
Gibran mendatangi meja Bilah. Dia melihat Bilah sedang telungkup di atas mejanya. Gabrian sedang membelai punggungnya dengan perlahan.
Gibran duduk di meja Gabrian,dia menatap Bilah dengan bingung.
“dia tidur?” tanya Gibran pelan.
Gabrian menggeleng.
“heh, mana makan siang gue.” Kata Gibrab ketus.
“udah deh hyung makan di kanting ajalah.” Ucap Gabrian.
Gibran meminta Gabrian untuk bangun dan dia menarik Bilah dari kursinya.
“ayo ikut gue.” Ajak Gibran ketus. Bilah terkejut mendapati dirinya ditarik paksa oleh Gibran.
“hyung pelan-pelan donk.” Protes Gabrian
Gibran menarik Bilah di sepanjang koridor kelas, menuruni tangga dan menuju bagian belakang sekolah dekat apotek hidup. Gibran membawa Bilah ke sebuah bangku panjang yang terbuat kayu.
__ADS_1
Gibran mengambil kotak bekal dari dalam tas dan lalu memakannya dengan lahap tak menghiraukan Bilah yang masih terisak dengan menutupi wajahnya yang sembab.
Gibran menghabiskan bekal makan siangnya dan meneguk air dari botol yang juga dari dalam tas Bilah.
Cukup lama Gibran ter diam mengotak-atik ponselnya.
Lalu dia mulai bersuara dengan ciri khasnya yang ketus.
“harus banget ya nangisin cowok itu?” katanya sinis.
Bilah memejamkan matanya dan kembali menyapu pipinya dengan telapak tanganya.
Bilah menoleh dan menatap tajam ke arah Gibran.
“gimana kamu bisa ngomong gitu tanpa tahu masalahnya kaya gimana?” tanya Bilah kesal.
“masalah mah semua orang juga punya, tapi ga usah ngumbar air mata di depan semua orang kaya gitu lah. Nyari perhatian? Pengen banget diperhatiin.”
Jawaban Gibran sungguh membuat Bilah naik pitam.
__ADS_1
Dia berdiri dan menampar Gibran yang tak menghindari tangan Bilah.
Gibran menatap tajam ke arah bilah yang tersengal-sengal karena amarahnya yang meledak.
“siapa kamu sampai kamu bebas bicara banyak tentang aku sementara kamu gak pernah tau apapun.” Bilah sangat kesal.
Gibran diam saja, matanya menatap lurus ke wajah Bilah.
“jangan terlalu dalam menyelami hati orang lain, sedalam apapun kamu tenggelam disana,kamu gak akan pernah tau isi hati orang lain, apalagi orang itu adalah aku.” Bilah kembali menangis.
‘bagaimana mungkin dia tidak seperti ini saat cowok yang baru saja merebut keperawananya sekarang menghilang tanpa sepatah katapun, Romi seperti inikah lo? Seberengsek inikah lo? Romi, bisa-bisa lo hilang gitu aja setelah apa yang lo lakuin ke gue.’ Batin Bilah meronta-ronta. Dia ingin sekali bertemu Romi dan mendengar alasannya. Bahkan jika ada seribu alasan, maka Bilah akan memberikan seluruh hidupnya untuk mendengarkan semua alasan itu.
“kamu pikir Romi itu seperti apa? Kamu bukanya udah kenal dia dari kelas satu? Udah tiga tahun lho kalian deket. Harusnya kamu lebih tau tentang dia dibandingkan aku yang belum lama ketemu dia.”
“kamu tahu apa soal dia? Tahu apa soal perasaan aku?”
“apa? Perasaan apa? Kamu mau aku bilang kalo aku tahu betapa kamu itu cinta banget sama romi, hei semua orang bisa tahu bahwa kamu sama romi udah saling suka sejak kelas satu. Jadi apa yang perlu dijadiin drama, sekarang dia hilang dan kamu segitu kehilangan. Kamu ngerasa ga adil buat kamu?”
“ini bukan hanya soal merasa kehilangan, tapi ini tentang..” Bilah menangis tak sanggup menyelsaikan kata-katanya.
__ADS_1
“terus soal apa? Jangan kamu kira cuma kamu yang ngerasa terluka dan nelangsa kaya gini, mungkin Romi juga ngerasain hal yang sama. Udah lah ga ada gunanya meratapi dia kaya gini, toh dia gak akan tiba-tiba muncul hanya karena kamu terus menerus menangis.”