
Gabrian sudah bersiap berangkat ke kampus ketika dilihatnya Bilah masih tertidur. Dia lalu berpesan pada si mbak agar dia memperhatikan Bilah saat dia bangun nanti. Gibran dan Gabrian berangkat ke kampus secara terpisah. Sedangkan mommy mereka ada urusan bersama teman arisannya.
^
Bilah mengerjapkan matanya. Kepalanya terasa sakit. Hidungnya tersumbat. Dia berusaha bangun tapi dunia sekelilingnya seperti berputar. Bilah sangat haus. Dia berusaha berdiri seraya menahan pusing yang amat sangat. Bilah berjalan tertatih, tangannya memegang kepalany dan tangan lainnya memegang dinding saat dia berjalan. Dia menuruni tangga dan terhuyung-huyung seperti akan jatuh. Si mbak melihat Bilah dari bawah dan segera menghampiri Bilah.
“nenk Bilah kok lemes banget.” Kata si mbaknya yang lalu membantu Bilah menuruni tangga. Bilah lalu duduk di kursi di samping meja makan. Si mbak mengambilkan air minum.
“nenk bibi beliin bubur bentar ya.” Si mbak berkata seraya menyentuh kening Bilah. “
kayaknya nenk demam. Ini badanya panas banget lho, saya telepon mas Gabrian ya suruh pulang, biar anter nenk ke dokter.”
“jangan mbak, Biar Bilah tunggu Bapak dateng aja.” Jawab Bilah setelah meneguk air.
“lho,kan bapak nenk pergi sama Tuan.”
“ya engga apa-apa mbak, biar Bilah nunggu sampe bapak pulang.”
“lho ya jangan lah nenk. “
“kok jangan?”
“ya kelamaan.”
“ ya engga apa-apa Bilah kuat kok nunggu sampai Bapak dateng.”
Si mbaknya menggaruk-garuk belakang telinganya karena merasa bingung.
‘Bapak nya si nenk kan pergi ke Bali sama Tuan kan ya. Minggu depan baru balik, kok si nenk ngotot banget mau nunggu Bapaknya.’
Pikir si mbak terheran-heran.
__ADS_1
Bilah lalu menelungkup di meja makan.
Si mbaknya lalu membuatkan Bilah soup tulang iga, tujuan si mbaknya agar Bilah bisa merasa hangat setelah makan makanan berkuah.
Dengan cepat si mbah menyelesaikan sajian special untuk orang sakit miliknya.
Bilah yang tertidur di meja di bangunkan oleh si mbak.
“nenk ini makan dulu.”
Bilah membuka matanya. Meminum air, dan mencoba memakan satu suap nasi beserta air soup hangat itu. Tak lama kemudian Bilah merasa mual. Dia kembali mengeluarkan isi mulutnya. Dan nasi tadi berceceran di lantai. Bilah mual-mual dan kembali menelungkup di meja agar rasa mual dan pusingnya hilang. Si mbak terkejut.
“YA ALLAH, nenk kenapa nenk?” si mbaknya panik lalu segera meraih ponselnya yang ada di dekat kompor.
“ Halo.,.mas Brian,mas.” Si mbaknya bicara dengan nada tinggi karena disergap oleh rasa panik.
“mas,dimana mas. Mas gabrian.” Si mbaknya bicara bahkan sebelum panggilannya tersambung dengan gabrian.
“mas Brian dimana?” tanya si mbaknya.
‘di depan.’ Jawab Gabrian.
“ Depan mana?”
‘depan rumah mbak,.’ Terdengar suara deru mesin motor ber’cc tingging.
“apa?” tanya mbaknya tak mendengar jelas suara Gabrian.
‘ depan rumah.’ Tak ada lagi deru mesin motor.
“rumah siapa?” tanya si mbaknya masih dengan teriakannya.
__ADS_1
Terdengar suara gabrian “ kenapa mbak? Bilah kenapa?”
Si mbak masih bicara di telepon.
“nenk Bilah muntah mas.” Ujar si mbaknya panik.
“Bilah, kamu kenapa Bilah.” Gabrian sudah berada di samping Bilah.
Si mbak menoleh ke arah Bilah dan mendapati Gabrian sedang memegang bahu Bilah.
“ lho kok mas cepet banget udah sampe aja.”
“Bilah kenapa ini sampe kaya gini mbak.”
Bilah bersandar pada dada Gabrian yang berdiri di sampingnya.
“ anu mas, tadi anu. Nenk bilahnya anu.”
“hah apa sih.” Gabrian yang panik segera mengangkat tubuh Bilah dan membopongnya keluar rumah menuju mobilnya yang jarang dia gunakan.
Gabrian berteriak pada si mbak.
“mbak buruan bukain pintunya.” Gabrian terlihat menahan beban yang sangat berat. Tapi bukan beban hidup.
“ini gimana bukanya to mas?” si mbaknya menarik-narik handle pintu mobil Gabrian.
“pake kunci mbak. Cari kuncinya. Buruan lah.” Seru gabrian kesal.
Si mbaknya masuk dan mencari-cari kunci mobil Gabrian di rak yang terletak diruang keluarga. Mobil Gabrian jarang sekali dipakai jadi mungkin seisi rumah akan melupakkan kuncinya,entah dimana gerangan kunci itu.
“nah ini dia.” Seru si mbak ketika mendapatkan kunci mobil Gabrian dikolong rak.
__ADS_1
Si mbaknya lalu berlari dan segera membuka pintu dengan menekan remote di kepala kunci mobil itu.