Virgine

Virgine
Untung ganteng


__ADS_3

Gabrian yang wajah dan telinganya terlihat sangat merah dengan cepat meletakkan tubuh Bilah di dalam mobilnya. Bilah merasakan pusing hebat di kepalanya. Sedikit saja bergerak dia rasanya ingin muntah. Bilah menyandarkan kepalanya di jok depan mobil itu. Gabrian lalu dengan sigap lalu masuk ke dalam mobil dan bergegas menyalakan mesin. Tapi tak ada kunci di lubang kuncinya. Gabrian cepat-cepat keluar, si mbak mendekatinya.


“ada apa lagi mas?” tanyanya.


“KUNCINYA MANA???????”Gabrian berteriak karena merasa panik yang luar biasa melihat Bilah lemas tak berdaya.


“anu mas , saya taroh lagi. Bentar ya saya ambil dulu.” Si mbak yang berbadan semok itu mencoba berlari sekuat tenaganya. Tapi Gabrian melewatinya dengan kaki panjangnya. Dan sebelum si mbak sampai di depan rak. Gabrian sudah melewati tubuhnya lagi berlari menuju ke mobil.


Gabrian lalu buru-buru membawa Bilah ke dokter terdekat.


Terlalu jauh jika harus ke Rumah Sakit.


Mereka tiba di kediaman dokter praktek yang


terletak di satu kawasan kompleks dengan rumah Gabrian,


Gabrian lalu dengan sigap-seperti suami yang membawa istrinya yang akan melahirkan- menggotong tubuh Bilah. Seorang perawat menyambut mereka dan dengan cepat memberikan sebuah kursi roda untuk dipakai Bilah.


“kenapa ini mbaknya.” Perawat itu lalu mendorong kursi roda Bilah ke ruangan dokter. “maaf ya bu pak,saya duluan masuk ya.” Gabrian melewati antrian seraya membungkuk sopan.


“oh engga apa-apa kok. Cuma demam aja.”


Ucap dokter itu setelah memastikan kondisi Bilah.

__ADS_1


Gabrian merasa sangat lega.


“habis hujan-hujanan ya?” goda dokter muda itu seraya menulis resep di selembat kertas.


Bilah sungguh tak ingin menjawab pertanyaan konyol itu.


“nih resepnya taroh di loket apotek di depan ya.” Kata dokter itu seraya menyerahkan lembar resep pada Gabrian.


“makasih banyak dok.” Kata Gabrian.


“ Lain kali kalo hujan-hujanan pake payung ya.” Dokter itu tersenyum dan terkekeh karena merasa leluconnya sungguh lucu. Perawat tadi tertawa kecil agar suasananya lebih mendukung.


Bilah tetap diam tak kuasa untuk sekedar tersenyum.


“makasih banyak dok.” Ucap Gabrian lagi.


"iya sama-sama."


Gabrian lalu menyerahkan resep ke loket apotek dan menunggu beberapa saat sampai nama Bilah dipanggil. Dan Gabrian membayar biaya konsultasi serta untuk obatnya.


Gabrian menyimak baik-baik ketika sang apoteker menjelaskan aturan minum obat-obatan yang dia terima itu.


"ini obat mual ya satu jam sebelum makan." ucap apoteker wanita yang berjilbab itu.

__ADS_1


"oh iya bu."


"nah ini ibuprofen buat nurunin demam. Ini obat batuk pilek. ini vitamin dan yang ini antibiotik. Jadi kalo udah ga panas ibuprofennya stop minumnya ya. Terus kalo ga mual, juga jangan minum lagi obat mualnya. Nah kalo vitamin dan antobiotik harus di habiskan semua Blablabla.."


"hah..Iya iya..Hah gimana-gimana.. Hah iya iya.." Gabrian sesekali bertanya dan sesekali mengangguk.


Akhirnya sang apoteker yang penuh kesabaran itu menjelaskan lagi.


'Duh ampun ga ngerti-ngerti. Untung ganteng.' kata sang apoteker itu dalam hati.


^


Gabrian dan Bilah lalu kembali kerumah, Gabrian menoleh ke kanan dan ke kiri sepanjang perjalanan,berharap menemukan Tukang bubur -belum naik haji juga engga apa-apa- tapi tidak ada tukang bubur yang beroperasi di siang Bolong seperti ini.


Gibran menggaruk-garuk kepalanya.


"Duh aku harus beli sesuatu buat kamu makan. Apa ya." gabrian melirik Bilah yang memejamkan matanya.


"Aduh..Susah banget nyari bubur kaya nyari calon istri." gabrian sudah tak tahan melihat Bilah meringis menahan mual.


Dan akhirnya dia memutuskan untuk pulang saja.


^

__ADS_1


Sampai dirumah dia meminta si mbak membuatkan bubur dan segera membopong-lagi- Bilah ke kamarnya yang ada di lantai atas.


__ADS_2