Virgine

Virgine
bath up


__ADS_3

Sementara itu, Bilah mengajak Ivvie duduk di luar kamar.


“Gue buatin minum dulu, ya.” Bilah berlalu ke dapur yang terhubung langsung dengan ruang televisi, tempat Ivvie duduk.


Ivvie bersandar, dia selalu leluasa dimanapun dia berada. Dia dengan cuek menatap ke sekeliling dan di akhiri dengan meniup-niup poninya sendiri. Lalu, mengecek penampilannya lewat layar ponselnya, merapikan poni yang tadi dia tiup.


Bilah datang dengan dua cangkir coklat panas.


Gibran mengintip dari celah pintu yang dia buka sedikit. Keadaan aman, dia mengambil langkah seribu dan berlari cepat ke kamarnya. Masuk ke dalam dan menutup pintu, nafasnya tersengal.


“Hyung, kenapa?” Suara Gabrian mengejutkan Gibran yang sedang bersandar pada pintu.


“Aduh kaget aku, kamu ngapain di sini?” Gibran berusah terlihat normal dan berjalan ke arah tempat tidur dan duduk di tepinya.


“Aku dari tadi cari hyung, memang habis darimana?”


“Aku? Aku enggak darimana-mana.”


“Bukannya tadi hyung bilang mau tidur?” selidik Gabrian.


“Uhm, iya tadinya mau tidur, tapi malah enggak bisa tidur.”


“Terus?”


“Ehm, terus aku keluar sebentar, lihat laut.”


Gabrian menghela nafas. Lalu keluar tanpa mengatakan apapun.

__ADS_1


Gibran mengacak-acak rambutnya.


^


Gabrian bergabung dengan Bilah dan Ivvie yang tengah asik berbincang.


Gabrian meraih cangkir Bilah dan meminum isinya.


“Bilah, jangan tidur terlalu malam. Jangan minum kopi atau coklat, nanti kamu enggak bisa tidur seperti Hyung,” ujar Gabrian yang lalu meninggalkan mereka berdua.


“Oh, jadi Om Bram itu adik tirinya bapaknya teman gue ya?” tanya Ivvie


Bilah mencoba mencerna perkataan Ivvie.


“Hah, adiknya, bapaknya, temannya, ah enggak tahu ah, yang jelas aku cuma di ajak sama tante.” Bilah bergeleng-geleng.


Bilah mengusap matanya yang mengantuk, dia menguap.


“Enggak tahu, ada di kamar. Tante yang beliin. Entah itu namanya gaun atau apa.” Bilah menguap lagi.


Tiba-tiba hujan datang begitu derasnya, suara gemuruh angin masuk lewat jendela-jendela vila yang dibiarkan terbuka.


“Aduh, kok tiba-tiba hujan lebat, sih.”


“Iya nih, padahal tadi terang ya langit.” Bilah menutup jendela yang ada di dekat mereka duduk.


“Yah, gue enggak bisa balik ke villa donk.” Ivvie bergumam.

__ADS_1


“Kita ada payung, kok. Itu di deket pintu masuk. Ada keranjang isinya payung semua.”


“Ehm, gue takut kalau keluar sendiri, boleh enggak kalau gue nginep disini aja?” tanya Ivvie memasang wajah melas.


Bilah bingung saat akan menjawab.


“Kalau gitu, gue beresin kamarku dulu ya.” Padahal maksud Bilah adalah ingin melihat apakah Gibran masih berada di kamarnya.


Ivvie mengangguk senang.


Bilah lalu masuk ke dalam kamar dan mengecek ke balik pintu, lega hatinya saat tahu bahwa Gibran sudah tak ada lagi di dalam kamar.


Bilah lalu merapikan sprei dan selimut yang berantakan karena ulah Gibran tadi. Bilah menyentuh sprei putih itu, membelainya. Ada rasa yang menelisik masuk ke hatinya, di tempat ini, tadi dia dan Gibran memiliki waktu singkat yang penuh arti.


“Udah? Mau aku bantuin enggak beresin kamarnya?” tanya Ivvie yang menyusul Bilah ke kamar.


“Oh, udah nih. Yaudah kamu tidur duluan aja. Aku mau mandi dulu ya sebentar.”


Ivvie mengangguk. Dia lalu mematikan lampu dan menyelimuti dirinya, karena angin laut dan angin yang datang bersama hujan deras membuat suhu malam itu semakin rendah.


Ivvie menutupi tubuh hingga ke batas kepalanya. Menggigil karena di serang cuaca ekstrem yang berbeda dengan Indonesia.


Bilah mandi dengan air hangat, sungguh nikmat saat tubuhnya yang terasa seperti membeku kini menjadi hangat. Dia berendam di bath-up.


“Ah, nyaman banget.” Bilah menutup matanya.


“Duh, aku lupa kunci pintu. Biarin deh, enggak bakal ada yang masuk, semuanya udah pada tidur pasti.” Bilah berbicara diantara gemericik air.

__ADS_1


__ADS_2