
Dania baru saja bangun dari tidurnya. Tubuhnya terasa lelah sekali. Sudah beberapa hari terakhir dia tidur di rumah sakit dan membuat tubuhnya sakit - sakit semua.
Dania berjalan ke luar dari kamarnya karena perutnya terasa lapar. Dania berdiri di tangga dan kaget melihat ada ibu mertuanya dan mamanya sedang berbicara. Dania tidak tau apa yang mereka bicarakan.
"Bagaimana jika Zico nggak bangun - bangun? Aku agak takut dia pergi untuk selamanya, kasihan Jema." ucap Mama mertuanya.
"Iya, saya juga kaget pas jeng telpon kasih tau bahwa detak jantung Zico berhenti."
Dania kaget mendengar ucapan mamanya. Dia tidak tau sama sekali bahwa sang suami sempat berhenti denyut jantungnya.
"Aku harus ke sana."
Dania membalikkan tubuhnya untuk menuju kamarnya kembali. Namun langkahnya terhenti karena mendengar ucapan mertuanya.
"Jika Zico pergi untuk selamanya aku berharap kita masih bisa besanan, aku ingin Jema mempunyai papa yang peduli dengannya, aku ingin Dania menikah dengan Alfi, gimana menurut jeng?"
"Aku juga berpikir seperti itu, akan tetapi rasanya kurang elok kita berpikir seperti itu, lebih baik kita doakan Zico cepat bangun."
"Aku hanya berpasrah saja,sebab jarang ornag yang panjang umur jika sudah pernah berhenti detak jantungnya."
Air mata Dania mengalir begitu saja. Dia begitu takut untuk kehilangan sang suami.
Dia bergegas menuju ke kamarnya. Dia mengganti bajunya dengan cepat tanpa mandi terlebih dahulu.
Dania sedikit berlari karena takut tidak bertemu dengan suaminya. Dia hanya berpamitan kepada kedua wanita yang masih mengobrol di ruang tengah.
Mama dan mertuanya agak bingung melihat Dania yang terburu-buru.
Dania agak pusing ketika di dalam. Mobil. Dia mengelus perutnya dengan lembut. Dia tau bahwa harus cepat mencari sarapan jika tidak mau tumbang.
"Aku harus ke ruangan ma Zico dulu,setelah aku memastikan bahwa dia baik - baik saja baru deh cari makan ke kantin."
Dani bergegas turun dari mobil menuju ruangan Zico. Dia tidak sabar ingin bertemu sang suami.
Ceklek.
Pintu terbuka menampakkan Zico yang masih tidur. Tidak ada siapa - siapa di sana.
Dania melangkahkan kakinya menuju ranjang rumah sakit. Dia menatap suaminya dengan perasaan sedih. Tiba-tiba kepalanya terasa berat. Dan semua gelap.
...****************...
Alfa yang baru saja dari kantin rumah sakit kaget melihat kakak iparnya sudah berada di lantai. Dia mempercepat langkahnya untuk memeriksa keadaan kakak iparnya.
__ADS_1
"Kak bangun." panggil Alfi.
Walaupun secara umur tua dirinya namun dia tetap memanggil Kakak kepada Dania.
"Pingsan."
Alfi segera memanggil dokter dan perawat agar bisa menangani kakak iparnya. Dokter dan perawat cekatan dalam memberikan penanganan kepada Dania.
Alfi juga mengabari sang mama bahwa Dania dalam penanganan media. Dia agak bingung berada dalam kondisi seperti ini.
Alfi melihat dokter memasang selang infus di pergelangan tangan Dania. Dia masih memantau dari luar.
"Kenapa dengan kakak ipar saya dok?" tanya Alfi kepada dokter.
Ketika dokter mau menjawab mamanya dan Mamanya Dania juga telah sampai di rumah sakit.
"Kenapa ini fi?"
"Ini aku baru tanya dokter ma." jawab Alfi.
"Sepertinya pasien ini sekarang dalam keadaan perut kosong, dan saya sarankan agar pasien di bawa ke dokter obgyn." ucap dokter yang bernama Romi itu.
Alfi tau nama dokter dari name tag yang tergantung di bajunya.
"Saya curiganya pasien sedang hamil Bu, untuk menindaklanjuti diagnosa saya lebih baik di periksakan ke dokter obgyn."
