Virgine

Virgine
poor Bilah


__ADS_3

Pria itu masih memegangi tubuh Bilah, mulutnya terbuka lebar. Dia tak percaya pada apa yang dia lihatnya kini, dia tak percaya bahwa tubuh yang dia pegang ini adalah gadis yang dia kenal. Seketika tubuh Pria muda ini bergetar. Dia bahkan kini terduduk dengan memegangi tubuh Bilah yang lunglai. Memandangi wajah Bilah dengan ekspresi seperti melihat hantu.


Gadis yang bersamanya menatap ngeri ke arah Bilah yang tak sadar. Dia menutup mulutnya dan mendekati Bilah yang kepalanya besandar di dada Pria itu.


Tiba-tiba dari kegelapan, muncul Gibran yang berlari mendekati mereka.


Dia mendorong tubuh Pria yang memegangi Bilah. Gibran meraih tubuh Bilah dan mengangkat tubuh berat itu.


“Brengsek!!!” umpat Gibran lalu membawa Bilah meninggalkan mereka.


^


Gibran mendorong pintu dengan kakinya. Dan membawa Bilah masuk, dia terburu-buru membawa Bilah ke kamar karena tangannya sudah keram membawa tubuh Bilah dari pantai ke villa.


Mom menjadi histeris melihat Bilah yang ta sadarkan diri.


“Ya Tuhan, Gibran, Bilah kenapa?” Mom mengikuti langkah Gibran menuju kamar Bilah.


Gabrian ikut panik, dia membukakan pintu kamar Bilah dan membantu Gibran meletakkan tubuh Bilah di tempat tidur.


Gibran tersengal-sengal.


“Hyung, Bilah kenapa?” tanya Gabrian panik.


Gibran masih mengatur nafasnya. Tapi tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya.

__ADS_1


“Hyung!!!!!” teriak Gabrian.


Gibran memejamkan matanya. Dia lalu keluar kamar hendak menuju kamarnya.


Gabrian menyusulnya.


“Kamu tidak mau bicara?” tanya Gabrian penuh emosi.


“Diamlah,” ujar Gibran ketus.


“Katakan sesuatu.” Gabrian mencengkram lengan Gibran.


“Kubilang diam, sebaiknya kau jaga Bilah.”


“Kamu akan terus seperti ini? Jawab aku, ada apa sebenarnya? Kenapa kau tadi memukul dia?” Gabrian masih mencengkram lengan Gibran.


Gabrian kini merenggut kerah kemeja yang dikenakan Gibran, menariknya dengan keras.


“Setidaknya katakan sesuatu,” ancan Gabrian dengan suara meninggi.


“Kamu ingin memukulku? Pukul saja.” Gibran melotot.


Gabrian menarik kerah kakaknya lebih kencang.


Mom datang di iringi isak tangis dan berusaha melerai si kembar.

__ADS_1


“Kalian ini kenapa? Gabrian lepaskan!” Mom memegangi tangan Gabrian dengan berurai airmata.


“Dad, kemarilah,” teriak Mom.


Dad datang dan menatap galak ke arah si kembar.


“Apa begini kesenangan kalian sekarang? Membuat kegaduhan? Mempermalukan Dad?”


Mom masih berusaha melepaskan cengkraman Gabrian dari kerah kemeja Gibran. Cengkramanannya mulai mengendur dan akhirnya Gabrian melepaskannya.


Gibran menggigit bibirnya, dia menatap Dad sebentar dan berlalu pergi ke kamarnya.


Gabrian tertunduk. Matanya menatap lurus ke ujung sepatunya.


Mom masih memegangi lengan Gabrian.


Dad lalu keluar dari villa.


“Kamu jaga Bilah, kalau ada apa-apa hubungi Mom, Mom harus menenangkan Dad terlebih dahulu.” Mom lalu mengusap bahu Gabrian dan pergi mengekori punggung Dad. Suara mobil terdengar menjauh dari villa.


^


Gibran masuk ke kamarnya dan membuang semua benda yang ada di atas meja. Memukul meja dengan tangan memarnya dan berteriak seperti orang depresi.


Nafas Gibran tersengal, dia kini merebahkan tubuhnya yang terbalut emosi.

__ADS_1


Sementara Gabrian mengambil wadah kecil dan mengisinya dengan air hangat untuk mengompres Bilah. Tubuh Bilah menggigil, suhu badannya tinggi. Gabrian berkali-kali mengganti air agar tetap hangat. Hingga Gabrian tertidur di samping Bilah, seraya memeluknya.


__ADS_2