
Namun, sejenak dirinya terdiam. Benar, apa bedanya Bilah dengan dirinya. Tidak berbeda sama sekali.
Entah apa yang hadir dalam benak Gibran, rasanya sejak awal melihat Bilah, Gibran menyimpan sesuatu yang tak pernah terungkap. Dan kini ada rasa cemburu melihat Bilah selalu dekat dengan Gabrian, juga ada rasa tak rela jika Gabrian yang lugu akhirnya jatuh dalam pelukan Bilah. Sungguh sangat memusingkan, sebetulnya apa yang tengah dirasakan oleh pria tampan satu ini.
Ataukah, Bilah mengingatkannya pada sosok Gwen yang dia cintai? Gwen yang menghilang tanpa jejak setelah malam tak terlupakan itu.
“Lho, kamu ngapain disini???” sebuah suara yang tak asing menyapanya.
Gibran menoleh ke arah suara.
Ivvie.
‘Si gadis siluman, ngapain dia ada disini? Kebetulan atau dia memang penguntit?’ tanya Gibran dalam diam.
“Gab...” Ivvie menelengkan kepalanya.
“Bukan, aku Gibran.”
Ivvie mengangguk paham setelah mendengar suara angkuh Gibran.
“By the way kebetulan banget ya. Kita bisa ketemu disini? Ini Korea, lho. Bukan mall deket rumah.” Ivvie lalu berdiri disamping Gibran, menatap laut di hadapan mereka.
Angin berdesir meniup rambut panjangnya.
__ADS_1
Gibran menaikan sebelah alis, dan melirik sinis ke arah Ivvie.
“Eh, kalau kamu disini, berarti Gabrian juga ikut kan?
Gibran tak menjawab, dia merapikan rambutnya yang tertiup angin.
“Emh, aku kesini di undang temanku, dia asli korea, hihi, hebatkan aku? Dia mau nikah gitu. Terus aku di undang. Kalau kamu?” suara Ivvie yang seperti burung pipit memekakkan telinga.
“Aku?”
Ivvie mengangguk cepat.
“Aku duluan ya, disini banyak angin. Dingin.” Gibran lalu berjalan menjauh menuju tangga.
"Eh, tunggu, kalian menginap dimana? aku boleh datang enggak? Gibran tungguin aku." Ivvie mengejar langkah Gibran.
Gibran nampak kesal karena celotehan Ivvie. Akhirnya dia memberi tahukan pada Ivvie dimana mereka menginap. Tentu saja itu dia lakukan agar bibir tipisnya berhenti merepet, membuat kepala Gibran pusing bukan kepalang.
'Heran... terbuat dari apa sih mulut dia itu. kalau ngomong enggak ada batasnya.' gumam Gibran.
Gibran lalu sampai dibawah dan mengendarai sepedanya ke arah villa.
^
__ADS_1
Di dalam villa, Bilah dan Gabrian sibuk menyiapkan makan malam untuk mereka bertiga.
“Hyung, darimana aja? Bukannya bantuin nih,” keluh Gabrian ketika melihat batang hidung Gibran muncul.
Gibran mendekati mereka.
“Memang, lagi masak apa?” Gibran berdiri di belakang Bilah. Dan menatap ke arah kompor yang ada di depan BILah. Bilah memindahkan tubuhnya agar tak bersentuhan dengan tubuh Gibran. Gibran lalu menyentuh pinggang Bilah dengan tangan kirinya.
Deg.
Bilah terkejut bukan main.
Gabrian yang tak tahu, tetap sibuk membuka kemasan Ramen yang akan mereka masak untuk makan malam.
Bilah menggerakan tubuhnya, agar tangan Gibran terlepas. Gibran lalu melepaskan sentuhannya dengan perlahan, tubuh Bilah merinding akibat sentuhan itu.
“Ehm, Eh Gabrian, masukin ramennya, airnya sudah mendidih.” Bilah mencoba mengusir canggung.
“Oh, nih, empat bungkus ya, aku laper banget soalnya.” Gabrian memberikan empat buah bungkus ramen pada Bilah.
Gibran duduk di sofa dan menyalakan televisi, terdengar suara seorang wanita tengah membacakan berita hari itu dalam bahasa korea.
Gibran tidak berniat melakukan apapun, hanya saja tanyanya refleks melakukan hal-hal yang tak terduga setiap dia bersama Bilah.
__ADS_1