Mendengar diagnosa sementara semua keluarga ada kegembiraan. Tidak begitu lama Daniel dan Khalifah juga telah berada di sana. Mereka mendapatkan telepon dari mamanya ketika Dania pingsan tadi.
Dania juga sudah di bawa ke dokter obgyn. Dania juga sudah siuman ketika infus berjalan seperempat tabung.
Dokter obgyn lansung melakukan USG agar lebih jelas.
"Alhamdulillah, ibu akan menjadi seorang ibu." jawab dokter tersebut.
"Alhamdulillah dok."
Ketika semua keluarga sedang berbahagia, berbeda dengan Dania. Dia hanya murung tidak tau apa yang di pikirkan.
"Apa yang ibu pikirkan? Ibu seperti tidak senang dengan kehamilan ini?" tanya sang dokter kepada Dania.
Semua keluarga baru menyadari bahwa Dania tidak tersenyum mendengar bahwa dia hamil.
"Kamu kenapa?" tanya Daniel mendekati kembaran dan saudara satu - satunya.
__ADS_1
"Aku nggak tau Dan, aku senang anak ini ada, tapi aku tidak senang karena papanya masih belum sadar, aku takut menjalani kehamilan sendirian lagi seperti hamil Jema."
Daniel melihat ada air mata yang menetes di pelupuk mata Dania. Dia tau betapa beratnya yang dialami wanita itu di masa dulu.
"Kamu harus yakin bahwa Zico akan sembuh, jika kamu tidak yakin bagaimana suami kamu punya kekuatan untuk sembuh."
"Tapi aku dengar mas Zico tadi malam denyut jantungnya berhenti."
"Dania percaya sama takdir Allah, jika Allah menghendaki Zico hidup maka apapun yang terjadi maka dia akan tetap ada bersama kita."
"Benar Dania, kamu jangan patah semangat."mama mertuanya mengusap kepala menantunya.
Entah kenapa hal itu membuat Alfi serasa cengeng. Matanya memerah meninggalkan ruangan itu. Dia berjalan menuju kamar inap abangnya.
Dia berpapasan dengan Kesya saat menuju kamar inap abangnya. Kesya merasa heran karena Alfi tidak menegurnya sama sekali.
"Tumben sombong amat, tadi aja gatel banget pengen kenal." gumamnya.
Kesya menatap kemana langkah kaki lelaki itu. Dia tidak sadar membalikkan badannya dan kakinya mengikuti Alfi selangkah demi selangkah.
Alfi membuka pintu kamar inap Zico. Dia berjalan menuju ranjang Zico.
"Bang tau nggak istri Abang lagi bersedih z aku serius jika Abang nggak bangun dengan cepat, aku bawa kabur istri Abang, biar aku bahagiakan dia." ucapnya dengan nada agak tinggi.
Kesya kaget mendengar ucapan Alfi. Namun dia merasa dengan cepat membalikkan badannya kembali untuk menjauhi ruangan itu karena dia merasa bahwa itu privasi pasien.
"Apa yang terjadi sehingga dia tampak kacau begitu?" pertanyaan Kesya dalam hati.
Tidak berapa lama Kesya berpapasan dengan Dania dan keluarganya. Kesya melihat Dania menggunakan kursi roda dan sedang di dorong oleh Daniel.
"Itukan istri pak Zico, Siapa yang mendorong kursi rodanya? tampan amat." Kesya terkesima dengan ketampanan Daniel.
Kesya akui ini lebih tampan dan kharismatik dari Alfi. Walaupun Alfi, Zico dan Daniel sama - sama ganteng, akan tetapi bagi Kesya ia jatuh hati kepada Daniel.
"Selamat pagi buk." sapa Kesya kepada Dania.
"Pagi sus." jawab Dania.
"Kenapa dengan ibu? apa yang terjadi?"
Kesya menang tidak tau bahwa Dania sempat pingsan tadi pagi. Karena ia tadi keluar ada urusan.
"Ini tadi dia pingsan sus, Alhamdulillah ternyata hamil, semoga suaminya cepat pulih ya sus." jawab mama Zico.
__ADS_1
"Aamiin, kami akan selalu mendoakan Bu."