
Bilah meminta Gabrian menyingkir karena dia ingin menghampiri derby.
“ bilah lo udah tau ya?” tanya derby.
Bilah diam tak mengerti.
“ lo kan sohibnya, pasti udah tau kalo Romi pindah ke Korea.” Ucap derby.
Bilah bagai tersambar petir. Dia tertegun,mencoba mencerna kata-kata derby.
“bilah, malah bengong si.” Tegur derby karena Bilah tak merespon pertanyaannya.
Bilah merasa wajahnya panas. Tubuhnya gemetar. Dia meremas perutnya karena tiba-tiba dia merasa seluruh tubuhnya menegang.
Bilah menundukkan badannya memegangi perut dan dadanya, dia mencoba berjalan tapi langkahnya terhuyung-huyung.
Gabrian yang melihat dari kursinya refleks menghampiri Bilah dan meraih bahu Bilah.
“bilah kamu kenapa?” tanya Gabrian.
__ADS_1
Anak-anak masih sibuk bergunjing tentang Romi.
Bilah berdiri mematung.
“gue denger dari nyokap gue sih, itu Papahnya Romi selingkuh terus mamahnya tiba-tiba ninggalin Romi gitu aja, akhirnya Romi sekarang dibawa sama om nya yang tinggal di Korea. Papahnya sih masih di indonesia Cuma ya gitu jarang pulang.” Ujar isty yang kebetulan mamahnya adalah teman arisan mamah Romi.
Bilah kini berjalan tertatih ke arah kursinya.
Gabrian menatap serius ke wajah Bilah yang nampak shock.
“ bilah..” ucap gabrian pelan.
Memandang kebawah ke arah parkiran.
‘romi,mimi.. lo bakalan dateng kan rom?’ Bilah merasa kacau.
Gabrian menatap iba ke Bilah. Gabrian mengusap Bahu Bilah menghiburnya.
Tapi itu sama sekali tak berrati apa-apa untuk Bilah.
__ADS_1
Karena Romi tiba-tiba menghilang dan pergi jauh sehari setalah dia merenggut mahkota miliknya yang selama ini dia jaga dan tak pernah terpikirkan olehnya bahwa suatu saat dia akan memberikannya untuk Romi sahabat yang sangat ia cintai.
Bilah meneteskan airmata. Ini terlalu berat untuknya. Entah karena dia tiba-tiba kehilangan Romi atau karena dia merasa nelangsa karena Romi membawa pergi mahkotanya dan cintanya pada Romi mungkin agar segera kandas dan menyisakan derita seumur hidup Bilah.
“Bilah...” bahkan suara gabrian yang semakin kencang tak mampu menyadarkan Bilah dari alam pikirannya.
Bel berbunyi.
Guru datang dan memberikan pelajaran. Bilah hanya memandang keluar. Menatap langit yang hari itu begitu kelabu, kelihatanya sebentar lagi akan turun hujan.
Gabrian hanya memandang ke arah Bilah dengan tatapan Ibanya. Dia tak tahu harus berbuat apa. Hingga berganti mata pelajaran dengan guru berbeda. Bilah tak bergeming dan tetap memandang keluar jendela.
Gerimis kecil mulai turun bersama airmata Bilah yang kembali meleleh menorehkan rasa hangat di kedua belah pipinya. Gabrian meraih sapu tangan dari saku celananya dan berniat menghapus airmata Bilah namun Bilah menampik tangan Gabrian. Dan mengusap airmatanya dengan sebelah tangannya.
Tubuh bilah gemetar, dia kini menelungkup di atas meja. Terus begitu hingga pelajaran usai dan bel waktu istirahat berbunyi. Pukul 10 pagi itu.
Gibran datang ke kelas mereka. Anak-anak perempuan dikelas itu berteriak histeris melihat Gibran masuk ke kelas mereka. Meski wajah Gibran dan Gabrian sangatlah mirip tapi ada perbedaan di antara mereka. Gabrian cenderung ramah dan banyak bicara,sedangkan Gibran terkesan angkuh, hal itu membuatnya terlihat cool dimata para gadis di sekolah itu. Dan lebih menarik dibanding Gabrian yang terlalu Ramah, meski begitu tetap saja tak akan ada siswi yang menolak jika dikencani oleh Gabrian.
Karena pesona mereka berdua yang sangat luar biasa.
__ADS_1