
Dania melihat jam di kamarnya yang telah menunjukkan pukul 10 pagi. Sejak tadi pagi dia sudah bangun namun ia malas untuk keluar dari kamarnya. Apalagi masih ada Zico di rumah.
Dania mencoba membuka pintu rumah dengan perlahan. Sebelumnya dia mengintip di celah pintu. Namun ia tidak melihat siapa - siapa di sana.
Dania melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Tetap saja dia berjalan dengan perlahan untuk melihat apakah masih ada orang di rumah.
Dania tidak melihat siapa - siapa di lantai bawah. Dia berjalan ke bagasi mobil. Dia menghela nafas karena mobil laki - laki itu sudah tidak ada.
"Syukur dia sudah pergi, aku lapar ah, mau makan apa ya." ucap Dania.
Dania mencoba berjalan ke dapur. Dia ingin melihat apakah di dapur ada makanan tersisa untuknya.
"Alhamdulillah,dia masih peduli sama aku."
Dania lansung memakan makanan yang terhidang di meja makan. Dia menyantapnya dengan cepat. Walaupun dia kesal karena kejadian semalam, namun ia tersenyum senang karena lelaki itu masih memikirkan perutnya.
Setelah selesai makan seperti biasa,Dania menarik piringnya di wastafel. Dia tidak peduli dengan apa yang akan di ucapkan oleh suaminya itu.
"Nanti aku undang aja pelayan di rumahku ke sini." ucapnya tersenyum memikirkan semuanya.
Tiba-tiba bel berbunyi. Dania berjalan untuk membuka pintu. Dia melihat seseorang lelaki berdiri di didepan rumahnya.
Lelaki itu tertegun saat melihat penampilan Dania. Dania menggunakan baju tidur agak transparan berwarna Sage. Piyamanya terdiri dari celana pendek dan baju tali satu. Kulit putihnya sangat menggoda.
Dania menyadari tatapan dari lelaki itu. Dia mencoba untuk mengalihkan pandangan lelaki itu.
"Mas, ada perlu apa?"
"Ohw maaf mbak, saya mengantarkan paket dari mas Zico, tunggu saya ambilkan."
Dania melihat lelaki itu memberi kode kepada temannya. Lalu tidak lama beberapa orang datang membawa sebua bag.
"Ini paket untuk mbak Dania, mohon di tanda tangani di sini mbak." ucap lelaki itu.
Dania lansung menanda tangani kertas tersebut. Ketika lelaki itu membalikkan badan, Dania melihat ibu dan bapak mertuanya juga ada di sana.
"Mama,papa." ucap Dania lansung menyalami kedua mertuanya dengan sopan.
Papa mertua Dania kaget dengan apa yang di pakai oleh menantunya. Dia merasa tidak enak memandang tubuh menantunya tersebut.
Sedangkan mama mertuanya terlihat sinis melihat pakaian menantunya. Dia merasa tidak sopan memakai baju tersebut apalagi ketika membukakan pintu untuk tamu.
"Ayo masuk Dania." ucap mama mertuanya.
Dania lansung masuk bersama mama mertuanya. Dia tidak lupa membawa paket yang di belikan oleh Zico.
Sedangkan di tempat lain, Zico nampak terburu-buru. Ketika mendengar mama dan papanya berkunjung, dia lansung memutar balik mobilnya. Dia tidak ingin kedua orang tuanya mengetahui seperti apa pernikahannya.
Setelah sampai di rumahnya, Zico lansung turun dari mobilnya dengan bergegas. Alangkah kagetnya Zico ketika masuk ke ruang tamu. Dia melihat papanya hanya menatap ponselnya.
"Pa."
__ADS_1
"Kamu sudah sampai?" tanya papanya.
"Dania, ayo kita ke dapur sebentar, mama mau ajarin kamu sesuatu."
Mamanya Zico dan Dania beranjak dari tempat duduknya. Zico melihat apa yang di gunakan oleh istrinya. Dia sangat geram dengan apa yang digunakan oleh istrinya. Dia merasa Dania sungguh keterlaluan karena tidak tau tempat.
"Duduklah dulu." ucap papanya.
Zico pun duduk tidak jauh dari papanya. Dia merasa tidak enak sama kedua orangtuanya.
"Kamu itu pimpinan dalam keluarga kamu, sekarang Dania adalah tanggung jawab kamu dunia dan akhirat, kamu bimbing dia dengan lembut, jangan dengan kekerasan, karena wanita itu tukang bengkok, terlalu keras dia akan patah dan terlalu lunak maka dia akan tetap bengkok."
Zico paham dengan nasehat papanya. Namun dia tidak tau bagaimana caranya agar bisa merubah wanita itu. Apalagi dia merasa tidak ada cinta untuk wanita itu.
Zico berjalan menuju dapur di mana mama dan Dania berada. Dia melihat mamanya sedang mencuci piring yang ada di wastafel.
"Nah kamu juga belajar mencuci piring seperti ini, memang ini bukan kewajiban wanita, akan tetapi jika kamu lakukan dengan ikhlas maka pahala ganjarannya untuk kamu."
