Virgine

Virgine
Dibalik pintu


__ADS_3

Sepenginggal Gabrian, Bilah masuk ke dalam kamarnya.


Di Villa itu ada lima kamar, namun hanya mereka bertiga yang menginap disini. Mom dan Dad si kembar tidak akan tidur disini karena mereka menemani Seokjin yang tengah pesta soju bersama rekan bisnisnya. Pernikahan putri Seokjin akan berlangsung keesokan harinya.


Bilah merebahkan diri, menatap langit-langit.


Di sini sungguh indah, pergi ke korea bahkan adalah salah satu mimpi besarnya. Dan kini dia ada di negri gingseng ini, namun, dirinya malah disibukkan dengan kisah anehnya bersama si kembar.


Pintu kamar Bilah yang tak terkunci tiba-tiba terbuka perlahan. Gibran masuk tanpa mengatakan apapun. Bilah beranjak duduk, terkejut.


Gibran lalu menutup pintu dan menguncinya.


Jantung Bilah berdegup kencang.


“Gibran, kenapa kamu kunci pintunya?” tanya Bilah ngeri.


Gibran tak menjawab, wajah Gibran sangat misterius. Dia lalu mendekati Bilah. Meraih tubuh Bilah dan menariknya berdiri. Bilah merasa dirinhya tak sanggup menolak perlakuan cowok dingin ini, Gibran lalu menyentuh dagu Bilah, dan mulai mengecup bibir Bilah.


Bilah memejamkan matanya, merasakan pagutan lembut Gibran. Gibran memaksa Bilah membuka bibirnya dan mereka saling ******* satu sama lain. Gibran merasakan sensasi yang sama denga pada saat dirinya mencumbui Gwen. Gibran mendorong tubuh Bilah ke tempat tidur. Dan menciumi wajah Bilah dengan penuh gairah.


Bilah menikmati setiap sentuhan Gibran, bahkan kini, wajah Romi sudah tak pernah muncul lagi.


Bilah masih memejamkan matanya, namun tanganya liar memeluk dan meremas-remas tubuh Gibran. Dia menggelinjang menerima setiap sentuhan Gibran.


Tok.. tok..tok..


Suara pintu diketuk dari luar.


Bilah sontak membuka matanya, Gibran melemparkan tubuhnya ke samping Bilah.


Mereka berdua saling bertatapan dengan ngeri.

__ADS_1


Bilah lalu memberi isyarat agar Gibran bersembunyi.


“Sembunyi dimana?” bisik Gibran ngeri.


“Di kolong.”


“Tempat tidur ini enggak ada kolongnya.” Gibran menggaruk kepalanya.


“Lemari.” Bilah menunjuk Lemari.


Mereka membuka lemari tapi di dalamnya penuh dengan baju dan barang-barang Bilah.


Tok..tok..tokk..


“Bilaahhh ...” Suara Gabrian.


“Aduh, gimana donk?” Bilah sangat panik.


“Bilah, kamu udah tidur???” seru Gabrian lagi.


“Diam.” Gibran berbisik.


Ketukan berhenti, suara Gabrian tak terdengar lagi.


Gibran melepaskan tangannya dari mulut Bilah, mereka menghela nafas lega.


“Bilahhh ... ini aku Ivvie!!!” suara si cerewet menggantikan suara Gabrian yang menghilang.


Gibran menepuk dahinya.


Bilah kebingungan setengah mati.

__ADS_1


Ivvie terus mengetuk pintunya.


Akhirnya Bilah membuka pintunya setelah Gibran memutuskan untuk berdiri dibalik pintu.


“Haiii... Bilah.” Ivvie menerobos masuk kamar.


“Ah, hei.” Bilah berusaha tersenyum natural.


“Kaget yaa lihat aku ada disini? Uwu.” Ivvie hendak duduk di kasur saat Bilah menarik tangannya.


“Aku buatin coklat panas, yuk,” ajak Bilah.


Ivvie mengangguk setuju.


Gabrian tidak ada diluar kamar.


“Gabrian mana?” tanya Bilah.


Ivvie mengedikkan bahu.


“Tadi dia disini.”


^


Gabrian naik ke lantai atas, menuju kamar Gibran dan dengan cepat dia membuka pintu kamar kakaknya itu.


Kosong.


Gabrian lalu merebahkan tubunya disana, beragam pikiran menyergapnya. Membuat emosinya yang biasa stabil kini mulai tak terkendali.


Gabrian berusaha menenangkan pikirannya. Dia tak ingin mencari masalah dan membuat keributan saat mereka jauh dari rumah.

__ADS_1


Terlebih, Gabrian tak ingin merusak suasana hati Bilah. Gadis yang amat dia cintai.


'Sebaiknya akan berusaha tidur." Gabrian memutuskan untuk memejamkan matanya.


__ADS_2