Virgine

Virgine
Mandi basah


__ADS_3

Mengapa kejadian yang berbulan-bulan lalu ini justru hadir kembali mengisi ingatan Bilah, seolah itu baru saja terjadi kemarin. Hari demi hari sampai setengah Bulan berlalu. Bilah selalu berusaha menghalau rindunya akan sosok Romi. Bilah berhasil melawan ingatan buruk itu, mencoba mencari kesibukan agar dia bisa melupakkan Romi dan semua kenangan buruk itu. Tapi kini kenangan itu kembali muncul. Menyiksa Bilah. Membuat luka itu kembali menganga. Membuat kenyataan pahit itu kembali membebani Bilah, kenyataan bahwa dia sudah tak virgine bahkan di usia yang sangat belia. Dan tanpa sebuah pernikahan atau komitmen apapun.


Sekali lagi bilah dapat merasakan hembusan nafas romi di wajahnya. Dia dapat merasakan tatkalah Romi mulai menciumi bibir dan mencumbuinya. Segalanya terasa jelas. Dan bilah sangat frustasi karena itu.


Seseorang mengetuk pintu.


Mommy si kembar masuk ke dalam.


Bilah masih menutupi wajahnya dengan selimut. Dan menahan suara tangisnya.


“Bilah tidur ya?” Lalu mommy si kembar meletakkan susu hangat di meja belajar Bilah dan mengurungkan niatnya untuk membuka selimut Bilah. Lalu mommy si kembar keluar lagi tanpa berkata apa-apa.


Bilah teringat Ibu dan Bapaknya. Bagaimana perasaan mereka jika mereka tahu bahwa BILah tak lebih baik dari Abang Bilah, bahwa bIlah sama buruknya dengan abang Bilah.

__ADS_1


Bilah kembali menangis. Dia kini beranjak bangun dan duduk di tepi kasurnya.


“bagaimana bisa gue ngelakuin hal kotor itu bersama Romi disaat keluarga gue lagi tertimpa masalah Abang gue. Saat Ibu dan Bapak bersedih karena perbuatan Abang, gue justru berduaan dengan Romi dan melepaskan semua milik gue untuk Romi.” Bilah kembali terisak.


Tanpa sadar suaranya meninggi. Dan seseorang tengah berdiri di depan pintu. Pintunya terbuka sedikit. Karena dia hendak masuk ke dalam. Dia berdiri terpaku disana. Airmukanya serius. Dia mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Bilah. Dia tertegun berdiri disana hingga dia tersadar saat mendengar suara benda pecah dari dalam kamar Bilah. Kemudian dia berbalik arah, tak jadi melangkahkan kaki masuk ke kamar Bilah.


Bilah memegang gelas susu dan tangannya bergetar hebat membuat gelas itu jatuh ke lantai.


Tak ada yang bisa dia lakukan kini, sekuat apapun dia melupakkan. Dia tetap tak mampu. Romi si bedebah itu. Benar-benar tak pernah kembali.


Jika saja dia kembali walau satu kali. Bilah hanya ingin bertanya padanya apakah dia bisa memberikan kembali sesuatu yang telah dia rampas darinya dan satu kali saja Bilah ingin menampar wajah Romi. Romi yang amat Bilah cintai.


“ Romi,gue benci lo Romi. Gue benci.” Bilah meremas rambutnya dan terisak. Hatinya sungguh sakit.

__ADS_1


“Romi...” bilah sangat merindukan Romi, merindukan pelukan dan ciuman Romi. Dan kemudian Bilah merasa sangat membenci Romi. Perasaanya sungguh kacau.


Dia membentur-benturkan bagian belakang kepalanya di kaki meja belajarnya.


Dia menutupi mulutnya. Karena dia tak mau siapapun mendengar suara tangisannya.


^


Pukul dua malam. Setelah menangis berjam-jam,akhirnya bilah bisa sedikit lebih tenang. Dia beranjak ke kamar mandi yang ada di kamarnya. Melepas pakaiannya yang lengket karena susu dan menyalakan shower. Seketika air mengguyur wajah dan tubuhnya. Bilah membiarkan air terus mengaliri tubuhnya. Berharap aliran air itu bisa membawa pergi luka hatinya.


Kemudian Bilah tertidur. Hingga pagi datang dia masih terlelap. Dia bahkan tak bangun ketika asisten rumah tangga dirumah itu masuk ke dalam dan membersihkan pecahan gelas dan mengepel lantai.


Gabrian dan mommy’nya bolak balik ke kamar Bilah untuk mengecek kondisinya. Tapi mereka segera keluar lagi karena Bilah terdengar mendengkur. Atau mungkin itu karena hidung Bilah yang tersumbat karena semalaman menangis dan tengah malam mandi basah.

__ADS_1


__ADS_2