
Sampai dirumah mommy dan Gibran menunggu di ruang tamu dengan cemas, mereka lalu menghampiri Bilah ketika Bilah dan Gabrian masuk ke dalam rumah.
“ Bilah, Bilah engga kenapa-kenapa?” tanya mommy Gibran.
Bilah mengangguk tersenyum.
Mommy si kembar meraih tangan Bilah dan membawanya duduk di sofa di ruang tamu.
“Bilah sebaiknya ke dokter aja ya di antar Gibran.” Ucap mommy si kembar.
Bilah menggeleng lemas.
“engga usah tante. Bilah gak sakit. Cuma tadi sedikit pusing aja.” Jawab Bilah santun.
“Beneran? “
Bilah mengangguk dan memaksakan diri untuk tersenyum.
“ Yasudah tapi kalo nanti ada yang Bilah rasa. Sakit atau gak nyaman, Bilah harus bilang ya.” Kata mommy kembar sangat khawatir.
Gabrian lalu mengantarkan Bilah ke kamarnya.
Gabrian melepaskan sepatu Bilah dan Bilah terbaring di kasur. Gabrian menambahkan satu bantal lagi agar Bilah lebih nyaman.
__ADS_1
Lalu Gabrian menyelimuti Bilang hingga batas dada Bilah.
Bilah memejamkan matanya. Gabrian duduk di tepi kasur Bilah. Menatap Bilah dengan cemas.
‘Bilah, apa sebenarnya yang kamu alamin tadi?’ batin Gabrian.
Gabrian membelai kening Bilah dengan lembut. Dilihatnya bilah meneteskan airmata. Airmata itu mengalir ke samping wajahnya.
Gabrian menggigit bibirnya. Entah apa yang harus dia lakukan saat ini, dia sungguh bingung. Pasti ada sesuatu yang berat sampai Bilah yang ceria ini tiba-tiba bergelagat aneh, berteriak di toilet dan kini dia menangis tanpa sebab.
‘apa mungkin dia kesurupan.’ Pikir Gabrian ngeri.
“Bilah, apa yang sakit? Apa ada yang sakit?’ tanya Gabrian dengan lembut dan bernada peduli.
“Bilah.” Gabrian panik dan mengguncang bahu Bilah.
“ Tinggalin aku sendiri.” Ucap Bilah disela tangisnya.
“ Tapi Bilah..”
“please, aku mau sendiri.”
“oke oke, tapi kalo ada apa-apa kamu harus panggil aku ya.” Gabrian menunggu jawaban dari Bilah, tapi Bilah tak menjawab.
__ADS_1
“Bilah.”
“TINGGALIN AKU SENDIRI,PLEASE!!!!!!!!!!”
bilah meneriaki Gabrian. Gabrian nampak sangat terkejut. Tapi dia buru-buru keluar dari kamar Bilah dan terdiam diluar pintu Bilah.
Gabrian sungguh tak bisa mengerti, apa sebab Bilah bisa seperti itu. Bahkan dia gtak pernah meneriaki Gabrian seperti itu sebelumnya.
‘ Gadisku yang ceria, kamu kenapa?’ Gabrian meneteskan airmata. Dia lalu berjalan menuju kamarnya. Dia berpapasan dengan Gibran yang baru keluar dari kamarnya sendiri.
Gibran memperhatikan Gabrian yang tak menyadari bahwa ada kakaknya disana. Pandangan gabrian nampak kosong, dia seolah sibuk dengan pikirannya sendiri. Dan Gabrian berlalu ke kamarnya.
Gibran memiringkan kepalanya. Baginya aneh sekali ekspressi wajah adiknya itu. Tak seperti biasanya. Dia selalu ceria dan wajahnya tak pernah lepas dari senyum.
Gabrian masuk ke kamarnya. Dia benar-benar tak mengerti dengan keadaan Bilah yang tiba-tiba saja begitu. Ini seperti terakhir kali dia melihat Bilah menangis saat Bilah tahu Romi pindah ke Korea waktu merwka masih duduk di bangku SMA dulu. Saat itu Bilah juga menangis dan tak ada yang bisa dia lakukan selain membelai rambut dan punggung gadia cantik yang dia kagumi itu.
^
Bilah menutupi wajahnya dengan selimut. Dia menangis seraya menyebut-nyebut nama seseorang.
“Romi.” Bilah menangis dan terus menangis.
“Romi, kamu dimana, akun harus gimana Romi.” Mengapa tiba-tiba kenangan pahit itu kembali muncul bersama wajah Romi yang amat Bilah sayangi.
__ADS_1