
Pikiran Gabrian terus menerus terganggu oleh banyak hal. Terlebih setelah berkali-kali dirinya melihat ada yang aneh antara Gibran dan Bilah, Gabrian merasa harus mencegah sesuatu yang mungkin akan terjadi antara dua orang itu. Dia tak akan rela memberikan Bilah yang dia cintai pada siapapun, termasuk pada kakaknya sendiri.
Gabrian bergegas menuju kamar Bilah.
Klik. Pintu kamarnya tidak terkunci.
Gabrian menyelinap dalam gelapnya kamar.
Dilihatnya seseorang tengah tidur denga selimut menutupi tubuhnya.
‘pasti Bilah belum terbiasa dengan suhu disini,’ pikir Gabrian seraya mendekati sosok yang sudah terlelap itu. Gabrian berbaring disisinya. Tangannya mulai menyentuh bagian tengah tubuh yang terdengar sedikit mendengkur itu.
‘Sejak kapan Bilah mendengkur saat tidur.’ Gabrian lalu memeluk tubuh ramping itu.
Rasanya hangat dan nyaman, bisa terlelap seraya memeluk gadis yang dicintainya. Begitulah perasaan Gabrian saat itu.
Gadis dalam selimut itu sudah nyenyak terbuai mimpi, mimpi indah tentang seorang pangeran tampan yang datang dan memeluknya. Ivvie balas memeluk pangeran tampan pujaannya itu.
^
Gibran berdecak bosan, tapi tiba-tiba rasa mulas menyerang perutnya. Ini pasti efek dari ramen pedas buatan Bilah tadi.
“Argh... kok tiba-tiba mules gini.” Gibran meremas perutnya.
__ADS_1
“Aduh, enggak tahan nih. Aduh..” Gibran berlari seraya memegangi area lubang tempat keluarnya kotoran.
“Aduh.” Gibran membuka pintu kamar mandi.
Klik. Terbuka, dan klik, Gibran menutup pintunya lagi.
“Aaaaaaaaa...” suara teriakan dari dalam bath-up membuat Gibran hampir buang air besar di celana.
“Hah, kok kamu ada di dalam?” tanya Gibran panik, keringat mengucur dari keningnya karena menahan mulas yang amat sangat sudah tak bisa dia tahan.
“Aku lagi mandi.”
“Kenapa pintunya enggak dikunci?”
“Aduh, aku udah enggak tahan. Kamu keluar dulu.” Gibran menggerak-gerakkan kakinya.
“Aku mau keluar dari sini, tapi kamunya keluar dulu, aku enggak pake apa-apa soalnya.”
“Aduh, kelamaan, aku udah enggak tahan. Udah aku merem deh.” Ucap Gibran seraya memejamkan mata.
“Cepetan.”
Bilah segera keluar dari bath up dan meraih handuk dan memakainya. Namun, sungguh apes bagi Bilah, karen Gibran hanya pura-pura memejamkan mata. Dia melihat tubuh Bilah saat keluar dari bath-up.
__ADS_1
Bilah keluar dari kamar mandi, dia menunggu diluar. Karena dia masih ingin berendam air hangat.
Lima menit kemudian Gibran selesai dengan urusan limbahnya.
Dia keluar dan melihat Bilah berbalut handuk tengah menunggu diluar pintu.
“Sudah? Aku mau masuk lagi.”
Gibran membiarkan Bilah masuk, lalu mengekor di belakang Bilah.
Kemudian menutup pintu kamar mandi.
Bilah menoleh. Matanya melotot. Gibran tersenyum manis, pertama kalinya dia tersenyum di depan Bilah.
Gibran menyentuh bahu bilah yang basah. Menariknya mendekat, memeluknya erat.
Wajah Bilah yang sangat cute, membuat Gibran tak sanggup menahan laju birahinya.
Di kecupnya bibir tipis itu. Bilah menerimanya dengan senang hati, mereka saling cumbu, bibir mereka berpagutan semakin dalam.
Gibran menjelahi tubuh bilah hingga handuk bilah terlepas dan jatuh ke lantai. Dan di lantai yang dingin itu, sebuah ingatan akan Romi hilang tanpa jejak. tergantikan oleh sosok Gibran yang sentuhannya tak kalah hangat dari Romi. Sang pujaan hati Bilah yang tak tahu di mana rimbanya.
Saat gibran menggagahinya dengan penuh nafsu, Bilah menikmati segalanya. Memejamkan matanya dan mendesah.
__ADS_1