Virgine

Virgine
Liburan ke Pulau Jejudo


__ADS_3

Bilah meletakkan piring berisi nasi goreng dengan sosis gosong di atasnya.


“Kalau mau bunuh diri jangan di jedotin gitu kepalanya, tuh rendem di minyak panas kepalanya.” Bilah lalu meninggalkan Gabrian yang mengeluarkan suara aduh pelan.


“Bilah!!!!!” seru Gabrian. “Kok, aku makan sendirian,sih.”


“Bodo ah,” Bilah berlalu pergi. Dia memikirkan Gibran yang begitu cuek melihat sang adik tengah memeluknya.


^


Gibran meremas kaleng minuman itu dan melemparkannya ke sudut kamarnya.


Amarah memenuhi dadanya. Melihat Gabrian tengah memeluk mesra Bilah.


“Gabrian, Bilah bukan gadis yang tepat buat kamu. Dia itu udah enggak suci lagi,” lirih Gibran, seolah dia tak rela adiknya jatuh cinta pada Bilah. Atau tak rela melihat Bilah di peluk oleh adiknya.


Gibran mengacak-acak rambutnya. Dia merasa sangat kacau. Apa sebetulnya yang dia rasakan saat ini. Dia sendiri bahkan tak memahami perasaannya.


Yang jelas, saat ini, dia tak ingin Gabrian terlalu dekat dengan Bilah, dia tak ingin adiknya yang tak pernah menyentuh gadis manapun, pada akhirnya jatuh cinta pada Bilah yang sudah tak virgine lagi.


Gibran memejamkan matanya. Tiba-tiba wajah Gwen terlintas di benaknya. Gadis keturunan Amerika-Korea itu mendadak hadir di pelupuk matanya. Gwen –kekasih Gibran ketika masih tinggal di Korea—menghilang tanpa kata setelah malam penuh hasratnya dengan Gibran berlalu.


Gibran mengingat jelas, pagi itu dia terbangun tanpa mengenakan apapun. Sebuah selimut menutupi tubuh polosnya. Dan Gibran menemukan bercak darah di sprei putih hotel di kawasan Itaewon.


^

__ADS_1


Pagi harinya.


Mommy tengah menyantap roti isinya ketika Gabrian berjalan menghampiri seraya menguap lebar.


“Gab, mau makan apa, Nak?” tanya Mom ketika telah berhasil menelan hasil kunyahan.


“Makan apa ya, hem.”


“Gibran sama Bilah mana, ya? Mom mau bicara sebentar.”


“Mau bicara apa mom?"


“Panggil mereka sebentar, deh, mbak.” Mommy menoleh pada si Mbak yang tengah mencuci piring di wastafel.


^


“Jadi, Om Seokjin itu, minggu ini mau nikahin putrinya. Dan Rencananya Dad mau ajak kita sekeluarga buat dateng kesana.” Mommy mulai bicara saat si kembar dan Bilah sudah duduk bersama di ruang makan.


“Wah, kita ke Korea, Mom?” tanya Gabrian sumringah.


Mommy mengangguk, “pestanya di adain di villa milik Om Seokjin di Pulau Jeju. Bilah ikut ya? Nanti tante yang minta izin ke orang tua Bilah.


“Ah, enggak usah tante. Bilah jaga rumah aja disini,” tolak Bilah.


“Ish, kalau Bilah enggak ikut, aku enggak ikut ah, Mom.” Gabrian melirik manja ke arah Bilah.

__ADS_1


“Sudah Mommy pesankan tiket, jadi, semua harus ikut, tidak boleh protes.” Mommy lalu meraih tisu dan menyeka sudut bibirnya.


^


Hari keberangkatan mereka tiba.


Mereka harus transit di Incheon airport, kemudian terbang menuju Pulau Jeju.


Sesampainya di Pulau Jeju.


Gabrian dan Bilah beristirahat di kamar masing-masing, sedangkan Mom dan Dad si kembar menyapa Kakak Daddy. Seokin, adalah kakak tiri Daddy. Beliau keturunan Korea asli. Sedangkan Bram -- Daddy si kembar -- keturunan Korea-Indonesia. Ayah Seokjin menikah dengan Ibu Bram setelah bercerai dengan Ibu Seokjin.


Gibran mengunjungi mercusuar, sebelumnya dia menyewa sebuah sepeda untuk dia kendarai. Hari mulai beranjak sore, Gibran berdiri di atas mercusuar yang sunyi, angin laut yang kencang menerpa wajahnya.


Harum udara Negara ini, membuatnya kembali teringat malam hangatnya bersama Gwen. Terekam jelas dalam ingatannya, saat Gwen berbaring tanpa mengenakan apapun


Gibran lalu teringat adegan yang sama dengan sosok yang berbeda. Bilah dengan Romi yang melakukan persis dengan hal yang pernah dia lakukan, yang kini dia sesali.


Terlintas wajah polos adiknya. Gabrian. Bagaimana mungkin Gibran bisa menyaksikan Gabrian terus bersama Bilah, dan semakin jatuh cinta pada Bilah, sementara dia tahu Bilah sama sekali tak pantas untuknya.


Hanya ada satu cara, untuk menyelamatkan Gabrian, membawa Bilah ke pelukannya. Dengan begitu, Gabrian tidak akan bisa melanjutkan cinta bodohnya pada gadis yang sudah tak suci lagi.


Gibran menggenggam kuat besi-besi yang melingkari mercusuar, yang tampak seperti balkon.


“Mengapa Bilah bisa melakukan hal sekotor itu. Aku tidak percaya. Bahkan saat itu, di hari itu keluarganya sedang dalam konflik besar, tapi dia dengan asiknya melakukan hal seperti itu, cih,” ujarnya seorang diri.

__ADS_1


__ADS_2