Virgine

Virgine
Dosa termanis


__ADS_3

Tangis bilah kembali meledak mendengar kata-kata Gibran.


“bagaimana mungkin aku tahu gimana perasaanya sementara dia tiba-tiba hilang tanpa bilang apa-apa ke aku. “ bilah memegangi dadanya yang terasa sesak.


Gibran berdiri dan memeluk bilah.


“aku mungkin ga tau apa yang sebenarnya terjadi. Tapi aku Cuma mau kamu bisa nerusin hidup kamu yang masih panjang tanpa harus tersandung oleh hal-hal begini. Bilah,kamu harus tahu semua orang di dunia ini datang dan pergi, semuanya tanpa terkecuali. Dan sekarang yang bisa kamu lakuin Cuma move on dan lanjutin hidup kamu.” Gibran membelai rambut bilah yang wajahnya terbenam di dada Gibran.


Bilah berpikir mungkin kata-kata Gibran ada benarnya. Andai saja kejadian hari itu tak pernah terjadi. Mungkin akan lebih mudah baginya untuk melupakkan Romi. Tapi dengan kondisi dia yang sudah tak virgine, bagaimana dia bisa menghadapi hidupnya kini. Bahkan dia sudah tak berharga lagi. Tapi bolehkah dia menyesali semuanya dan membenci Romi sedangkan Romi tak pernah memaksanya untuk melakukan hal itu. Itu di lakukan atas kemauannya sendiri, karena sudah terlalu lama dia memendam cintanya pada Romi.


Bilah melepaskan pelukan Gibran dan kembali duduk.


Gibran mengeluarkan kotak bekal Bilah.

__ADS_1


“makan dulu, kamu butuh jadi kuat untuk bisa berhentiin air mata kamu.” Kata Gibran.


Gibran menyendok nasi dan di arahkan ke mulut Bilah.


“aku bisa sendiri.” Jawab Bilah .


“yaudah klo bisa sendiri buruan dimakan.” Bujuk Gibran.


Bilah meraih sendok dan memasukan nasi itu ke mulutnya. Lalu mengunyahnya dan kembali menangis. Dia ingat Romi.


Bilah menoleh cepat. “mati?” tanyanya.


Gibran mengangguk. “iya mati. Dia kan udah ga ada lagi. Anggep aja begitu.”

__ADS_1


Bilah meneguk air dari botol milik gibran.


Mana yang lebih baik, membenci Romi yang hilang setelah tidur bersamanya atau menganggapnya tak ada lagi. Namun tetap saja itu tak akan membuat harga dirinya kembali utuh.


Bilah menggigit bibirnya. Dia menyetuh pipinya yang belum kering dan basah kembali karena dia kembali menangis.


“Bilah fokus saja pada Ujian akhir dan pilih mau kuliah dimana. Tetap tinggal dirumah, mommy akan biayain semua biaya kuliah kamu. Bilah pikirkan kamu saja mulai sekarang,jangan pikirkan hal lain. Kamu harus bisa raih apa yang kamu inginkan. Kuliah,lulus dan jadilah seperti apa yang kamu mau. Paman sudah tua, bibi sudah sakit-sakitan karena perbuatan abangmu, jadi kamu harus baik-baik saja.” Gibran bicara panjang lebar seolah dia tahu semua masalah Bilah.


Bilah menatap Gibran.


“Bilah, bisa kan turutin kata-kata gue?”


Kata-kata Gibran seolah menyihir Bilah, aneh rasanya Gibran tahu sesuatu tentang Bilah dan Romi. Namun bilah enggan menanyakan itu. Baginya hanya Romi dan Tuhan yang tahu soal yang terjadi saat itu. Itu saja yang Bilah tahu dan Bilah yakini. Agar bilah dapat mengembalikan percaya dirinya sekalipun dia tak lagi virgine.

__ADS_1


Dan satu hal yang akan terus membayangi hidup Bilah bahwa Dosa yang telah dia perbuat adalah hal termanis dalam hidupnya. meski beban yang harus dia tanggung sangat berat. Bagaimana dia jika akan menikah kelak. Bagaimana dia harus menjelaskan pada kedua orang tuanya. Tapi terlepas dari itu semua.. Kejadian di hari itu terus menerus terulang dalam ingatannya.


__ADS_2