
Bilah membuka kulkas yang sangat besar dengan dua pintu berkilau.
Bilah menatap kulkas itu sejenak,dia bingung karena kulkas itu seolah tertanam dalam dinding dapur. Dan kembali bingung karena isi di dalamnya. Begitu penuh sesak dengan sayur dan buah. Juga botol-botol minuman beraneka jenis serta beberapa kotak keju dan telur yang berjajar rapi dengan jumlah yang sangat banyak. Dia membuka bagian freezer dan menemukan banyak sosis,nugget serta daging ayam juga sapi. Bilah menggaruk kepalanya.
Dia lalu memutuskan untuk memasak yang mudah saja. Ayam goreng, sayur sop dan juga membuat sosis yang dimasak dengan saus ala-ala korea yang sering dia lihat di drama.
Bilah lalu mulai sibuk dengan tugasnya, dia berkali-kali mencicipi masakannya. Dia tidak percaya diri. Matahari mulai terbit. Rumah mulai ramai dengan suara-suara si kembar yang mengeluh bahwa mereka sangat mengantuk dan tak bisa tidur. Dan suara omelan mommy di lantai atas.
Lalu mommy si kembar turun ke dapur dan menghampiri Bilah.
“ya ampun wanginya sampe kemana-mana masakaannya, masak apa Bilah?” tanya mommy.
“masak sederhana aja tante,saya gak terlalu pintar masak.” Jawab Bilah seraya meletakkan sepiring ayam goreng di meja makan.
“wuih,,akhirnya aku makan makanan manusia juga.” Gabrian lalu menyambar ayam goreng itu dan memakannya dengan lahap.
Gibran menyusul dan lalu meraih piring untuk segera mencicipi masakan Bilah.
“kalian ini,dasar.” Mommy lalu ke atas untuk membantu suaminya bersiap-siap berangkat ke kantor.
“bilah makan sekalian sini.” Ajak Gabrian.
Bilah lalu duduk dan mulai makan.
“eh kalo mau bawa bekal, itu banyak tupperwar di rak atas.” Ucap Gabrian seraya mengunyah dengan lahap.
“bilah mengangguk.” Pikirannya terganggun oleh Romi. Ada apa sebenarnya dengan si Romi itu.
__ADS_1
“sekalian bawain buat aku ya’” ucap Gibran cuek.
“ha?”
“buat aku makan siang,aku males ke kantin terlalu rame. Nanti makan di belakang sekolah aja deket apotek hidup.” Lalu Gibran beranjak bangun setelah minum segelas air hangat.
^
Bilah sibuk memasukan dua kotak bekal dan dua botol air ke dalam tasnya. Tasnya jadi sangat berat.
“ bilah udah makan?” suara bapak yang berjalan mendekat.
“udah pak.”
Bapak lalu membelai kepala Bilah. Dan tak berkata apa-apa.
Gabrian menyusul di belakangnya.
“bilah naik motor aja sama aku.” Gabrian lalu mendekati Bilah dan meraih tangannya. “yo jalan.”
Bapak hanya tersenyum melihat mereka bertiga.
Gibran cuek saja dan keluar lalu masuk ke mobil, abang bilah sudah siap di belakang kemudi.
“pagi mas Gibran.” Sapanya canggung.
“pagi bang.” Sahut Gibran yang juga kikuk harus memanggil apa. Dia mungkin sekitar 3 atau 4 tahun lebih tua dari Gibran.
__ADS_1
“bilah aku ajak bareng,dia ga mau.” Ucap Gibran seraya menonton bilah yang sedang berusaha naik ke motor sport Gabrian yang tinggi.
“iya mas,dia mungkin masih belum mau ketemu saya.” Jawab abang Bilah seraya menyalan mesin mobil dan lalu memacu laju mobil mewah itu memecah pagi yang berwarna jingga.
^^
Bilah dan Gabrian sampai di sekolah lebih dulu. Bilah lalu bergeas ke kelas, berharap Romi sudah ada disana.
Tapi sesampainya disana. Kursi Romi masih kosong.
Bilah bertanya pada teman sebangku Romi,
“romi udah dateng belum?” si cowok itu hanya mengedikkan bahu.
Bilah lalu meletakkan tasnya yang berat di atas mejanya dan duduk di dekat jendela menatap kebawah ke arah parkiran,
‘mungkin sebentar lagi Romi datang.’ Pikirnya.
Gabrian masuk kelas dan duduk di samping Bilah.
“pagi Bilah...” sapanya riang.
“apa sih,udah ketemu dari subuh juga.” Jawab Bilah sebal.
“gitu aja marah.”
Lalu tiba-tiba Derby -teman sekelas Bilah- mengatakan bahwa dia sangat terkejut saat wali kelas memberitahunya tentang Romi,
__ADS_1
Anak-anak berkumpul mendekatinya untuk mendengar ada apa dengan Romi.