Volume Cinta Dania

Volume Cinta Dania
Bab 11


__ADS_3

Semenjak kejadian hari itu Zico tidak pernah lagi muncul di hadapan Dania. Lelaki itu bahkan tidak pusing beberapa hari ini.


Selama dua hari ini dia menginap di apartemen miliknya. Dia tidak ingin bertemu dengan Dania untuk sementara waktu.


Zico memilih untuk menenangkan diri di sana. Dia ngerasa ini adalah pilihan yang berat untuk dirinya. Dia tidak mungkin menceraikan Dania setelah menidurinya. Namun dia tidak bisa membohongi dirinya bahwa dia tidak mencintai wanita itu.


Bayangan wajah Tiara kembali menghantui dirinya. Dia ini adalah salah. Akan tetapi dia merasa bahwa Tiara adalah wanita yang cocok untuk menemani dan melahirkan anak - anaknya kelak.


"Bagaimana jika Dania hamil?" tanyanya bergumam sambil duduk di ruang TV.


"Ah ini hanya sekali dan terjadi begitu cepat, aku tidak yakin dia hamil, bagaimana nasib anakku jika di lahirkan dari wanita seperti itu." ucap Zico lagi.


Namun Zico juga tidak bisa membohongi dirinya bahwa pelayanan Dania begitu membuainya. Jika bukan karena gengsi maka dia akan mengulangi kembali.


Ponselnya berdering dengan kencang. Dia melihat ada panggilan dari sahabatnya yang sudah lama tidak bertemu.


"Halo assalamualaikum."


"Waalaikumsalam bro, bro aku lagi di Indonesia, malam ini ada acara syukuran di rumah, mama meminta kamu datang, kamu tunggu."


"Tapi...."


"Kami tunggu pokoknya, kita sudah sangat lama tidak bertemu."


Zico ingin menjawab namun telpon di matikan sepihak oleh sahabatnya Rey.


"Tidak berubah dari dulu nih anak, Suka begini." ucap Zico.


Zico akhirnya memutuskan untuk hadir dalam acara tersebut.Dia merasa bahwa ini adalah refreshing untuk menghilangkan rasa bersalahnya.


Malamnya Zico sudah sampai di rumah Rey. Sudah setahun dia tidak melangkahkan kaki di rumah ini.


"Hai akhirnya kamu datang juga." ucap Rey lansung menyambut kedatangan Zico di rumahnya.


"Tidak mungkin aku melewatkan undangan dari kamu." ucap Zico.


"Sayangnya Tedi nggak bisa ikut hadir di sini, dia dengan keluar kota hari ini, ayo makan." ajak Rey.

__ADS_1


Saat mereka berjalan menuju prasmanan tiba- tiba dia tidak sengaja berpapasan dengan Tiara.


"Tiara sini." panggil Rey.


Tiara juga nampak kaget ketika melihat Zico berada di sana.


"Kenalkan ini teman aku Zico, mana tau cocok." ucap Rey merasa bahwa keduanya cocok satu sama lain.


"Bro kenalkan ini sepupu aku Tiara, dia sekarang sedang mencari suami, mana tau kalian cocokkan." ucap Rey.


Keduanya hanya tersenyum canggung saat Rey berkata begitu. Mereka tidak tau bagaimana menangani ucapan Rey.


"Kau tinggal sebentar dulu, bicaralah mana tau cocok, Tiara temani teman aku makan."


"Baik." jawab Tiara menganggukkan kepalanya.


Rey meninggalkan mereka berdua. Sedangkan mereka berjalan menuju prasmanan.


"Dunia begitu sempit, aku tidak tau bahwa kamu sepupu Rey, padahal aku dan dia sudah berteman lama dengan dia." ucap Zico membuat pembicaraan.


"Iya, kenapa Dania tidak di ajak?" tanya Tiara.


Zico tidak tau apa maksud dirinya untuk mengatakan masalah pribadinya kepada orang lain.


"Ya mungkin ini jalan hidup kamu."


"Latar belakang kami sangat berbeda sekali, aku lebih menyukai wanita seperti kamu."


"Seperti aku?" tanya Tiara dengan wajah memerah.


"Iya, kamu, Khalifah dan teman - teman kamu adalah wanita yang bisa menjaga diri kalian, beda dengan Dania yang suka pamer tubuhnya."


"Banyak bersabar dan berdoalah untuk dirinya agar hatinya di lembutkan." ucap Tiara juga bingung bagaimana menanggapi cerita Zico. Dia memang menyukai lelaki itu akan tetapi dia tidak ingin menjadi duri dalam pernikahan orang lain.


Drdrddrdr


Ponsel Zico berdering.

__ADS_1


"Ya Ran."


"Maaf bang, malam ini aku nggak bisa menginap di rumah, karena ini ada masalah di luar kota, Abang pulang lah." ucap sepupunya.


Dia sengaja menyuruh sepupunya untuk tinggal di rumahnya dalam beberapa hari. Dia tidak mungkin meninggalkan Dania sendirian di rumah itu.


Zico melihat pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 09.00 malam. Dia masih punya waktu satu jam di sana sebelum akhirnya pulang ke rumah.


Zico akhirnya sampai di rumahnya. Walaupun malas untuk pulang namun dia tetap tidak tega meninggalkan Dania di ruang itu sendirian.


Sedangkan Dania sudah berada di ranjang miliknya. Semenjak dia hari ini dia tidak pernah bertemu dengan suaminya lagi. Dia tau bahwa lelaki itu menghindarinya.


Dua malam ini dia di temani oleh sepupu dari Zico. Dia tidak tau mengapa lelaki itu mengirimkan sepupunya ke ruang itu. Namun baginya itu sangat membantu.


Namun keduanya sama - sama tidak pandai memasak. Mereka selama dua hari ini selalu pesan makanan dengan online.


Dania kaget saat mendengar ada barang terjatuh di lantai atas. Bulu kuduknya lansung merinding karena ia tahu bahwa Rani tidak pulang malam ini.


"Suara apa itu?"


Dania lansung menutup semua tubuhnya dengan selimut. Namun rasa penasarannya juga tinggi.


Dania akhirnya bangkit dari tempat tidurnya. Dia akhirnya memakai baju jaket dan mengambil sebuah pemukul baseball di kamarnya.


Dania mencoba berjalan dengan perlahan. Arah suara juga terdengar dari arah dapur kali ini.


"Aku yakin ini maling." ucapnya dengan sangat yakin.


Dania berjalan menuju dapur yang gelap. Dia melihat ada sosok di dapur sedang membuka kulkas.


Dania dengan memberanikan diri untuk mendekati maling itu. Setelah dekat dia bersiap untuk mengayunkan baseball ke kepala maling tersebut.


"Mati kau maling." ucapnya memukul dengan membabi buta.


"Awas sakit,apa - apaan kamu Dania."


Dania kaget saat mendengar suara bariton tersebut. Dia tau bahwa itu suara Zico.

__ADS_1


Dania segera menghidupkan lampu dapur. Benar saja dia melihat Zico sedang meringis kesakitan. Nampak beberapa area wajahnya berdarah karena baseball.


"Maafkan aku, aku akan obati."


__ADS_2