Zico hanya menghela nafasnya. Dia tidak tau apa kesalahannya sehingga bisa di takdirkan mendapatkan istri seperti Dania.
"Zico mama tadi ada bawakan makanan kesukaan kamu, ini sudah mama masukkan kedalam lemari makanan, nanti kamu tinggal panaskan Dania ketika mau makan."
"Iya ma." jawab Dania.
"Ya udah mama dan papa mau pergi dulu, nanti pas makan siang kami kembali, jangan lupa masak nasi ya Dania."
Mama mertuanya sengaja memberi waktu untuk menantu dan anaknya. Dia tau bahwa anaknya ingin berbicara dengan istrinya.
Ketika Dania berjalan ingin mengantarkan kedua mertuanya, Zico melarangnya untuk ikut keluar. Dania hanya berdiri dengan wajah kesal ketika mendengar larangan lelaki itu.
Tidak lama setelah itu Zico kembali dengan wajah menahan amarah.
"Bisa kita bicara?" tanya Zico.
"Bicara aja."
"Kenapa kamu keluar memakai baju seperti itu?"
"Jadi harus memakai baju seperti apa? ini biasa aja."
"Bagaimana jika lelaki mengantarkan paket tadi punyak maksud buruk kepada kamu, bisa aja kamu di lecehkan."
"Jadi orang tua kamu ke sini hanya untuk mengadu seperti itu?"
"Ini bukan mengadu tapi menegur kamu agar tidak terjadi hal buruk terhadap kamu."
"Kenapa bilangnya sama kamu, kan bisa aja bilang sama aku lansung."
"Sudahlah, intinya kamu yang tidak bisa di tegur, kamu terlalu ngeyel." ucap Zico dengan kesal.
"Sudahlah hidup aku tidak ada hubungannya dengan kamu."
__ADS_1
"Kamu bilang apa? tidak ada hubungannya dengan kamu? lalu apa status kita ini? kamu pikir ini main - main." ujar Zico.
Zico mencoba menenangkan emosinya. Dia ingat apa nasihat papanya. Namun melihat wajah Dania yang mengesalkan itu membuat dia emosi.
"Sudahlah, besok aku memohon kepada kamu jika ada yang datang, kamu pakai baju yang layak,setidaknya kamu meniru Khalifah kakak iparmu itu." ujar Zico.
Dania semakin kesal mendengar nama Khalifah di sebut disana. Dia tau maksud lelaki itu membandingkan dia dengan kakak iparnya.
Dania berjalan menuju dapur karena teringat pesan mama mertuanya. Dia yakin sebentar lagi mertuanya akan kembali ke rumah untuk makan siang.
Namun Dania terdiam berdiri di sana. Dia tidak tau apa yang harus di lakukannya.
"Ko sini dulu." panggil wanita itu dengan gengsi.
Zico berjalan mendekati istrinya. Dia tau bahwa istrinya membutuhkan bantuannya.
"Bagaimana cara menghidupkannya?" tanya Dania menunjuk kompor di depannya.
Zico tersenyum dalam hatinya saat mengetahui bahwa wanita itu tidak tau sama sekali bagaimana cara menghidupkan kompor. Zico lalu mengajarkan kepada Dania.
Ziko lansung memasak nasi karena dia tau bahwa wanita itu tidak pernah memasak nasi. Dania melihat bagaimana caranya lelaki itu mencuci beras.
"Itu di kacau, nanti gosong." ucap Zico.
Dania lansung kaget dan tidak sengaja memegang wajan yang panas.
"Auuuuu."
Zico lansung bergegas mendekati wanita itu ketika meringis kesakitan. Dia lansung memegang tangan wanita itu dengan kuatir. Dia melihat jari kelingking wanita itu melepuh.
Zico segera memberikan salep di meja makan. Sedangkan Dania merasa terharu melihat lelaki itu mengobatinya. Apalagi wajah lelaki itu begitu dekat dengannya.
"Ganteng." bathinnya.
"Sakit?" tanya Zico.
Dania hanya menjawab dengan anggukan.
"Ini belum seberapa dengan api neraka." ucap lelaki itu membuat Dania kembali memasang wajah kesalnya. Dia tau lelaki itu menyindirnya.
"Lagian manasin lauk itu sebenarnya bisa pakai microwave, itu yang ada di sana." tunjuk Zico.
Dania semakin kesal karena baru di beri tau.
"Jika tau ada yang lebih gampang kenapa tadi dia diam aja?" bathin Dania.
"Di depan suami tidak boleh memasang wajah kesal, nanti di lalap api neraka,mau??"
Dania tidak menjawab pertanyaan suaminya. Dia malas untuk berdebat lagi dengan suaminya.
"Mandi dan ganti baju dengan yang aku belikan tadi, pakai baju yang sopan, Apalagi ada papa."
__ADS_1
"Hmmmmm."
Dania lansung beranjak dari duduknya menuju kamarnya. Dia juga tidak lupa membawa paketnya.Sedangkan Zico melanjutkan sisa pekerjaan Dania.