Virgine

Virgine
Hatimu yang kubawa pergi


__ADS_3

Pesawat yang Romi naiki take off pukul 18.00.


Pesawat tujuan incheon airport, Korea Selatan.


Bukan hanya karena satu atau dua alasan mengapa akhirnya Romi berangkat ke negeri gingseng itu. Tapi ini menyangkut banyak hal.


Romi menyalakan mode pesawat di ponselnya.


Sesampainya di seoul Romi akan mengganti nomornya dengan nomor setempat. Dan Bilah akan benar-benar akan kehilangan jejak cowok yang merenggut keperawanannya.


Tak ada pesan apapun yang Romi tinggalkan untul Bilah. Tapi walau bagaimanapun Romi akan menyimpan Bilah dalam hatinya dan takkan pernah menggantinya. Hingga hari itu akan datang. Hari dimana Romi kembali dengan kesuksesan dan melamar Bilah. Meski dia gelisah akan keadaan Bilab tapi dia merasa harus kuat memikul semua ini. Dia harus bisa melewati ini. Meski ini dimulai dengan sebuah kesalahan. Tapi tak apa Dia pikir dia masih punya waktu untuk memperbaiki segalanya.


^


Sudah pukul delapan malam. Tapi belum ada pesan atau telepon dari Romi, sejak sore tadi Bilah sibuk dengan berbagai tugas rumah tangga yang terbengkalai. Dan ketika malam tiba Bilah masuk ke kamar ibunya dan memijit kaki ibunya. Sambil sesekali mengecek ponselnya.


Tapi tak ada kabar dari romi,


Bilah mendengar deru mobil dluar rumahnya.


Tak lama terdengar suara beberapa orang.


“masuk nyonya,mas.” Suara Bapak Bilah.


“ kayaknya ada tamu ya?” tanya ibu bilah.

__ADS_1


“bentar bu Bilah liat dulu ya.”


Saat Bilah keluar dari kamar ibunya.


Dilihatnya Gabrian dan Gibran tengah duduk bersama seorang wanita muda yang sangat cantik.


“hai Bilah.” Sapa gabrian ramah ketika matanya mengangkap sosok Bilah yang baru saja keluar dari kamar mengenakan baju tidur lengan panjang dan celana tidur panjang.


Bilah menggaruk-garuk lehernya. Dia bingung kenapa dua orang cowok ini bisa ada dirumahnhya.”


“bilah buatin minum dulu.” Ucap Bapak bilah.


“ jangan repot-repot paman.” Ucap Gibran.


Bilah lalu kebelakang untuk membuat tiga cangkir teh.


“sebentar saya panggilkan ibu nya Bilah dulu.” Ujar Bapak Bilah.


“biar saya saja yang ke kamar boleh? Kasian jangan suruh bangun. Takut pusing.” Ucap mommy si kembar.


“oh boleh nyonya,mari silahkan. Mohon maaf tempatnya seperti ini.” Bapak mempersilahkan mommy si kembar.


Sementara gabrian dan gibran menunggu di depan.


Dan bilah kembali ke depan membawa tiga cangkir teh hangat.

__ADS_1


“eh Bilah ini ada buah sama martabak untuk Ibu kamu.” Ucap Gabrian riang.


“eh iya,,harusnya ga perlu repot-repot.”


“engga lah repot apa.” Jawab Gibran.


”Bilah tugas Fisika buat besok udah dikerjain belum?” tanya Gabrian memecah sepi karena tak ada soerang pun yang bicara di ruangan itu.


“udah.”


“boleh liat bentar gak soalnya aku ada yang ga ngerti.”


“boleh bentar ya.” Bilah lalu masuk ke kamar dan Gabrian diam mengikutinya.


Gibran berdecih “tukang modus.”


Bilah sedang menghadap meja belajar dan tengah mencari buku ketika Gabrian tiba-tiba memeluknya dari belakang.


“eh apa-apain sih kamu.” Bilah hampir menjerit karena terkejut beruntung dirinya sempat menutup mulutnya dengan telapak tanganya.


Gabrian melepaskan pelukannya dan tersenyum seraya meraih buku di tangan Bilah yang satunya.


Bilah lalu cepat-cepat keluar.


Mendadak suhu di kamarnya sangat panas, bilah mengibas-ngibas bajunya dan kemudian duduk di samping Gibran.

__ADS_1


__ADS_2