
Gabrian menghampirinya.
“Sudah lama ya, Hyung, kita enggak nonton siaran Televisi korea.” Gabrian menyandarkan kepalanya.
Gibran memejamkan matanya. Dia tidak memperhatikan wanita dalam televisi, juga tak mendengarkan perkataan Gabrian.
Perhatiannya tertuju pada wajah Bilah yang menari-nari di pelupuk matanya, bahkan saat dia pejamkan matanya. Bilah tetap ada disana.
Gabrian sudah terbiasa dengan tingkah cuek kakaknya. Dia meraih remote dan mengganti saluran televisi. Dalam sekejap muncul sekelompok gadis-gadis cute tengah bernyanyi dan menari dengan lincahnya.
“Asik, Twice.” Gabrian lalu bersenandung mengikuti nyanyian mereka.
Bilah terus berdansa di alam pikiran Gibran, dia kini memegangi kepalanya yang terasa berdenyut-denyut.
sementara Gabrian tengah duduk seraya begerak kesana kemari menirukan tarian para gadis imut yang mengenakkan pakaian serba sexi di dalam layar televisi besar itu.
“Ah, jangan joget-joget terus. Aku muakkkk!!!” teriak Gibran tiba-tiba, membuat Gabrian hampir lompat dari tempatnya duduk.
“Hyung, apa sih, biasa aja donk. Kalau gak suka twice tinggal pindah. Rese nih. Ga bisa banget liat aku seneng.”
Gibran membuka mata, menoleh ke Gabrian yang duduk disebelahnya.
“Aku enggak lagi ngurusin twice.”
__ADS_1
“Terus ngurusin apa?"
“Bukan urusan kamu.”
"Jadi intinya Urusan Hyung sama urusan aku tuh apa?? enggak ada.. aku juga enggak punya urusan apa-apa sama Hyung."
"Urusin aja tuh Twice kamu."
“Udah deh, kalian ini. Lebih baik urusin perut dulu aja.” Bilah datang dengan dua mangkok ramen di tangannya.
“Kok, Cuma dua?” tanya Gabrian.
“Bawel ish, aku mana bisa bawa tiga mangkok.”
“Aw... panas!!!” serunya.
“Kenapa?? Aduh makanya hati-hati donk.” Gibran dengan cepat berdiri dan meraih tangan Bilah dan menyeret Bilah ke wastafel di dapur, dan menyalakan keran, air dingin segera mengguyur jari Bilah yang terkena panas.
Bilah melongo menatap Gibran.
Gabrian membuka mulutnya lebar, dia masih duduk di sofa.
Keduanya aneh melihat si cuek yang tiba-tiba bereaksi berlebihan seperti itu.
__ADS_1
“Ehm.” Gibran berdeham mengusir canggung.
“Luka kena panas harus cepat di bilas dengan air mengalir,begitu ka-ta-nya sih.” Gibran menggaruk belakang telingnya.
Bilah menarik tangannya. Dan buru-buru meraih satu mangkok ramen yang tersisa. Membawanya menuju sofa.
Sementara Gibran berjalan dengan canggung mendekati Gabrian dan Bilah yang sudah mulai menyantap ramennya.
Gibran lalu duduk di samping Bilah, sangat dekat, bahkan terlalu dekat. Bilah menggeser sedikit posisi duduknya. Gibran bergeser lagi mengikuti Bilah. Gabrian yang duduk di ujung sofa kini berdempetan dengan Bilah.
“Ini apa sih, Bilah, nanti lama-lama aku jatuh ke lantai,” omel Gabrian.
Bilah pura-pura sibuk makan.
‘Apa-apan ini, gue di jepit dua cowok gini. Harus gimana coba,’ pikir Bilah.
“Aku mau ke toilet dulu, udah enggak tahan. Hyung awas jangan makan ramenku ya.” Gabrian berlalu seraya menunjuk hidung Gibran.
“Ehm.” Bilah mengusir canggung setelah hanya tinggal berdua dengan Gibran.
Gibran menatap televisi seolah sibuk dengan layar besar itu.
Gibran menyumpit ramennya dan menjejalkan ya ke mulut, lalu mengunyahnya dengan cepat.
__ADS_1
Bilah membungkukkan badannya saat menyeruput ramen. Saat itu Gibran mulai melingkarkan tangannya ke pinggang Bilah. Bilah tertegun.