
Apa lagi yang mau dia lakuin sih,” pikir Bilah yang mulai merasakan sesuatu berdesir saat tangan Gibran menyentuh tubuhnya lagi.
Bilah menggeliat ringan, Gibran justru menarik tubuh Bilah mendekat, dan wajah Gibran kini berjarak sejengkal dari wajah Bilah. Bilah berkedip pelan, menatap pria muda tampan di hadapannya. Ada kehangatan sentuhan Romi yang dia rasakan saat bersentuhan dengan pria ini.
Gibran lalu mengecup bibir Bilah, sangat cepat, hingga Bilah tak sempat menghindar.
Tak ada pilihan selain menerima kecupan lembut Gibran. Gibran mulai memagut bibir Bilah yang terasa pedas karena citarasa ramen khas korea. Tanpa disadari, Bilah menerima kecupan lembut itu. Mereka hanyut dalam rasa asin dan pedas yang berbaur dalam sebuah hasrat.
Terdengar bunyi klik pelan dari arah kamar mandi.
Gabrian membuka pintu kamar mandi. Membuat mereka berdua terkejut, secepat kilat mereka kembali ke posisi masing-masing. Gibran meraih mangkok, Bilah mencelupkan sumpit yang dari tadi dia pegang.
Gabrian duduk, wajahnya terlihat berbeda. Dia lalu menghabiskan ramennya tanpa sepatah katapun.
“Aku cuci mangkoknya dulu ya.” Bilah merasa suasana di ruangan ini sungguh aneh, dia merasa perlu menyudahi keanehan ini.
Bilah tengah sibuk mencuci mangkok, tapi terlihat terlalu sibuk mengingat hanya tiga buah yang dia cuci. Dia mengulangi berkali-kali. Mencuci dan membilasnya berkali-kali. Sesekali dia melirik ke arah Gabrian dan Gibran. Mereka berdua hanya duduk membisu.
Bilah menggigit bibir bawahnya.
‘Harusnya aku enggak usah ikut kesini, ish.’ Bilah bergumam dalam hati.
^
__ADS_1
“Aku tidur duluan, cape.” Gibran beralu setelah bicara entah pada siapa.
Gabrian diam seperti yang biasa dilakukan Gibran. Diam tak merespon.
Bilah meremas tangannya, dan memberanikan diri menghampiri Gabrian.
Dia duduk disamping Gabrian. Tersenyum.
Gabrian menghela nafas. Dia menatap sedih ke layar televisi yang di dalamnya kini ada sekelompok laki-laki muda yang menari.
“Wah, itu kan Ikon.” Bilah mencoba mengusir sepi.
Tapi, Gabrian yang riang tak bergeming.
^
Gabrian berjalan menyusuri pantai yang ombaknya terlihat tinggi karena air pasang. Suara ombak sesekali menggelegar saat kekuatannya terpecah oleh bebatuan besar di ujung sana.
Dia duduk di hamparan pasir, menengadah, melihat ke langit malam pulau Jejudo. Dia meraih ponselnya dan menyelipkan earphone berwarna putih di telinganya. Dalam sekejap suara musik mengalun menjelajah gendang telinganya.
Gabrian menelungkupkan wajahnya di kedua lututnya. Angin malam dengan suhu rendah menusuk tubuhnya yang hanya berbalut Hoodie tipis. Suara musik ballad yang di dengarnya membuatnya semakin galau.
Hingga sesosok wanita berambut panjang dan berkulit putih datang, serta merta wanita itu duduk di sisi Gabrian. Merengkuh tubuh Gabrian yang kedinginan.
__ADS_1
Gabrian merasakan kehangatan saat tubuh ramping itu memeluknya.
“Kamu ngapain keluar, disini dingin,” ujar Gabrian yang merasa nyaman di pelukannya.
“Kamu sendiri ngapain dingin-dingin diluar?”
Gabrian tersentak dan melepaskan pelukannya.
“Ivvie,” seru Gabrian.
Ivvie tersenyum dan berusaha memeluk Gabrian lagi.
“Ish, apa sih. Enggak usah peluk-peluk,” tolak Gabrian.
Ivvie memanyunkan bibirnya.
“Jahat.” Kemudian menyilangkan tangan di depan dada.
Gabrian terlihat kesal, dia pikir Bilah yang memeluknya tadi.
“Kamu kok enggak heran liat aku disini? Oh, pasti Gibran cerita ya kalau aku disini?” tanya Ivvie dengan suara centilnya.
“Aku bukannya enggak heran, tapi aku enggak peduli.” Gabrian menggeser duduknya agar tak begitu dekat dengan Ivvie.
__ADS_1
^