
Ily yang melihat ke arah Kean langsung tersenyum dan melambaikan tangannya, seolah ia juga senang bisa satu kelompok dengan Kean.
Hati Kean bergemuruh melihat paras cantik dan imut milik Ily... aaahhh.. gue harus bisa bilang yang sejujurnya sama dia.
Bel pulang telah berbunyi.
Kean dengan cepat menghampiri meja Willy, ia tak menghiraukan Seano yang masih duduk di sebelah Ily.
"Ily, kita mau kerja kelompok kapan?? Atau mau hari ini?"
"Eumm ... kapan ya kak?? Aku tanya abang dulu ya."
__ADS_1
Ily menolehkan badannya pada Seano yang berada di sampingnya.
"Abang, Ily mau kerja kelompok, kalo hari ini boleh??"
"Kenapa gak lain kali aja??"
"Biar cepat selesai, Bang."
"Hm.. yaudah, nanti abang bilang ke kakak sekalian. Tapi adek jangan pulang malam ya."
"Siap bosss!!" Ily memberikan hormat pada Seano dan dengan cepat Seano langsung mencium pipi chubby Willy.
Melihat itu, Kean menatap nyalang pada Seano. Berani beraninya dia cium milik gue.
"Ayo Ily." Kean menarik tangan Ily dengan lembut.
"Iya kak ayo." untung gue bawa mobil hari ini . Jadi Ily gak akan kepanasan. Lanjut batinnya.
"Kita beli perlengkapannya dulu ya."
"Iya kak, Ily juga gak punya hehe..." senyum di wajah Ily membuat Kean mati rasa , serasa ingin terbang.
"Okey.. kita berangkatttt!!!"
Ily dan Kean pun kini telah meninggalkan sekolah.
Di perjalanan Ily dan Kean saling bercerita. Dan Kean, cowok yang terkenal dingin itu selalu melontarkan candaannya pada Willy dan membuat Willy tertawa terbahak-bahak.
Setelah selesai membeli perlengkapan melukis, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Willy dan Kean hanya akan membuat sketsanya terlebih dahulu .
Mereka akan melakukan kerja kelompok di taman dekat rumah Kean. Disana banyak sekali tanaman yang membuat udara menjadi sejuk.
Ily akan melukis wajah kean terlebih dahulu.
Kean telah dengan posisinya, ia memberikan senyum menawan pada Ily. Dan tak lama kemudian ia mengeluarkan pertanyaan yang menurutnya sangat penting.
"Ily, kakak boleh tanya?"
"Boleh kok, mau tanya apa kak?"
"Kalo Sean sama Seano itu siapa kamu??"
"Ohhh itu.. loh emang kakak gatau?" Kean hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Mereka kakak Ily."
Wajah Kean tiba-tiba saja berbinar, ternyata dugaannya selama ini salah. Ternyata, mereka bertiga itu—
"Jadi Ily adik mereka???"
"Jadi Ily keluarga mereka??"
"Aaarrgghhh gue pengen teriak!!"
"Emang kakak gak tau??"
"Eh! e-engga, kakak kira kalian pacaran hehehe."
"Ya enggak lah, mereka kakak Ily kok kakak kandung." Kean menganggukkan kepalanya , ia amat sangat senang akan kenyataan yang berpihak padanya.
"Eum.. Ily udah selesai nih buat sketsa nya kak. Sekarang giliran kakak".
Kean bertukar posisi dengan Ily, kanvas yang ada dihadapannya telah ia siapkan, dengan lihai ia melihat wajah Ily, mengukir indah setiap goresan yang ia ciptakan pada kanvasnya.
Selesai
Mereka membereskan perlengkapan mereka dan segera menuju ke mobil.
"Ily, kakak boleh minta no ponsel Ily?"
"Boleh kok, mana ponsel kakak?"
"Nih." Kean menyodorkan ponselnya pada Ily setelah itu Ily segera menyimpan kontaknya dan memiscall no nya sendiri.
"Kakak udah nih, aku save namanya Willy."
"Okey, makasih yaaa...." Kean mengelus puncak kepala Ily.
Okeyyy... Masih mau di lanjut???
Vote Commentnya jangan lupa yaaaa... 😁😁😁
__ADS_1