
Cowok itu bergegas pergi dari hadapan mereka. Gabrian bingung, apa yang harus dia lakukan. Mengapa semuanya sangat kebetulan sekali. Semua yang terjadi disini hampir tak masuk akal.
Gabrian berusaha menahan dirinya. Dia tetap tenang, dia lalu berusaha mencari tisu untuk Bilah. Setelah menemukaannya di stand makanan tadi, Gabrian bergegas menghampiir Bilah, kembali menyeka mata Bilah.
“Gimana? Mendingan?” tanya Gabrian.
Bilah mengangguk dan membuka matanya.
“Sudah enggak apa-apa, kok.” Bilah lalu memejamkan matanya sekali lagi.
Gabrian kembali duduk.
“Udah, habisin makananya terus kita pulang aja, mata kamu harus di bilas pake air hangat.” Gabrian lalu mulai mengunyah lagi.
Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut dari tempat yang tak jauh dari tempat mereka duduk. Tepat di sebuah panggung kecil tempat kedua mempelai melangsungkan pernikahannya tadi pagi.
Beberapa wanita berteriak, seorang pria muda dengan stelan jas pernikahan jatuh limbung ke pasir. Seseorang telah meninjunya dengan keras hingga membuat darah meleleh di hidungnya.
Gibran terengah-engah, pria muda yang di pukulnya mencoba berdiri dibantu oleh mempelai wanitanya.
__ADS_1
“Ya Ampun Gibran, apa-apaan ini?” Mom memekik ngeri melihat Gibran tiba-tiba saja memukul menantu Seokjin.
Mata Gibran membara, asap yang kasat mata menyembur dari kedua telinganya. Nafas Gibran memburu, raut wajahnya penuh dengan kebencian. Tangan kanannya masih terkepal dengan erat di sisi tubuhnya.
Seokin dan Dad membantu mempelai pria itu berdiri.
Suasana sangat kacau, terlebih saat mempelai wanita berteriak histeris karena melihat hidung suaminya mengalirkan darah segar.
Bilah dan Gabrian menyeruak di antara kerumunan, namun Gabrian lebihi dulu melihat Gibran dan pria muda itu. Gabrian buru-buru menarik tangan Bilah dan pergi menjauhi.
“Apa? Ada apa sih?” tanya Bilah bingung.
Gabrian lalu mengajak Bilah menjauh dari kerumunan dan berjalan ke arah jalan raya, menghentikan sebuah taksi menuju arah villa yang mereka tinggali.
Sementara itu Mom memegangi lengan Gibran yang nampak dipenuhi amarah.
“Gibran, ada apa ini?” Dad yang jarang marah kini terlihat sangat murka.
“Dad mau tahu ada apa? Tanya saja kepada ******** cilik itu.” Gibran menunjuk wajah pria muda itu.
__ADS_1
Yang di tunjuk hidungnya hanya menunduk.
Dad menampar pipi Gibran. Dad sangat marah, tingkah Gibran sungguh memalukan.
“Kamu tahu tidak, apa yang baru saja kamu lakukan?” tanya Dad berang.
“Apapun yang ingi kalian tanyakan, tanyakan saja pada si brengsek itu.” Gibran lalu pergi dengan mendengus kesal. Amarahnya belum mereda, bahkan dia tak merasa bersalah sedikitpun karena berbuat onar di pesta itu.
“Gibran.” Mom mengejar Gibran yang berjalan dengan langkah panjang.
Mereka sampai di dekat pantai. Gibran berteriak seperti orang tak waras. Mom meraih lengan Gibran, tubuh Mom gemetar, dia sangat ketakutan, dia tidak pernah melihat Gibran bertindak kasar seperti itu.
“Ada apa, Nak?” tanya Mom seraya menitikkan air mata.
Gibran tak menjawab.
Dari tempat yang jauh disana, masih terdengar sisa-sia keributan yang dibuat oleh Gibran. Sama-samar terdengar jeritan pengantin wanita yang histeris karena pesta meriahnya harus berakhir seperti ini. Benar-benar di luar dugaan semua orang. Pesta pernikahan hari itu di bubuhi oleh tragedi berdarah.
"Gibran, katakkan sesuatu, Nak!" Mom terus berusaha membujuk Gibran.
__ADS_1
Mom meminta Gibran duduk di atas pasir yang basah.