
Gabrian sudah menunggu Bilah di depan rumah. Dia mengenakkan hoddie berwarna biru muda, benar-benar klop dengan warna kulitnya yang putih.
Bilah datang menghampiri Gabrian dan memakai helm yang diberikan Gabrian.
“kok ga ganti baju?” tanya Gabrian.
“maksudnya?”
“itu kamu ga ganti baju, kan tadi masak pake baju itu juga.
“alah,,baru dipake bentar doank inilah,ga bau juga.” Kata Bilah lalu naik ke motor.
“bosen amat liat kamu pake baju itu itu terus.” Kata Gabrian.
“ya jangan di liat.” Jawab Bilah.
Mereka lalu melaju menembus segarnya aroma pagi yang dihiasi warna orange matahari yang belum lama keluar dari peraduannya.
Sering menghabiskan waktu bersama Bilah, Gabrian semakin tahu tipe seperti apa Bilah itu. Dia sungguh tak banyak tingkah, dia tipe gadis yang mandiri yang tidak manja dan tidak seperti gadis lain yang berusaha mendekati Gabrian karena kekayaannya, Bilah malah justru terkesan tidak tertarik dengan Gabrian ataupun dengan harta kekayaannya,
Dan rasanya Gabrian semakin menyadari bahwa sejak awal dia memang sudah tertarik dengan Bilah. Dia merasa dia perlu memperjuangkan Bilah. Untuk dia dapatkan. Tapi rasanya itu tak mudah.
^
Sesampainya di kampus, setelah memarkirkan motornya. Gabrian berjalan beriringan dengan Bilah. Gabrian lalu dengan percaya diri menggenggam tangan Bilah.
“ish..apa si.” Protes Bilah.
“udah diem aja deh. Ini strategi biar ga ada cowok yang bisa kurang ajar sama kamu. Mereka ga bakal berani deketin kamu kalo mereka tahu klo kamu itu pacar aku.” Ujar Gabrian.
“dih,,eh Gabrian. Yang ada aku bakal dibenci cewek satu kampus kalo mereka pikir kita pacaran.” Bilah melepaskan tangan Gabrian dan berjalan mendahuluinya.
Gabrian tersenyum manis.
__ADS_1
“eh Bilah tunggu.” Setengah berlari Gabrian menyusul langkah Bilah.
“eh aku mau ke toilet ya. Jangan bilang kamu mau ikut.” Seru Bilah.
^
Bilah mencuci tangannya di wastafel dan menatap wajahnya di cermin di depannya.
Di dalam cermin itu tiba-tiba muncul sebuah ingatan tentang dirinya dan Romi. Ingatan yang susah payah dia abaikan. Dia terkejut dan keringat membanjiri tubuhnya. Bilah meremas tissue toilet yang dia genggam di tangannya. Nampak jelas bagaimana dia melakukan hal tak panas itu bersama Romi. Terdengar jelas olehnya desahan nafasnya kala itu. Badanya seketika menggigil.
“Romi.” Lirihnya pelan. Airmata Bilah menetes perlahan.
“Romi.” Bilah jongkok di bawah wastafel dia mencoba menutup wajahnya berharap bayangan itu bisa lenyap. Tapi desahan nafas dirinya terus menerus terdengar, seiring dengan ingatan berbulan-bulan lalu yang kini terus berputar di kepalanya.
Bilah merintih karena merasa tak sanggup dengan keadaan ini, mengapa tiba-tiba dia ingat kembali kenangan itu setelah sekuat tenaga dia berusaha mengabaikan.
Tak ada siapapun di toilet saat itu. Bilah berharap ada seseorang yang datang dan membawanya pergi dari sini. Tubuhnya sungguh sangat lemas dan keringat dingin membanjiri tubuhnya.
Seorang gadis mungil masuk dan terkejut melihat ada seseorang yang berjongkok di lantai.
Dia lalu memegang bahu bilah dan mengajaknya berdiri.
“lo bisa berdiri? Yuk gue bantu. Pelan-pelan aja.” Kemudian gadis itu membawa Bilah keluar dari toilet dan membawanya duduk di kursi yang tak jauh dari toilet.
Dia mendudukan Bilah dikursi dan meraih botol minum dari tasnya. Sebuah botol air mineral dan dia memberikannya pada Bilah.
“minum dulu.” Katanya lembut.
Bilah menatap gadis yang seumuran dengannya dan menerima botol air yang telah dibuka tutupnya itu, lalu meneguk airnya.
Bilah lalu bersandar pada sandaran kursi.
Gadis itu memberikan tissue pada Bilah. Bilah lalu menerimanya dan memakainya untuk menyeka keringat di wajah dan lehernya.
__ADS_1
“makasih ya.” Ucap Bilah saat dirinya merasa lebih baik.
“lo udah ga apa-apa?” tanya gadis cantik itu.
Bilah menatap wajah gadis itu. Gadis itu sangat cantik dengan mata berbinar yang indah. Suaranta juga sangat lembut. Dia sungguh seperti malaikat. Bilah tersenyum padanya.
“iya,sekali lagi makasih ya.” Ucap Bilah.
“sama-sama, oia nama gue ivie.” Ujarnta seraya mengulurkan tangannya pada Bilah.
Bilah menjabat tangannya. Sangat lembut.
“gue Bilah.” Balas Bilah.
“ kayaknya lo yang suka jalan bareng Gabrian ya?” tanyanya tiba-tiba.
“hah? Eh..iya kita sering berangkat bareng sih” jawab Bilah.
“kalian pacaran?” tanya ivie.
“ah,engga.” Jawab Bilah tersipu.
“oh gitu.” Ivie tersenyum.
“Lo kenal Gabrian?” tanya Bilah.
Ivie mengangguk. “Kita satu fakultas. Gabrian sih kayaknya ga kenal gue. Cuma Gabrian kan emang anaknya ramah dan juga kadang suka rame gitu, jadi hampir semua anak di fakultas kita kenal sama dia. Belum lagi muka dia yang oppa-oppa banget yakan. Gampang dikenalin hihihi.” Jawab ivie panjang lebar.
Bilah mengangguk-angguk mendengarnya.
“eh yaudah gue duluan ya. Lo engga apa-apa kan gue tinggal sendiri disini?” tanya ivvie.
“engga apa-apa. Sekali lagi thanks ya.” Ucap Bilah.
__ADS_1
“santai ajja. Sampe ketemu lagi ya Bilah.” Ivvie lalu meninggalkan Bilah dan menoleh sebentar.
^